Ekonomi Syariah Juga Dinamakan Ekonomi Lintah Darat
                                             
Praktek ekonomi Syariah juga disebut sebagai ekonomi penjarah !!!
Islam tidak mengenal sejarah masa lalunya karena semua catatan masa
lalunya yang dicatat oleh orang2 kafir dimusnahkan karena dianggap
haram.  Sejarah dan masa lalu Islam dan tanah Arab sebenarnya berasal
dari negara2 tetangganya yang bukan Islam seperti catatan2 Yahudi,
Romawi, Babylonia, Persia, maupun China.  Catatan2 mereka inilah yang
belakangan ditemukan oleh para sarjana barat yang melakukan
penyelidikan dan penggalian2 purbakala di Arab berkedok sebagai ahli2
perminyakan yang bekerja di-perusahaan2 minyak Inggris.  Jutaan
batu2an, patung2an, barang pecah belah dll yang berhasil diangkut ke
Inggris tanpa diketahui oleh orang2 Arab dan Islam ditempatnya.

Islam sesungguhnya tidak mengenal ajaran ekonomi.  Perdagangan dulu
dizaman Muhammad hanyalah melalui barter, belum ada uang, belum ada
bacaan maupun tulisan, tak ada yang bisa membaca seperti juga nabi
Muhammad yang buta huruf.

Dulu belum ada barang produksi manusia yang bisa dijual, yang dijual
umumnya hasil bumi yang didagangkan melalui tukar menukar hasil bumi
itu sendiri.

Wajar kalo dizaman tsb belum ada istilahnya meminjam uang yang ber-bunga2.

Ekonomi Syariah sama sekali tidak ada specifikasinya selain
kapitalistik.  Bahkan ajaran Muhammad yang aseli tidak mengenal hukum
riba.  Hukum Riba yang tertulis dalam ayat2 Quran sebenarnya ditulis
oleh para pendeta2 Vatican yang bertujuan agar orang2 Arab jangan mau
membayar Riba kepada orang2 Yahudi.  Islam dan Arab tidak mengenal
riba, dan pedagang2 Yahudi inilah yang memperkenalkan riba kedalam
Islam dan masyarakat di Arab dulunya.

Praktek lintah darat pertama kali dilakukan oleh tuan2 tanah di Cina,
baru kemudian praktek ini ternyata tidak effisien dalam pengembangan
ekonomi maupun pasar.  Barulah setelah dilarangnya perbudakan, lintah
darat mulai berkembang pesat diBarat karena perdagangan sudah dimulai
dengan mata uang.

Lintah Darat masuk dan dikenal oleh para petani Indonesia dimulai
melalui masuknya VOC ke Indonesia.  Waktu itu meskipun Islam juga
sudah masuk ke Indonesia, namun belum ada seorang muslimpun yang
pernah membaca Quran karena Quran dicetak pertama kali pada tahun 1638
oleh seorang pendeta Vatican di Venice.  Meskipun pertama kali dicetak
namun belum ada satupun quran yang masuk ke Indonesia karena Quran
yang pertama dicetak itu kesemuanya berjumlah sekitar 1000 buku yang
diberikan kepada Kaisar Ottoman di Turki.  Pada mulainya Kaisar
Ottoman menolak Quran tsb karena sejak dizaman Muhammad dilarang
menulis wahyu suci kedalam kulit kambing atau dimanapun juga.

Islam bukan cuma melarang umatnya melukis tapi juga melarang umatnya
untuk menulis.  Quran dianggap wahyu Allah yang berdosa apabila ada
yang mencoba menulisnya.  Itulah sebabnya, banyak Quran2 bertulis
tangan yang ditemukan dibumi ini tapi tidak ada satupun yang berasal
dari Arab atau ditulis orang di Arab dimana pernah nabi Muhammad
hidup.  Semua Quran bertulis tangan yang tertua hanya bisa ditemukan
di Asia Tengan dan Timur Tengah.  Semua Quran yang dikatakan tertua
umurnya yang dipajang di musium2 Iskandaria, Cairo, Islamabad,
Turkestant dan lain2 itu ternyata isinya tidak sama dengan Quran yang
anda kenal sekarang didunia ini.  Isi Quran2 di musium itu tidak
lengkap isinya, bahkan tidak ada satupun yang bisa dibuka lembaran2nya
karena saking tuanya apabila dibuka akan hancur ber-keping2.  Untuk
melestarikannya itulah Quran2 itu kemudian di perkamen sehingga tidak
mungkin lagi bisa dibuka dan dibaca isinya.  Yang bisa dibaca hanyalah
sampul luar nya yang bertulisan Quran.

Demikianlah, hukum Riba baru muncul dalam Quran yang dicetak pendeta
Vatican yang bernama Paganino and Alessandro Paganini in 1537/1538.

Praktek lintah darat itu bukan membungakan uang, melainkan membeli
panenan sebelum panen dimana para petani diberi pinjaman dana ataupun
bibit yang harus dibayar balik sehabis panenan.  Jumlah yang harus
dibayar kembali menjadi berlipat ganda yang bila si petani tidak mampu
maka hasil panennya itulah yang dijadikan jaminan/borg atau agunan. 
Praktek lintah darat di Indonesia sama sekali tidak membunuh petani
bahkan kerja sama yang baik terjadi antara para petani dan para lintah
darat ini.  Apabila panennya gagal, maka pembayarannya bisa ditunda
pada panenan selanjutnya.

