Bu Mus(lihat),

Gak usah jauh jauh ngalor ngidul deh.

Yang disebut lintah darat ya rentenir itu. Alias pembunga uang dengan interest 
rate dan kondisi yang dia tentukan sendiri. Utang piutang ini memakai jaminan 
atau borg. Kalau debitur tidak bisa mengembalikan hutang beserta bunganya pada 
waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak, ya borg-nya diambil oleh 
rentenir. Mengapa disebut lintah darat ya karena dia bagaikan lintah yang hidup 
di darat yang menghisap darah debitur hingga sekarat sebagai gambaran kondisi 
kondisi utang piutang yang dia tetapkan sepihak sangat memberatkan debitur. 

Kalau yang membeli hasil bumi (bukan meminjamkan uang) sebelum masa panen, 
biasanya padi, itu namanya tengkulak pengijon (dari kata ijo). Jadi pengijon 
ini bisa mendapatkan harga murah karena padinya masih hijau dan masih 
mengandung resiko gagal panen. Sedangkan petani mau menjual murah karena 
terdesak kebutuhan.

Pls. be kindly informed !

Supriyadi


  ----- Original Message ----- 
  From: Hafsah Salim 
  To: zamanku@yahoogroups.com 
  Sent: Saturday, October 25, 2008 5:59 AM
  Subject: [zamanku] Ekonomi Syariah Juga Dinamakan Ekonomi Lintah Darat


  Ekonomi Syariah Juga Dinamakan Ekonomi Lintah Darat

  Praktek ekonomi Syariah juga disebut sebagai ekonomi penjarah !!!
  Islam tidak mengenal sejarah masa lalunya karena semua catatan masa
  lalunya yang dicatat oleh orang2 kafir dimusnahkan karena dianggap
  haram. Sejarah dan masa lalu Islam dan tanah Arab sebenarnya berasal
  dari negara2 tetangganya yang bukan Islam seperti catatan2 Yahudi,
  Romawi, Babylonia, Persia, maupun China. Catatan2 mereka inilah yang
  belakangan ditemukan oleh para sarjana barat yang melakukan
  penyelidikan dan penggalian2 purbakala di Arab berkedok sebagai ahli2
  perminyakan yang bekerja di-perusahaan2 minyak Inggris. Jutaan
  batu2an, patung2an, barang pecah belah dll yang berhasil diangkut ke
  Inggris tanpa diketahui oleh orang2 Arab dan Islam ditempatnya.

  Islam sesungguhnya tidak mengenal ajaran ekonomi. Perdagangan dulu
  dizaman Muhammad hanyalah melalui barter, belum ada uang, belum ada
  bacaan maupun tulisan, tak ada yang bisa membaca seperti juga nabi
  Muhammad yang buta huruf.

  Dulu belum ada barang produksi manusia yang bisa dijual, yang dijual
  umumnya hasil bumi yang didagangkan melalui tukar menukar hasil bumi
  itu sendiri.

  Wajar kalo dizaman tsb belum ada istilahnya meminjam uang yang ber-bunga2.

  Ekonomi Syariah sama sekali tidak ada specifikasinya selain
  kapitalistik. Bahkan ajaran Muhammad yang aseli tidak mengenal hukum
  riba. Hukum Riba yang tertulis dalam ayat2 Quran sebenarnya ditulis
  oleh para pendeta2 Vatican yang bertujuan agar orang2 Arab jangan mau
  membayar Riba kepada orang2 Yahudi. Islam dan Arab tidak mengenal
  riba, dan pedagang2 Yahudi inilah yang memperkenalkan riba kedalam
  Islam dan masyarakat di Arab dulunya.

  Praktek lintah darat pertama kali dilakukan oleh tuan2 tanah di Cina,
  baru kemudian praktek ini ternyata tidak effisien dalam pengembangan
  ekonomi maupun pasar. Barulah setelah dilarangnya perbudakan, lintah
  darat mulai berkembang pesat diBarat karena perdagangan sudah dimulai
  dengan mata uang.

