http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=11281

Sabtu, 25 Okt 2008,



Kejagung Memastikan Eksekusi Amrozi Cs Awal November 

Amankan Cilacap, Tambah Dua Kompi Brimob
JAKARTA - Tiga terpidana mati kasus bom Bali I -Amrozi, Mukhlas, dan Imam 
Samudera- kini tinggal menghitung hari. Kejaksaan Agung memastikan, eksekusi 
terhadap trio bomber itu akan dilaksanakan pada awal November 2008.

"Upaya hukum perkara tindak pidana terorisme atas nama terpidana Amrozi dkk 
sudah final. Persyaratan formil dan materiil telah terpenuhi," ujar Kepala 
Pusat Penerangan dan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Jasman Pandjaitan dalam 
keterangan pers di ruang Sasana Pradana, Gedung Utama Kejagung, kemarin 
(24/10). 

Dengan pengumuman itu, kini terjawab sudah teka-teki pelaksanaan eksekusi tiga 
terpidana mati tersebut. Selama ini, Kejagung sering memberikan pernyataan 
berubah-ubah soal pelaksanaan eksekusi tersebut. Rencana awal, eksekusi 
dilaksanakan pada April 2008 setelah upaya PK (peninjauan kembali) ditolak 
Mahkamah Agung (MA). Tapi, dengan alasan keamanan dan persyaratan formal, 
rencana itu batal. Setelah itu, Kejagung kembali berjanji mengeksekusi Amrozi 
cs sebelum Ramadan (sebelum September), namun rencana itu juga berlalu tanpa 
tindakan. Kini, Kejagung memastikan eksekusi dilaksanakan awal November, yang 
berarti waktunya tinggal kurang lebih sepekan.

Selain memastikan waktu, Kejagung juga menetapkan tempat eksekusi. Yakni, di 
Pulau Nusakambangan, tempat penahanan mereka saat ini. Hal itu sesuai dengan 
surat persetujuan dari menteri hukum dan HAM tertanggal 16 Mei 2008. "Tempat 
eksekusi ditentukan di Nusakambangan, Cilacap," kata Jasman.

Dalam keterangannya, Jasman membacakan upaya hukum yang telah dilewati tiga 
pengebom yang menewaskan 202 orang itu. Mulai dari proses dakwaan, tuntutan, 
hingga putusan kasasi Mahkamah Agung. Termasuk upaya hukum luar biasa, yakni 
peninjauan kembali (PK) yang ditolak MA, serta hak mengajukan grasi yang tidak 
digunakan oleh tiga terpidana. Namun, Jasman tidak memberikan kesempatan kepada 
wartawan untuk melakukan tanya jawab.

Pengumuman eksekusi oleh Kejagung itu mendapat perhatian banyak media, baik 
cetak maupun elektronik. Tidak kurang dari seratus wartawan dari dalam dan luar 
negeri menjadi saksi pengumuman itu. Pengamanan di dalam Kejagung pun sedikit 
berbeda. Setiap pengendara motor harus melepas jaket di pintu gerbang Kejagung. 

Bahkan, sebelum memasuki ruang Sasana Pradana, setiap wartawan harus melewati 
alat pendeteksi logam (metal detector) yang diletakkan di pintu masuk Gedung 
Utama Kejagung. Selain personel dari keamanan dalam (kamdal) Kejagung, 
pengamanan juga dibantu petugas dari Polres Jakarta Selatan.

Anggota Tim Pengacara Muslim (TPM) Fahmi Bachmid mempertanyakan pengumuman 
tersebut. Menurut dia, penegakan hukum tidak harus dilakukan dengan melanggar 
hukum. "Kejaksaan selalu bilang proses hukum sudah penuh. Namun, kami melihat 
ada persoalan hukum yang belum terselesaikan secara jelas," katanya kepada 
koran ini tadi malam.

