----- Original Message ----- 
  From: Ibu Bambang 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
zamanku@yahoogroups.com 
  Sent: Thursday, October 23, 2008 2:53 PM
  Subject: [mediacare] Pelajaran berharga untuk dipelajari saat ini dari 
konflik di Sudan


  Akankah Indonesia bernasib sama seperti Sudan ???

  Silahkan baca di bawah ini 

  reff : 
http://www.thejakartapost.com/news/2008/10/22/valuable-lessons-learn-now-sudan-conflict.html
 
  Pelajaran berharga untuk dipelajari saat ini dari konflik di Sudan


  Sudan mungkin sejak lama dilupakan oleh masyarakat dunia jika tak terjadi 
konflik di Darfur. Beberapa waktu lalu, saat turut berpartisipasi dalam 
konferensi di luar negri, saya memiliki kesempatan berjumpa dengan seorang 
profesor dari barat yang diutus oleh PBB untuk membantu menyelesaikan sengketa 
di Darfur.

  Sang profesor, seorang ahli masalah Sudan, tak habis pikir, "Orang-orang yang 
bertikai di Darfur itu semuanya Muslim, bahkan mereka berasal dari sekte yang 
satu dan sama pula."

  PBB memperkirakan konflik tersebut telah menyebabkan 500.000 nyawa melayang 
akibat tindak kekerasan dan wabah penyakit dalam rentang waktu kurang dari 5 
tahun. Bahkan dari pihak LSM menyatakan bahwa jumlah korban meninggal 
setidaknya 2 kali lipat dari yang perkiraan PBB. Jutaan orang mati sia-sia.

  Kekeringan dianggap sebagai salah satu penyebab utama konflik di Darfur. 
Penduduk lokal Baggara dari Darfur terpaksa memindahkan peternakannya ke arah 
selatan. Di daerah yang dikuasai oleh komunitas peternak kulit hitam Afrika.

  Rivalitas dan kompetisi antara kedua komuntas tersebut memicu terjadinya 
konflik di Darfur. "Sekarang," ujar Sang profesor, "tak jelas siapa berperang 
melawan siapa. Orang-orang yang berasal dari komunitas yang sama bisa saling 
bunuh-membunuh hanya demi sepetak tanah dan sebuah sumur."

  Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon menganggap pemanasan global sebagai 
penyebab konflik di Darfur.

  Tapi, pertanyaan pokoknya ialah: Apakah Sudan, di seluruh dunia, satu-satunya 
negara yang menderita kekeringan? Jawabannya: Tidak. Jadi, konflik di sana sama 
sekali tak masuk di akal.

  Rakyat Sudan, di bawah pemerintahan Presiden Omar al-Bashir, bukanlah negara 
demokratis. Pejabat yang tak populis ini telah dihukum karena kejahatan perang 
melawan rakyatnya sendiri oleh Dewan Kriminal Internasional.

  Anehnya, ketika hakim Luis Moreno-Ocampo meminta kepada anggota Dewan yang 
sama untuk mengeluarkan surat penahanan terhadap al Bashir, ia justru dikritik 
habis-habisan. Siapa para pengkritiknya? Kenapa mereka membela si diktator dan 
bukannya memihak rakyat Sudan? Apa kepentingan mereka?

  Baru-baru ini, Sudan dilaporkan menyewakan lebih dari 800.00 hektar tanahnya 
yang paling subur kepada Saudi. Mengikuti kerajaan yang memimpin monarki kaya 
minyak tersebut, beberapa negara Teluk, termasuk Mesir, sedang dalam proses 
meneken kesepakatan serupa. Diharapkan ratusan ribu hektar tanah lainnya akan 
segera disewakan pada akhir tahun ini.

  Masa kontraknya mencapai 99 tahun. Paling tidak dua generasi rakyat Sudan 
akan hidup menderita karena keputusan yang dibuat oleh pemimpinnya tersebut.

  Sudan tak terserang kekeringan separah yang kita bayangkan. Sudan masih 
memiliki banyak daerah subur, yang tanahnya bisa diolah untuk kepentingan 
masyarakat di Darfur dan tempat-tempat lainnya. Ironisnya, pemerintah Sudan tak 
tertarik melakukan hal tersebut. Mereka lebih suka menyewakan tanah pada Arab. 
Masyarakat internasional, termasuk Paman Sam kita tercinta dan koleganya tetap 
diam menyikapi masalah ini.