  Lintah Darat masuk dan dikenal oleh para petani Indonesia dimulai
  melalui masuknya VOC ke Indonesia. Waktu itu meskipun Islam juga
  sudah masuk ke Indonesia, namun belum ada seorang muslimpun yang
  pernah membaca Quran karena Quran dicetak pertama kali pada tahun 1638
  oleh seorang pendeta Vatican di Venice. Meskipun pertama kali dicetak
  namun belum ada satupun quran yang masuk ke Indonesia karena Quran
  yang pertama dicetak itu kesemuanya berjumlah sekitar 1000 buku yang
  diberikan kepada Kaisar Ottoman di Turki. Pada mulainya Kaisar
  Ottoman menolak Quran tsb karena sejak dizaman Muhammad dilarang
  menulis wahyu suci kedalam kulit kambing atau dimanapun juga.

  Islam bukan cuma melarang umatnya melukis tapi juga melarang umatnya
  untuk menulis. Quran dianggap wahyu Allah yang berdosa apabila ada
  yang mencoba menulisnya. Itulah sebabnya, banyak Quran2 bertulis
  tangan yang ditemukan dibumi ini tapi tidak ada satupun yang berasal
  dari Arab atau ditulis orang di Arab dimana pernah nabi Muhammad
  hidup. Semua Quran bertulis tangan yang tertua hanya bisa ditemukan
  di Asia Tengan dan Timur Tengah. Semua Quran yang dikatakan tertua
  umurnya yang dipajang di musium2 Iskandaria, Cairo, Islamabad,
  Turkestant dan lain2 itu ternyata isinya tidak sama dengan Quran yang
  anda kenal sekarang didunia ini. Isi Quran2 di musium itu tidak
  lengkap isinya, bahkan tidak ada satupun yang bisa dibuka lembaran2nya
  karena saking tuanya apabila dibuka akan hancur ber-keping2. Untuk
  melestarikannya itulah Quran2 itu kemudian di perkamen sehingga tidak
  mungkin lagi bisa dibuka dan dibaca isinya. Yang bisa dibaca hanyalah
  sampul luar nya yang bertulisan Quran.

  Demikianlah, hukum Riba baru muncul dalam Quran yang dicetak pendeta
  Vatican yang bernama Paganino and Alessandro Paganini in 1537/1538.

  Praktek lintah darat itu bukan membungakan uang, melainkan membeli
  panenan sebelum panen dimana para petani diberi pinjaman dana ataupun
  bibit yang harus dibayar balik sehabis panenan. Jumlah yang harus
  dibayar kembali menjadi berlipat ganda yang bila si petani tidak mampu
  maka hasil panennya itulah yang dijadikan jaminan/borg atau agunan. 
  Praktek lintah darat di Indonesia sama sekali tidak membunuh petani
  bahkan kerja sama yang baik terjadi antara para petani dan para lintah
  darat ini. Apabila panennya gagal, maka pembayarannya bisa ditunda
  pada panenan selanjutnya.

  Demikianlah praktek Lintah Darat ini mulai dilarang pemerintah RI
  setelah kemerdekaan karena system perbankan mau dikembangkan dan
  dimajukan pemerintah RI sehingga perlu menghapuskan praktek lintah
  darat yang tradisional ini untuk digantikan dengan praktek perbankan
  dengan interest bank.

  Meskipun system perbankan di Indonesia berasal dari Barat, namun
  prakteknya lebih mencekik daripada praktek lintah darat tradisonal ini
  karena dalam praktek lintah darat tradisional tidak dikenal bunga
  sekian perwen melainkan dinilai dari hasil panennya.

  Cara lintah darat inilah yang digunakan dalam System Ekonomi Syariah
  sekarang ini dimana tidak ada interest seperti juga meminjamkan uang
  kepada para petani bukan dibayar dengan uang ditambah bunganya tetapi
  dibayar dengan hasil panennya yang oleh kaum ulama sekarang dinamakan
  pembagian keuntungan bukan riba.