Dia lantas menyebut persoalan putusan peninjauan kembali (PK) Amrozi dkk. 
"Sampai detik ini, baik keluarga maupun terpidana belum menerima salinan 
putusan itu," tegasnya. Fahmi mengkritik penolakan PK yang hanya dijawab 
melalui selembar surat. Yakni surat MA No. 257/PAN/VII/2008 tertanggal 7 Juli 
2008 yang ditujukan kepada ketua PN Denpasar. Isinya menyebutkan bahwa 
permohonan PK hanya boleh diajukan sekali. "Seharusnya, (PK) itu diproses dan 
diperiksa dulu," sambungnya.

Pengacara asal Surabaya tersebut menegaskan, akan ada upaya yang dilakukan oleh 
TPM. Misalnya, mengajukan gugatan ke mahkamah internasional. "Pasti ada upaya 
hukum. Tapi akan kami bicarakan dengan keluarga dan terpidana serta anggota TPM 
lainnya," katanya.

Secara terpisah, Wakil Presiden Jusuf Kalla mendukung sikap Kejaksaan Agung 
dalam eksekusi terpidana mati kasus bom Bali. Menurut Kalla, momentum 
pelaksanaan hukuman mati harus benar-benar sesuai. Pertimbangan hukumnya juga 
harus tepat. Tidak boleh ada kesalahan.

Kalla mencontohkan beberapa eksekusi mati sebelumnya juga membutuhkan waktu 
untuk melaksanakannya. "Ada yang sampai 10 tahun baru dieksekusi. Ini 
semata-mata karena pertimbangan hukum dan momentum. Tidak pernah karena 
ragu-ragu," kata Kalla dalam keterangan pers di Kantor Wakil Presiden kemarin.

Mengenai pengumuman Kejagung tentang pelaksanaan hukuman mati bagi Amrozi cs, 
Kalla menyerahkan sepenuhnya kepada Kejaksaan Agung. Dalam urusan hukum, kata 
Kalla, pemerintah tidak akan pernah mencampuri.


Keluarga Amrozi Anggap sebagai Teror

Rencana eksekusi trio bom Bali yang akan dilaksanakan awal November dianggap 
sebagai teror oleh keluarga Amrozi yang tinggal di Desa Tenggulun, Kecamatan 
Solokuro, Lamongan, Jawa Timur. Alasannya, rencana itu diungkapkan berkali-kali 
oleh Kejagung, namun hingga sekarang tidak juga terwujud.

"Untung saja mental keluarga kami kuat sehingga tidak terpengaruh teror 
tersebut," kata Ustad Khozin, kakak tertua Amrozi yang juga pimpinan Yayasan 
Pondok Pesantren Al Islam. Dia meyakinkan bahwa pengumuman itu tidak akan 
membuat keluarganya kaget. "Hidup mati manusia di tangan Allah. Bukan 
ditentukan manusia," katanya.

Meski demikian, Khozin mengaku kecewa jika pelaksanaan eksekusi terhadap dua 
adik kandungnya itu (Amrozi dan Muklas alias Ali Ghufron) benar-benar 
dilaksanakan. Alasannya, masih banyak terpidana mati yang sudah berpuluh tahun 
mendekam di penjara, tapi tidak juga dieksekusi. "Ada apa ini? Kami yakin ini 
pasti ada tekanan pihak asing," imbuhnya. Yang juga disesalkan Khozin, 
peninjauan kembali (PK) tentang bentuk atau cara eksekusi hingga kini belum 
dilakukan. Untuk keperluan itu, pihaknya masih akan membicarakan terlebih 
dahulu dengan Amrozi cs dan kuasa hukumnya, tim pembela muslim (TPM).

Keluarga besar, kata Khozin, berencana mengunjungi Amrozi cs ke Nusakambangan. 
Alasannya, pada Lebaran lalu, belum semua anggota keluarga sempat besuk. 
Kemarin Tariyem dan ustad Jakfar Shodiq (ibu dan kakak kandung Amrozi) 
meninggalkan Tenggulun. Mereka dikabarkan menemui Farida, istri Ali Ghufron, di 
Solo.