  Pertambahan penduduk yang begitu cepat di daerah Teluk, kelangkaan air, dan 
inflasi harga pangan memaksa Arab untuk mengembangkan pertanian di luar negri. 
Tak hanya di Sudan, tapi juga di negara-negara lain, Pakistan juga menjadi 
salah satu targetnya.

  Berdasarkan laporan dari Komoditi Online, inflasi di Saudi telah menyebabkan 
masyarakat diam (apatis); ini ancaman bagi pihak monarki, yang di atas 
segalanya sangat takut pada revolusi.

  Menurut data dari think tank Pusat Penelitian Teluk di  Dubai, Arab Saudi 
membutuhkan 1.212  meter kubik air tanah hanya untuk memproduksi 1 ton barley. 
Hal ini menyebabkan Saudi tak memiliki pilihan lain selain berhenti mengolah 
tanah di wilayahnya sendiri. Mereka musti mencari sumber pasokan pangan di 
tempat lain.

  Tak banyak dari kita yang tahu bahwa inflasi di kerajaan tersebut mencapai 
angka 10,6 persen pada bulan Juni lalu. Alasannya: harga kebutuhan pangan 
melonjak.

  Situasi di negara-negara Teluk lainnya tak lebih baik, karena 60 persen bahan 
pangan mereka pun harus diimpor.  Kita juga banyak yang tak tahu bahwa di Uni 
Emirat Arab sana hanya 1 persen lahan yang bisa ditanami, sedangkan di Arab 
Saudi sedikit lebih baik, angkanya mencapai 3 persen.

  Daerah Teluk memang tak kondusif untuk mengembangkan pertanian, sehingga 
masyarakat di sana sangat tergantung pada bahan pangan impor, mereka mampu 
membeli di pasar bebas dengan harga internasional tanpa banyak kesulitan.

  "Tetapi, kalau di masa depan minyak dan sumber alam lainnya habis, maka 
daerah ini tak akan bisa mempertahankan tingkat ketergantungan pada persediaan 
bahan pangan dari luar tersebut," ujar Shoaib Ismail, seorang agronomis kondang 
yang tergabung dalam Internasional Center for Biosaline Agriculture di Dubai 
saat diwawancarai oleh Inter Press Service.

  Ismail juga mengatakan bahwa negara-negara Teluk telah bekerjasama dengan 
negara-negara berkembang yang memiliki budaya, agama, dan latar belakang 
politik yang sama, dan dengan mereka pula sudah meneken kesepakatan jangka 
panjang. Ditambahkan, "Mereka dapat memperoleh bahan mentah dengan harga yang 
relatif murah, dan ini bisa mengurangi ketergantungan pada negara-negara barat…"

  Mari kita membaca tulisan di atas dinding. Apa yang sebenarnya terjadi di 
balik konflik Darfur? Pada 1970-an negara-negara Teluk tak berhasil 
percobaannya untuk merubah Sudan menjadi keranjang makanan mereka setelah 
Amerika mengancam hendak menghentikan pasokan makanan serta memboikot produk 
minyak. Saat itu mereka gagal, sekarang mereka berhasil.

  Sekarang, apa sebenarnya yang terjadi di balik konflik-konflik di negara kita 
ini? Apa sebenarnya yang terjadi ketika para pelaku bom Bali menikmati status 
sebagai tamu-tamu negara, RUU porno, dan isu "aliran sesat"? Pertimbangkan juga 
meningkatnya kunjungan pejabat kita ke Timur Tengah, dan petro dollar yang 
dikucurkan atas nama agama, pendidikan, dan tentu saja investasi.

  Terimakasih kepada ketidaktsadaran kita dan kealpaan pejabat serta pemimpin 
kita, pelan-pelan seluruh bangsa dan negara diperbudak baik secara budaya dan 
ekonomi. Kekuatan kegelapan dari iblis dan kepentingan pribadi bekerjasama 
untuk memecah-belah bangsa ini, sehingga akan lebih mudah bagi mereka untuk 
menguasai sumber daya kita. Kita, rakyat Indonesia harus bangkit dan bersuara 
lantang melawan kebatilan semacam itu. Dan, waktu untuk melakukan itu ialah 
saat ini, atau tidak sama sekali.




  Anand Krishna :

  The writer is a spiritual activist (www.anandkrishna.org, www.aumkar.org, 
www.californiabali.org). 

   

Kirim email ke