> "Supriyadi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kalau yang membeli hasil bumi (bukan meminjamkan uang)
> sebelum masa panen, biasanya padi, itu namanya tengkulak
> pengijon (dari kata ijo). Jadi pengijon ini bisa
> mendapatkan harga murah karena padinya masih hijau
> dan masih mengandung resiko gagal panen. Sedangkan
> petani mau menjual murah karena terdesak kebutuhan.


Meminjamkan uang dibayar dengan hasil bumi, namanya lintah darat.
Meminjamkan uang dibayar dengan borg/jaminan/agunan, juga dinamakan
lintah darat.

Masalah anda mau menamakan lintah darat ini sebagai pengijon atau bank
Syariah, bukan yang kita perdebatkan karena apapun namanya tetap sama
praktek2nya.

Bandingkan bank2 di Amerika, peminjaman uang itu di-bagi2 berbagai
kriteria karena tidak setiap orang bersedia memberi tahukan kepada
bank untuk apa uang itu digunakannya.

Secara umum bank2 di Amerika memberi pinjaman kepada petani tanpa
agunan, tanpa borg, tanpa jaminan, cukup dia punya KTP dan bukti
professinya dari pembayaran pajaknya atau diplomanya saja.  Kalo
ternyata pada waktu yang ditetapkan sipetani tidak bisa bayar, maka
pinjamannya barulah dikenakan bunga.

Sama saja, bukan cuma petani, setiap orang Indonesia yang sekolah di
Amerika semuanya bisa mendapatkan credit card, dan untuk memiliki
credit card tak perlu punya agunan, tak perlu punya jaminan, tak perlu
punya borg.  Biasanya pinjamannya cuma sebulan apabila lebih dari
sebulan tidak dibayar barulah kena bunga.

Jadi wajar dong ekonomi Syariah yang anti-riba ini sebenarnya identik
dengan lintah darat karena kerja lintah darat itu bukanlah dari bunga
duitnya melainkan dari agunan atau borg milik si petani itu.

Ny. Muslim binti Muskitawati.





Kirim email ke