Sementara itu, Ali Fauzi, adik bungsu Amrozi, mengatakan bahwa pada intinya 
keluarga tidak mempermasalahkan pelaksanaan eksekusi terhadap dua kakaknya. 
Apalagi, dia mengaku baru menerima surat dari Amrozi yang isinya meminta 
keluarga sabar. 

"Mati sekarang, besok, atau kapan saja, katanya sama saja. Mereka mengaku sudah 
ikhlas dan keluarga juga diminta demikian. Itu salah satu pesan yang ada dalam 
surat kak Rozi (Amrozi, Red). Jadi, kami no problem," katanya.


Minta Tambahan Dua Kompi Brimob

Kepolisian Cilacap terus meningkatkan pengamanan menjelang eksekusi Amrozi cs. 
Kemarin (24/10), Polres Cilacap meminta bantuan dua kompi Brimob dari Polda 
Jateng. "Kami minta bantuan terkait dengan pengamanan praeksekusi. Jumlahnya 
dua kompi pasukan Brimob," ujar Kapolres Cilacap AKBP Teguh Pristiwanto kemarin.

Kapan pasukan itu diterjunkan? Dia menyatakan sampai sekarang pihaknya belum 
mendapat kepastian. Sebab, hal tersebut terkait dengan kejaksaan yang akan 
melaksanakan eksekusi. 

Untuk pengamanan praeksekusi, Cilacap juga akan dibantu pasukan dari Polda 
Jabar. Sebab, wilayah tersebut memang berbatasan dengan provinsi itu. Dengan 
demikian, belum diperlukan adanya penambahan pasukan dari Mabes Polri.

Teguh juga mengaku sudah bertemu Kapolda Jateng. Intinya, Cilacap diminta siaga 
terkait dengan rencana eksekusi Amrozi cs. Instruksi tersebut sudah 
ditindaklanjuti dengan meningkatkan pengamanan. Terutama terhadap objek vital 
nasional di Cilacap. 

Di antaranya, Pertamina, Pabrik Semen Holcim, dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap 
(PLTU) Cilacap. Bahkan, Pertamina UP IV Cilacap telah memberlakukan siaga satu 
sejak dua hari lalu. Polres Cilacap juga rajin melakukan razia di pintu masuk 
wilayah tersebut.


Warga Siapkan Makam

Sementara itu, tadi malam warga Ponpes Addal-Diri, Desa Purwodadi, Kuwarasan, 
Kebumen, menyiapkan sepetak tanah untuk kuburan Amrozi cs. Pemimpin Ponpes 
Addal-Diri KH Khozaki alias KH Syaifudin Daldiri, 65, menyiapkan tanah 
berukuran 14 x 9 meter di kompleks masjid miliknya.

"Jika dibutuhkan, saya menyiapkan lahan secukupnya," ujar Khozaki yang juga 
tokoh Front Toriqotul Jihad (FTJ) tersebut.

Dia mengungkapkan, semua itu dilakukan berdasar keyakinannya atas sunah Rasul 
yang mengharuskan setiap muslim mendukung muslim lain yang masuk golongan 
syuhada. "Bagi saya, Amrozi dan teman-temanya adalah syuhada," tegasnya. 

Khozaki mengungkapkan, niat tersebut timbul dari diri sendiri sejak beberapa 
bulan lalu. "Saya ikhlas dan tidak mengharapkan apa-apa selain syafaat 
(pertolongan) Rasul dan rida Allah semata," ungkapnya.

Dia bahkan telah menyampaikan keinginan tersebut kepada Tim Pembela Muslim 
(TPM). Sayang, kata dia, belum ada tanggapan dari pengacara Amrozi cs tersebut. 
(fal/tom/idi/feb/amu/cah/jpnn

Kirim email ke