Demikianlah praktek Lintah Darat ini mulai dilarang pemerintah RI
setelah kemerdekaan karena system perbankan mau dikembangkan dan
dimajukan pemerintah RI sehingga perlu menghapuskan praktek lintah
darat yang tradisional ini untuk digantikan dengan praktek perbankan
dengan interest bank.

Meskipun system perbankan di Indonesia berasal dari Barat, namun
prakteknya lebih mencekik daripada praktek lintah darat tradisonal ini
karena dalam praktek lintah darat tradisional tidak dikenal bunga
sekian perwen melainkan dinilai dari hasil panennya.

Cara lintah darat inilah yang digunakan dalam System Ekonomi Syariah
sekarang ini dimana tidak ada interest seperti juga meminjamkan uang
kepada para petani bukan dibayar dengan uang ditambah bunganya tetapi
dibayar dengan hasil panennya yang oleh kaum ulama sekarang dinamakan
pembagian keuntungan bukan riba.

Namun cara Bank Syariah ini sekarang ini disesuaikan yaitu merupakan
gabungan praktek bank dan praktek lintah darat.  Bank Syariah
meminjamkan uang kepada para petani tanpa bunga, tetapi uang yang
dipinjam itu dihitung harga dan luas sawahnya berapa hektar bukan
dihitung nilai panenannya.  Tanah sawahnya inilah yang dijadikan
jaminan, apabila panenannya berhasil si petani harus menjual sendiri
panennya sementara bank menerima pengembalian pinjaman ditambah
pembagian keuntungan yang biasanya fifty2.  Artinya kalo si petani
meminjam Rp1000 kepada bank Syariah, dan hasil panennya berhasil
dijual seharga Rp5000, maka keuntungannya adalah Rp4000, dan hasil
keuntungan inilah kemudian dibagi antara bank dan peminjam dimana
masing2 mendapatkan Rp2000.  Dari hasil pembagian keuntungan ini
apabila dipersentasekan maka nilainya sama dengan 200%.

Lalu apa yang terjadi kalo panennya gagal, tidak seperti pada praktek
lintah darat tradisional dizaman dulu dimana sipemilik uang akan
dibayar dengan hasil panen yang akan datang.  Praktek Bank Syariah
lebih biadab dari lintah darat tradisional karena apabila panennya
gagal maka Bank Syariah tidak mungkin menunggu panen yang akan datang
karena jumlah pinjaman tanpa bunga itu ada batas waktunya dimana kalo
pada batas waktu bersama perpanjangannya belum juga berhasil uangnya
dikembalikan maka jaminan tanah sawah ber-hektar2 itu disita oleh bank
syariah untuk dijualnya secepatnya untuk mengembalikan uang sebesar
pinjaman yang dipinjamnya dan kelebihan harga penjualan sawahnya itu
nantinya dikembalikan kepada sipetani namun si petani sudah tidak lagi
memiliki tanahnya.

Demikianlah, yang dinamakan riba adalah praktek lintah darat
tradisional yang dilarang pemerintah karena menyaingi praktek BI
sewaktu pertama kali Indonesia merdeka, namun praktek bank syariah
tanpa bunga ini sebenarnya melebihi kebiadaban lintah darat
tradisional ini karena pembagian keuntungan itu harus benar2 untung
dimana kalo tidak ada keuntungan dan uang pinjaman tidak mampu
dikembalikan maka jaminan sawahnya disita oleh bank Syariah.

Namun perkembangan ekonomi Barat belakangan juga mengembangkan
praktek2 Syariah dalam ekonomi penjarahan ini.  Pinjam meminjam uang
bukan lagi terbatas untuk modal pembelian bibit dan pupuk melainkan
juga untuk pembelian rumah, pembelian budozer, traktor, mobil,
termasuk semua kebutuhan konsumsi yang sangat luas dimana barang2 yang
dibelinya itu dijadikan jaminan peminjaman uang.

Tulisan ini sama sekali bukan untuk menghina agama Islam tapi bukan
juga untuk membanggakan agama Islam atau mempropagandakannya. Semua
yang saya tulis merupakan realitas yang bebas dari religious prejudice
yang hanya berorientasi pada kenyataan sejarah yang sebenarnya. 
Mengharamkan riba adalah sama sekali bukan interest bagi umat Islam
melainkan interest bagi para missionaris yang berniat memusuhi orang2
Yahudi dengan cara memecah belah atau mengadu domba orang2 Yahudi yang
biasa melakukan riba kepada orang2 Arab dizaman dulu.  Dengan
anti-Riba dari pihak orang2 Arab, diharapkan akan mematikan
perdagangan orang2 Yahudi yang secara tradisional sudah bersatu dalam
kerjasama turun temurun dengan orang2 Arab disekitarnya.  Dilain pihak
orang2 Arab juga jadi bisa dipisahkan dari orang2 Yahudi sehingga
kemajuan teknologi yang dibawa orang2 Yahudi tidak akan diadopsi oleh
orang2 Arab sehingga orang2 Arab tetap tertinggal disegala bidang.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke