http://www.sinarharapan.co.id/berita/0810/25/opi05.html

Tubir Sebuah Bangsa 



Oleh
Emmy Kuswandari

  Judul Buku  : Zaman Edan - Indonesia di Ambang Kekacauan
  Penulis        : Richard Llyod Perry
  Penerjemah : Yuliani Liputo
  Penerbit       : Serambi
  Tahun          : 2008
  Tebal           : 451 hlm

 Tadinya saya tidak percaya kalau Literary Review (London) menuliskan buku 
Richard Lloyd Parry ini merupakan gambaran nyata tentang sebuah bangsa yang 
sedang meluncur ke titik terendahnya. Tulisan itu pula yang tampak di cover 
depan buku Zaman Edan - Indonesia di Ambang Kekacauan. Meskipun ada banyak 
kekacauan dalam tahun-tahun terakhir ini, tetapi apakah ini tubir sebuah bangsa 
bernama Indonesia? 


Setiap membaca buku saya mencari kenikmatan. Tetapi tidak dengan Zaman Edan. 
Asam lambung saya naik dan membuat saya sangat mual. Saya pikir tadinya lapar, 
karena saya membacanya tengah malam. Tetapi ketika saya butuh waktu dua hari 
untuk menyelesaikan Musibah yang Mendekati Aib: Kalimantan 1997 - 1999 dan 
selalu mengalami hal yang sama, hanya satu kesimpulannya: buku ini membuat saya 
mual.  Richard Parry mengambil kenyataan yang dilihatnya di lapangan sebagai 
adegan. Dan adegan yang dibangunnya terdiri dari darah, tulang, kepala 
terpenggal, rumah terbakar dan ditingkah teriakan wuuu wuu wu suku Dayak yang 
magis dan menggentarkan. Bab awal dari buku ini mewartakan yang tidak 
disampaikan oleh media di Indonesia, kebrutalan dan kegetiran yang sangat 
nyata. Kalau disebut perang, mungkin inilah perang kanibal yang sesungguhnya. 


Benda itu adalah kepala seorang pria berusia empat puluh atau lima puluhan, 
matanya setengah terbuka dan kulit gelapnya berubah kelabu. Ada lubang 
mengangga di bawah bibir. Seseorang telah memasangkan kail logam tajam di bawah 
hidungnya. 
Kali lain, Richard mengubah ketegangan. Dia menyodorkan daging sate itu kepada 
saya, dan tesenyum, "Silakan," Silakan makan." 
Anak-anak lain di pojokan itu berkerumun dan tertawa. "Silakan! Silakan!". 
Tidak, terima kasih."
Budi mendekat, tampak gusar. "Ayo Richard, kita pergi.'
Pria itu terus menyodorkan daging itu kepada saya, dia bicara dengan 
bersemangat..
'Katakan kepadanya tidak, saya tidak mau itu." 


Tapi orang itu tidak mau mendapat jawaban tidak, dia terus mengayun-ayunkan 
tusukan daging itu di hadapan wajah saya. Sekali lagi saya mengalami sensasi 
kesurupan itu dan seolah gravitasi lenyap di sekitar saya. Saya pikir betapa 
mudahnya kalau saya ambil saja daging itu, dan memakannya. Saya berpikir 
tentang hewan-hewan yang telah saya makan seumur hidup saya sampai sekarang, 
anjing, monyet, ular, siput, keong.  Saya teringat khususnya monyet yang 
dipanggang di atas api di sebuah desa di dalam hutan. Dagingnya keras dan 
kenyal, tetapi setelah saya melihat sisa-sisanya: lengan kanan, tangan dan 
sebagian rusuk monyet. Kulitnya hangus tetapi bulu-bulu kelabu masih tampak di 
sana sini dan tangan dengan sepuluh jari kuku halus seperti kuku bayi yang baru 
lahir. Seberapa dekatkah saya dengan seorang kanibal? 


Nyaris saja Richard tak beda dengan mereka, yang menebas leher dan memakan 
hatinya. Daging sate yang ditawarkan orang-orang di jalan itu tak lain daging 
manusia. Ia nyata melihat tulang di panggang pembakaran. Pembantaian 
orang-orang Madura oleh Suku Dayak, bukan yang mati lalu sudahlah. Cerita masih 
panjang. Mereka menebas kepala, membelek punggung dan mengambil jantungnya. 
Memakannya selagi segar, itu syaratnya. Darah yang diminum bukanlah perlambang, 
tetapi diambil dari mereka yang terpisah kepala dan badannya. Belakangan, saya 
melihat seorang pria dengan belari mengerat kepala itu seperti sepotong daging, 
dan membagi-bagikan potongan keulit kepalanya sebagai cindera mata. 


Ini bukan sekadar ketegangan, perhatikan detailnya: Selama tiga mil ke depan 
jalanan lengang. Kemudian pada sebuah pertigaan terlihat api unggun kecil di 
sisi jalan. Belasan orang Dayak sedang sibuk menjaga nyalanya. Pisau-pisau dan 
Mandau dapat terlihat: di atas nyala api itu, mereka sedang memasang bingkai 
alas untuk memasak. Di belakang mereka beberapa benda berwarna merah muda 
tergeletak di atas sebuah tembok rendah. Saat kami lewat saya melihat dua 
batang kaki, badan tanpa tungkai. Sesuatu yang lain, barangkali lengan, sedang 
diletakkan di atas api. 


Ini memang bukan novel horor yang bisa saya nikmati. Tetapi cerita tentang 
saudara senegri yang tabiatnya tak saya mengerti. Tidak banyak wartawan yang 
mampu menyajikan fakta seperti penggambaran Richard. Dibutuhkan mata 
sinematografer dan jiwa sutradara untuk menghidupkannya dalam tulisan. Adegan 
demi adegan yang ditingkah dengan percakapan. Semua yang ditulis Richard adalah 
nyata, dan bukan fiksi. Selain Hiroshima yang ditulis John Hersey, Zaman Edan - 
Indonesia di Ambang Kekacauan, karya jurnalistik yang menohok kemanusiaan saya. 


Kalau saya membacanya hingga lembar terakhir, ini karena Richard menghembuskan 
nafas yang biasa dipakai pengarang fiksi dalam novel mereka. Tetapi Richard 
tetap menyakralkan fakta, hanya saja ia menggambarkan dalam tulisan panjang 
yang disebut dengan jurnalisme sastrawi.  Bukan sekedar butuh keberanian untuk 
menembus ke jantung perang Dayak Madura. Tetapi kepiawaian seorang narator yang 
harus mengisahkan detail setiap fakta. Sekali lagi Zaman Edan - Indonesia di 
Ambang Kekacauan menunjukkan, menjadi wartawan itu tidak sekedar menyorongkan 
tape recorder ke nara sumber, perlu kerja keras untuk mengusung setiap detail 
peristiwa. Kesimpulannya, jadi wartawan harus pintar, karena masyarakat tak 
bisa dibodohi hanya dengan sekadar kutipan. n

Penulis adalah ibu rumah tangga di Jakarta.

Kirim email ke