Refleksi: Kaum berkuasa tidak akan peduli dengan orang miskin, melainkan  orang 
miskin  sendiri yang harus  memperdulikan masalah kemiskinannya, dan jangan 
membiarkan pembodohan dengan  apa yang disebut ilmu jampi-jampi debu gurun 
pasir,. Landasan utama untuk perbaikan hidup wajib didasarkan dasar  tuntutan 
kerakyatan dan perpektifnya. Tidak akan ada yang akan merubah keadaan orang 
miskin terkecuali kaum miskin sendiri!

Jawa Pos
[ Sabtu, 25 Oktober 2008 ] 


Siapa Peduli Orang Miskin? 


Menurut data, jumlah orang miskin di Indonesia 56,6 juta jiwa. Sedangkan jumlah 
pengangguran terbuka sebanyak 29,61 juta jiwa lebih. Itu berarti angka miskin 
masih tinggi.

Bila hal tersebut tidak ditanggulangi, tahun-tahun berikutnya angka kemiskinan 
kian bertambah. Bila politikus memanfaatkan kemiskinan untuk menarik simpati 
massa, ini jadi pertanyaan, maksudnya apa? Dimanfaakan untuk apa? Apakah para 
politikus dapat menekan kemiskinan dengan baik dan menggantinya jadi 
"kesejahteraan"?

Pendidikan gratis, kemiskinan, kebutuhan pokok murah, layanan publik 
transparan, dan lain-lain kerap jadi komoditas politik. Kenyataannya, banyak 
bohongnya! Manis di bibir, lupa saat bertindak untuk merealisasikannya! 

Itulah manajemen politik di negeri ini. Mereka masih memikirkan kantongnya 
sendiri. Mereka masih menggelembungkan pundi-pundi koceknya masing-masing. 

Kaum miskin di negeri ini kian bertambah, sedangkan yang kaya kian kaya dan 
rakus! Korupsi terjadi di mana-mana, mulai level terendah sampai level 
tertinggi, mulai kelas teri sampai kelas kakap. Bahkan, lembaga spiritual pun 
menjadi ajang bancakan koruptor. Inikah sifat kerakusan di negeri ini? Lalu, 
siapa yang peduli dengan nasib orang miskin?

WISNU WIDJAJA, Jl Sindoro I No 16 Kalibuntu, Panggung, Tegal

Kirim email ke