http://batampos.co.id/utama/utama/syeh_puji-ulfa%2c_perkawinan_kontroversial_pengusaha-bocah_%281%29/


      Syeh Puji-Ulfa, Perkawinan Kontroversial Pengusaha-Bocah (1)  
      Minggu, 26 Oktober 2008  

      Dua Bulan Menikah, Dapat Adik Laki-laki 

      Lutfiana Ulfa, bocah 12 tahun yang menerima pinangan menjadi istri kedua 
pengusaha H Pujiono Cahyo Widianto alias Syeh Puji, dikenal sebagai gadis yang 
baik di desanya. Apa keistimewaan gadis berpembawaan tenang itu?


      RUMAH loteng dengan tembok bangunan belum diplester semen halus, bahkan 
bagian lantai II tampak batu batanya, itu terlihat sepi dengan pintu tertutup 
rapat. Padahal, keluarga pemilik rumah, pasangan suami istri Suroso-Siti 
Huriah, orang tua Lutfiana Ulfa, baru bulan lalu mendapat anak ketiga, seorang 
bayi laki-laki. 

      Saat berkunjung ke rumah yang terletak Desa Randu Gunting, Kecamatan 
Bergas, sekitar 20 meter dari jalan raya Semarang-Solo, koran ini tidak melihat 
ada tanda-tanda rumah itu dihuni. Apalagi, suara bayi. "Pak Suroso tidak ada di 
rumah, sedangkan Bu Suroso masih di Boyolali," kata Supardi, penjual mi ayam 
yang berjualan di teras sebelah rumah. 

      Supardi yang asal Wonogiri, Jawa Tengah, memang mendapat kepercayaan dari 
Suroso untuk mengurus rumah dan mengawasi empat anak kos (pegawai pabrik 
setempat) yang ada di rumahnya. Maklum, sejak sang istri (Siti Huriah) memilih 
melahirkan di kampung halaman, Boyolali, rumah itu tidak ada yang mengurus. 
Apalagi, si sulung, Lutfiana Ulfa, kendati baru berumur 12 tahun, sejak 8 
Agustus lalu dinikahi dan diboyong suaminya, H Pujiono Cahyo Widianto alias 
Syeh Puji, seorang pengusaha kaya. 

      Bagi keluarga Suroso (35), kelahiran bayi laki-laki pada 15 Oktober lalu 
itu melengkapi kebahagiaan mereka. Maklum, dua anak sebelumnya adalah 
perempuan. Setelah Ulfa, anak nomor dua adalah Novi Agustin yang berusia 8 
tahun. 

      Para tetangga mengenal Ulfah sebagai gadis berkulit bersih yang cantik. 
Setiap sore dia mengikuti kegiatan di Taman Pendidikan Alquran (TPQ) 
dilanjutkan salat Magrib di Masjid Mujahidin yang hanya beberapa puluh meter 
dari tempat tinggalnya. 

      Kalau tetap melanjutkan sekolah, tahun ini mestinya Ulfa duduk di kelas 1 
SMP. Alih-alih sekolah, pada awal Agustus lalu, Ulfa malah mendapat pinangan 
dari Syeh Puji yang usianya delapan tahun lebih tua dibanding ayahnya (Suroso). 

      Ratih, teman sebaya Ulfa, adalah salah seorang yang mengaku "kehilangan" 
setelah Ulfa menikah. "Hubungan (Ulfa) dengan teman-teman lainnya baik, Pak. 
Dia itu anaknya pintar dan tidak sombong. Kami sering nggarap PR bersama-sama 
di rumahnya," katanya. 

      Seorang tetangga dekat Suroso yang tak mau disebut nama mengenal gadis 
yang sedang menanjak remaja itu suka mengoleksi kertas binder dan saling 
bertukar dengan teman-temannya. "Dia sopan dan alim, serta patuh kepada kedua 
orang tua. Dia jarang dimarahi oleh orang tuanya karena patuhnya itu," 
tambahnya. 

