BANG MUNROKHIM, dlm tulisannya melupakan dua hal yg sangat penting.

Nomor 1: Beliau samasekali tidak meliat kenyataan di lapangan yaitu bhw
negara2 Islami pd umumnya kere. Kenafa? Krn sistim ekonominya
ambur-adul. Apapun sistim yg mereka pake ternyata kalah oleh ulah para
raja, sultan, emir dan khalif Islami mereka yg rata2 serakah dan hanya
mementingkan diri sendiri.

Nomor 2: Beliau juga menyatakan bhw sistim ekonomi Islami perlu didukung
oleh REGULASI. Artinya sistim ekonomi Islami yg tentunya berdasar
kebijaksanaan Aulloh perlu perlindungan dari hukum/regulasi sekuler
buatan manusia.

Gabriela Rantau

--- In zamanku@yahoogroups.com, "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Refleksi: Bukankah agama  mengatur untuk keindindahan hidup di dunia
seberang  dan ekonomi duniawi tidak termasuk pokok utamanya.  Seandianya
ekonomi duniawi diutamakan berarti sejak lama  dunia beragama telah
makmur aman sentosa, tetapi ternyata selama ini terjadi bunuh-bunuhan
dan bakar-membakar, saling membom  dan merusak antara satu dengan lain,
akibatnya kemakmuran adalah hanya fatamorgana.
>
> Jawa Pos
> Sabtu, 18 Oktober 2008 ]
>
>
> Antiserakah, Ekonomi Islam Nirkrisis
> Oleh Munrokhim Misanam *
>
>
> Sebelum melakukan telaah terhadap krisis yang sedang terjadi dari
sudut pandang ekonomi Islam, marilah kita melakukan overview singkat
terhadap prinsip dasar ekonomi Islam. Ekonomi Islam adalah suatu sistem
yang built-in dalam kehidupan ini. Setiap hukum-hukum yang ada tidak
diperoleh dari hasil pemikiran manusia. Pemikiran manusia hanya
menjabarkan lebih lanjut sehingga menjadi suatu konsep yang operasional.
>
> Sebagaimana spirit dari setiap agama, Islam menuntun dan menuntut
penganutnya untuk berperilaku sebagaimana yang ditentukan agar terbentuk
suatu sistem kehidupan yang seimbang, keadilan demi mencapai harmoni.
Untuk itu, prinsip dasar yang dikembangkan Islam bukan maksimisasi
(maksimisasi kepuasan ataupun keuntungan), melainkan moderasi.
>
> Selain itu, sistem ekonomi Islam mempunyai spirit sosialis, tetapi di
pihak lain menggunakan mekanisme yang sama yang digunakan ekonomi Barat,
yaitu mekanisme pasar.
>
> Dalam Islam, mekanisme pasar dianggap sebagai hukum alam yang ikut
menopang terselenggaranya kehidupan manusia. Oleh karena itu, pasar
dibiarkan bergerak bebas sesuai dengan hukum-hukum alam tentang pasar.
>
> Namun, jika terjadi pergerakan dalam pasar yang akan merugikan
masyarakat banyak, otoritas moneter diperbolehkan campur tangan, tetapi
dengan skala secukupnya. Tidak berlebihan. Intervensi itu pun harus
semaksimum mungkin dilakukan dengan mengikuti mekanisme pasar sehingga
sifat market friendliness tetap terjaga. Pada prinsipnya, pasar boleh
dibiarkan bebas, tetapi tetap dikawal oleh moral.
>
> Antiserakah
>
> Berdasar deskripsi seperti di atas maka keserakahan tidak boleh
terjadi dalam berekonomi dalam Islam. Hal itu berbeda dengan ekonomi
Barat yang justru sebaliknya. Itu bisa dilihat dari pendapat Adam Smith,
yang diangkat sebagai bapak ekonomi di Barat. Dalam bukunya yang
terkenal sebagai The Wealth of Nation, dia dengan jelas mengatakan bahwa
ekonomi bisa mengalami pertumbuhan dengan memperoleh dorongan dari
keserakahan manusia. Maknanya, jika manusianya serakah, ekonomi akan
bisa tumbuh, suatu konsep yang rasanya kurang tepat bagi kita sebagai
bangsa Indonesia.
>
> Keserakahan itu pulalah yang memicu krisis di Amerika saat ini.
Kelompok subprime customer sebenarnya belum benar-benar mampu untuk
membeli rumah. Belum layak memperoleh kredit perumahan.
>
> Tetapi, karena dunia perbankan yang serakah ingin segera meraih
pertumbuhan keuntungan yang cepat, mereka tetap diberi akses walaupun
dengan perhitungan manajemen risiko yang memadai. Salah satu di
antaranya adalah dengan selisih bunga yang tinggi dibandingkan dengan