  Namun cara Bank Syariah ini sekarang ini disesuaikan yaitu merupakan
  gabungan praktek bank dan praktek lintah darat. Bank Syariah
  meminjamkan uang kepada para petani tanpa bunga, tetapi uang yang
  dipinjam itu dihitung harga dan luas sawahnya berapa hektar bukan
  dihitung nilai panenannya. Tanah sawahnya inilah yang dijadikan
  jaminan, apabila panenannya berhasil si petani harus menjual sendiri
  panennya sementara bank menerima pengembalian pinjaman ditambah
  pembagian keuntungan yang biasanya fifty2. Artinya kalo si petani
  meminjam Rp1000 kepada bank Syariah, dan hasil panennya berhasil
  dijual seharga Rp5000, maka keuntungannya adalah Rp4000, dan hasil
  keuntungan inilah kemudian dibagi antara bank dan peminjam dimana
  masing2 mendapatkan Rp2000. Dari hasil pembagian keuntungan ini
  apabila dipersentasekan maka nilainya sama dengan 200%.

  Lalu apa yang terjadi kalo panennya gagal, tidak seperti pada praktek
  lintah darat tradisional dizaman dulu dimana sipemilik uang akan
  dibayar dengan hasil panen yang akan datang. Praktek Bank Syariah
  lebih biadab dari lintah darat tradisional karena apabila panennya
  gagal maka Bank Syariah tidak mungkin menunggu panen yang akan datang
  karena jumlah pinjaman tanpa bunga itu ada batas waktunya dimana kalo
  pada batas waktu bersama perpanjangannya belum juga berhasil uangnya
  dikembalikan maka jaminan tanah sawah ber-hektar2 itu disita oleh bank
  syariah untuk dijualnya secepatnya untuk mengembalikan uang sebesar
  pinjaman yang dipinjamnya dan kelebihan harga penjualan sawahnya itu
  nantinya dikembalikan kepada sipetani namun si petani sudah tidak lagi
  memiliki tanahnya.

  Demikianlah, yang dinamakan riba adalah praktek lintah darat
  tradisional yang dilarang pemerintah karena menyaingi praktek BI
  sewaktu pertama kali Indonesia merdeka, namun praktek bank syariah
  tanpa bunga ini sebenarnya melebihi kebiadaban lintah darat
  tradisional ini karena pembagian keuntungan itu harus benar2 untung
  dimana kalo tidak ada keuntungan dan uang pinjaman tidak mampu
  dikembalikan maka jaminan sawahnya disita oleh bank Syariah.

  Namun perkembangan ekonomi Barat belakangan juga mengembangkan
  praktek2 Syariah dalam ekonomi penjarahan ini. Pinjam meminjam uang
  bukan lagi terbatas untuk modal pembelian bibit dan pupuk melainkan
  juga untuk pembelian rumah, pembelian budozer, traktor, mobil,
  termasuk semua kebutuhan konsumsi yang sangat luas dimana barang2 yang
  dibelinya itu dijadikan jaminan peminjaman uang.

  Tulisan ini sama sekali bukan untuk menghina agama Islam tapi bukan
  juga untuk membanggakan agama Islam atau mempropagandakannya. Semua
  yang saya tulis merupakan realitas yang bebas dari religious prejudice
  yang hanya berorientasi pada kenyataan sejarah yang sebenarnya. 
  Mengharamkan riba adalah sama sekali bukan interest bagi umat Islam
  melainkan interest bagi para missionaris yang berniat memusuhi orang2
  Yahudi dengan cara memecah belah atau mengadu domba orang2 Yahudi yang
  biasa melakukan riba kepada orang2 Arab dizaman dulu. Dengan
  anti-Riba dari pihak orang2 Arab, diharapkan akan mematikan
  perdagangan orang2 Yahudi yang secara tradisional sudah bersatu dalam
  kerjasama turun temurun dengan orang2 Arab disekitarnya. Dilain pihak
  orang2 Arab juga jadi bisa dipisahkan dari orang2 Yahudi sehingga
  kemajuan teknologi yang dibawa orang2 Yahudi tidak akan diadopsi oleh
  orang2 Arab sehingga orang2 Arab tetap tertinggal disegala bidang.

  Ny. Muslim binti Muskitawati.



   

Kirim email ke