      Tentang jarangnya Suroso pulang ke rumah itu juga diakui tetangga 
tersebut. Suroso yang karyawan pabrik kertas PT Puri Nusa -berlokasi di Bawen 
(jurusan Semarang-Solo)- sering ganti jadwal piket masuk (sif) kerja. Selain 
itu, dia sering mengunjungi Ulfa di kediaman Syeh Puji di Desa Bedono, 
Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. 

      "Kadang-kadang ke sini, Mas. Nggak mesti kadang malam atau pagi, setelah 
itu pergi lagi," tambahnya. 

      Menurut tetangganya itu, beberapa hari sebelum dinikahi Syeh Puji, Ulfa 
yang baru lulus dari SDN Randu Gunting tampak gembira dan ceria. Dia sering 
bercerita kepada teman-teman serta tetangganya, kalau sebentar lagi dinikahkan 
orang tuanya. "Tampaknya dia menerima dengan ikhlas dan menikmati pinangan 
serta menikah dengan Pak Pujiono. Mesti secara usia cukup jauh," katanya. 

      Suroso yang ditemui pada acara halalbihalal di Ponpes Miftahul Jannah 
yang didirikan Syeh Puji mengakui, dia sekeluarga sudah ikhlas putri sulungnya 
dinikahi Syeh Puji. Buktinya, lanjut dia, putrinya memberi anggukan setuju 
ketika tim Syeh Puji datang ke rumah untuk meminang pada 5 Agustus lalu. 

      "Sebagai orang tua tentu saya melindungi anak. Tidak ada pemaksaan dalam 
bentuk apa pun. Ulfa juga tidak merasa ditekan oleh siapa pun," tambahnya. 

      Menurut Suroso, ada beberapa pertimbangan mengapa Ulfa bersedia menikah 
pada usia belia. Di antaranya akan dipercaya memimpin PT Sinar Lendoh Terang 
(Silenter), perusahaan milik Syeh Puji. Selain itu, Ulfa masih bisa sekolah 
meski dengan cara mendatangkan guru. 

      Dia menolak anggapan keluarganya membiarkan Ulfa menjadi istri kedua dari 
orang yang layak jadi orang tuanya demi keuntungan materi. "Saya masih kuat 
bekerja dan bisa menghidupi anak istri. Tapi, melihat tujuan Syeh Puji baik, 
saya, istri, dan anak saya setuju dan ikhlas dengan pernikahan ini. Anak saya 
juga ingin membahagiakan orang tuanya kok," tambahnya. 

      Suroso mengatakan, dirinya dan istri sudah tahu bahwa Syeh Puji banyak 
uang. Namun, bukan itu satu-satunya tujuan. "Tujuan anak saya itu bahagia dunia 
dan akhirat. Kalau ada orang kaya yang menikahi anak saya, tapi tujuannya tidak 
jelas, tentu kami tidak bersedia," imbuhnya. 

      Meski sudah menikah, kata Suroso, Ulfa yang mengalami menstruasi sejak 
berusia 10 tahun direncanakan (tidak hamil) dan baru memiliki anak di atas usia 
17 tahun. Sesuai janji Syeh Puji untuk mengangkat Ulfa jadi general manager 
(GM), "program" paling dekat yang akan dijalani Ulfa saat ini pengaderan untuk 
mengelola PT Silenter. 

      Sang ayah mengakui, Ulfa yang di sekolahnya selalu berada di peringkat 
teratas itu sudah menunjukkan kelebihan sejak berusia lima tahun. Sekecil itu, 
kata Santoso, Ulfa sudah berjanji memberangkatkan kedua orang tuanya naik haji. 
"Saat itu kami diminta tidak usah khawatir tentang biaya. Sebab, atas izin 
Allah, semuanya akan terlaksana dan terwujud," katanya. 

      Suroso mengakui, sebelum datang pinangan Syeh Puji ke rumahnya, Ulfa 
seperti mendapat tanda-tanda. Salah satunya, sang gadis menemukan sarang madu 
di seputar kamar mandinya. Kejadian itu lalu dilaporkan kepada ayahnya. "Waktu 
itu saya minta agar sarang-sarang madu itu dibiarkan. Jangan diganggu atau 
dirusak," katanya. (bersambung) 

        
     

<<spacer.gif>>

Kirim email ke