beban bunga yang dikenakan kepada prime customer.
>
> Hal itu sebenarnya sudah menjadi concern dari banyak pihak di Amerika.
Mereka sebelumnya sudah mendesak pemerintah untuk segera turun tangan
sebelum terjadi krisis. Namun, karena pemerintahan Bush yang khas
Republican -sangat antiintervensi-, hal itu dibiarkan saja.
>
> Dalam Islam, seseorang tidak diperbolehkan mengonsumsi sesuatu dalam
jumlah yang berlebihan (israf) walaupun secara finansial dia mampu
melakukannya. Lebih tidak boleh lagi adalah mengonsumsi barang/jasa
dalam jumlah yang berada di luar batas kemampuannya.
>
> Kelompok subprime customer yang nyata-nyata belum mampu untuk membeli
rumah, menurut Islam, tidak diperbolehkan untuk melakukannya walaupun
melalui kemudahan kredit.
>
> Di depan kita ketahui, pihak perbankan menerbitkan surat berharga yang
di-back-up oleh kredit rumah (mortgage), yang kemudian menjadi pendorong
intensitas krisis yang buruk.
>
> Menurut prinsip ekonomi Islam, terdapat dua hal yang dilanggar dalam
kasus tersebut. Pertama, tindakan yang dilakukan sama halnya dengan
''menjual'' utang kepada pihak lain. Kedua, setiap lembar surat berharga
yang diterbitkan harus mencerminkan produksi riil. Surat berharga yang
di-back-up oleh utang (mortgage) sebagaimana yang dilakukan perbankan di
Amerika tidak memenuhi ketentuan tersebut.
>
> Dukungan Legislasi
>
> Jelas sekali, jika prinsip ekonomi Islam -sebagaimana didiskusikan di
muka- diterapkan, sangat mungkin tidak terjadi badai krisis seperti yang
sedang dialami Amerika saat ini.
>
> Untuk melakukan hal itu, perlu dukungan legislasi berupa peraturan
perundangan yang merupakan payung hukum bagi setiap regulasi yang
diambil.
>
> Dalam hal ini, harus ada regulasi mengenai subprime customer dalam
kaitannya dengan kredit. Misalnya, jumlah cicilan plus bunga tidak boleh
melebihi persentase tertentu dari total pendapatan. Jika ketentuan itu
tidak terpenuhi, bank tidak diperbolehkan untuk memberikan kredit.
>
> Contoh lain, mengingat Islam melarang kegiatan spekulasi di bidang apa
pun, perdagangan saham harus dibuat mekanisme tertentu. Dalam hal ini,
jika terdapat pertanda terjadinya kegiatan spekulasi seperti rush
selling, atau hal-hal yang lain, pasar harus segera ditutup sementara
(suspended).
>
> Contoh yang lain, untuk menghindari bubble economic yang membahayakan
perekonomian, perlu ada aturan tentang kewajaran transaksi, baik jumlah
maupun harganya. Sebab, Islam melarang transaksi yang tidak wajar, baik
dalam hal harga maupun jumlah.
>
> Contoh selanjutnya ialah transaksi valas yang ditujukan untuk kegiatan
spekulasi harus memperoleh ''penalti'' berat dalam bentuk pajak
progresif. Sebab, spekulasi dilarang dalam Islam.
>
> Rasa keadilan dari setiap manusia menuntut dilakukannya hal tersebut
karena spekulan valas bisa meraup keuntungan dalam jumlah yang sangat
besar dalam waktu singkat, sementara kegiatan spekulasi yang mereka
lakukan berakibat memburuknya ekonomi semua masyarakat. Untuk itu,
pemajakan tersebut diperlukan untuk meredistribusikan pendapatan kepada
kelompok yang dirugikan, yaitu masyarakat dan rakyat.
>
> Jika semua nilai-nilai Islam dalam ekonomi diekspresikan dalam aturan
formal, sangat mungkin perekonomian kita jauh dari ancaman krisis
sebagaimana yang sedang terjadi.
>
> Semoga badai krisis keuangan di Amerika -yang sangat mungkin terulang
dalam bentuk lain di masa-masa mendatang- mampu membuka mata kita untuk
ikhtiar dan ijtihad. Yakni, perlunya penerapan sistem ekonomi yang mampu
menciptakan kestabilan guna menciptakan keadilan dan harmoni.***
>
> *. Munrokhim Misanam PhD, direktur Pascasarjana Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Indonesia (FE UII) Jogjakarta. Alumnus Rensselaer
Polytechnic Institute (RPI), New York, AS
>

Kirim email ke