http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=46609&ik=2


Penjagal Suami Nikah 15 Kali 

Selasa 28 Oktober 2008, Jam: 9:18:00 

TANGERANG (Pos Kota) - Wanita yang satu ini memang benar-benar super. Betapa 
tidak. Dia berani memotong-motong suaminya hingga 13 bagian. Yang lebih 
mencengangkan lagi, ternyata dia juga pernah memiliki 15 suami . Alasan Sri 
Rumiyati alias Yati, sering kawin cerai karena dia adalah seorang hiperseks 
atau yang memiliki hasrat seks sangat tinggi. 

Bahkan, keterangan yang diperoleh Pos Kota dari rekan korban dan tetangganya, 
pernikahan wanita berusia 28 tahun ini kebanyakan dilakukan secara siri. 

Endah, tetangga korban di Kampung Teriti, Desa Karet, Sepatan, Kabupaten 
Tangerang, mengaku Yati pernah bercerita kepadanya tentang kebutuhan seksnya 
yang luar biasa tersebut. 
"Biarpun dia jarang diberi nafkah oleh suaminya, yang penting Yati merasa 
Hendra bisa memenuhi kebutuhan seksnya," ungkap Endah, Senin (27/10). 

Kelainan seks wanita asal Desa Kupen, Pringsurat, Temanggung, Jawa Tengah, ini 
juga diakui oleh Duhri, teman korban. Menurut Duhri, korban, Hendra, 50, pernah 
curhat padanya mengenai perilaku seks istri keempatnya itu. 
"Malah salah satu mantan suaminya pernah dicerainya karena dianggap sudah tak 
mampu lagi memenuhi kebutuhan seksnya itu." 


BAWA TIGA KARDUS 
Di mata tetangga, Yati dikenal baik dan supel. Di lingkungannya ia akrab 
dipanggil tante. Menurut Endah, empat hari sebelum Lebaran, Yati mengatakan 
Hendra sedang pergi ke Bandung dan dia diminta tinggal bersama anaknya dari 
pernikahan terdahulu di Pasar Kemis. 

"Selama Bang Hendra lagi dapat orderan ke Bandung, saya disuruh tinggal bersama 
anak saya" ungkap Endah meniru ucapan Yati. 

Yati yang menurut orangtuanya memiliki nama asli Sutemi ini pun kemudian pergi 
membawa tiga buah dus yang diikat rapi. Diduga tiga dus tersebut berisi 
potongan tubuh Hendra yang kemudian dibuang di dalam bus Mayasari P64 jurusan 
Kalideres-Pulo Gadung dan ditemukan pada 29 September lalu. 

Saat itu Yati mengaku, jika kardus tersebut berisi kue Lebaran yang akan 
dikirim ke Dewi, istri Hendra, yang berada di Lampung."Kardus itu dibungkus 
rapi dan tidak tercium bau amis ataupun darah," kata Endah. 

Endah juga mengatakan jika malam hari sebelum Yati pergi ia sempat mendengar 
suara orang sedang memukul dari dalam rumah kontrakan tersebut. Di duga saat 
itu pelaku sedang memotong-motong tubuh Hendra, pasalnya petugas dari 
kepolisian sudah mengamankan sebilah golok dan batu yang diduga sebagai barang 
bukti. 

Empat hari setelah Lebaran atau sepekan setelah mayat potongan mayat Hendra 
ditemukan, Yati datang kembali ke rumah kontrakannya di Kampung Teriti Sepatan, 
Kabupaten Tangerang. Saat itu tetangga melihat istri ke empat korban itu 
berperilaku aneh. 

Yati selalu menggunakan topi dan kacamata hitam, padahal biasanya tidak pernah. 

Ketika tayangan berita televisi menyiarkan penemuan potongan tubuh manusia 
dengan ciri tato kepala macan di lengan kanannya, Yati sempat mengatakan bahwa 
kemungkinan besar mayat tersebut adalah suaminya."Tetapi tetangga saat itu 
tidak curiga," imbuh Mas'ud. 

DIBAWA UNTUK CARI 
POTONGAN TUBUH 
Yati yang ditangkap polisi Sabtu (25/10) petang di kampung halamannya itu 
sampai Senin masih diperiksa di Polda Metro Jaya. 
Yati kemarin dibawa oleh petugas mencari potongan tubuh Hendra lainnya seperti 
kepala, kaki, tangan, dan bagian belakang tubuh. "Bokong korban juga belum 
ditemukan," ujar satu petugas. 

Dalam pemeriksaan, wanita berkulit sawo matang, rambut lurus sebahu, tinggi 
badan sedang dan perawakan agak besar, itu terkesan berbelit-belit. Meski 
demikian, soal pembantaian sadis itu, Yati mengaku dialah pelakunya. "Saya 
sakit hati," kata Yati tanpa merinci apa yang membuatnya sakit hati itu. 

Proses penangkapan terhadap Yati, menurut sumber tersebut, berawal dari 
informasi dari warga yang mengenai ciri-ciri tato di lengan kiri korban yang 
dimuat di media massa. Dari laporan tersebut akhirnya petugas mengetahui 
identitas korban sebagai Hendra alias Burung, asal Pekanbaru, Riau. 

Meski polisi sudah berhasil menangkap tersangka pelakunya, namun hingga saat 
ini belum ada pernyataan resmi. Hal ini diduga lantaran polisi tidak ingin 
mengulang kesalahan seperti di Jombang beberapa waktu lalu hingga terjadi 
kesalahan identifikasi. 

KORBAN SEORANG MUALAF 
Pos Kota kemarin mendatangi kediaman Mega, istri kedua Hendra yang tinggal di 
bilangan Cengkareng. Menurut penuturan Desniar, 40, adik Mega, korban adalah 
pria keturunan Tionghoa. "Dia masuk Islam ketika menikah dengan kakak saya," 
jelas Desniar. 

Wanita ini menyebutkan, Mega dan Hendra bercerai tahun 2000. Hendra terpikat 
dengan wanita asal Lampung. Karena tidak mau dimadu, Mega yang kemarin juga 
didengar keterangannya oleh polisi akhirnya minta berpisah. 

Korban memiliki anak dari Mega yang kini duduk di kelas 3 SMA. Sampai saat ini 
Ic belum mengetahui kematian sang ayah. "Ibunya berpesan jangan dikasih tahu 
dulu takut shock," tutur Desniar. 
Yang membuat Desniar sedih pada 3 Desember mendatang Ic akan berulang tahun. 
"Ic sempat menelepon papinya agar datang pada pesta ulang tahunnya. Papinya 
janji mau datang," cerita Desniar. 

Nasir, warga yang sempat mengenal korban mengatakan Hendra adalah orang yang 
pendiam namun ramah. "Dia orangnya baik. Orang -orang sini yang kenal dia pasti 
kaget mendengar berita kematiannya," jelas Nasir, suami Desniar. 

(C3/edi/wandi/anis/ok/B) 


++++
http://www.poskota.co.id/redaksi_baca.asp?id=1737&ik=32


Pedang Penghenti Mesum 

Selasa 28 Oktober 2008, Jam: 7:05:00 

Selingkuh sama tetangga itu memang enak, tapi dibacok pedang oleh suami, juga 
lebih "enak". Dan begitulah peruntungan Nunik, 35, dari Tuban (Jatim). Baru 
saja gemrobyos (berkeringat) kecapekan melayani Jumangin, 40, di atas ranjang, 
tahu-tahu betttt......,kepala dan tangannya somplak dibacok suaminya yang 
kalap. 

Enak memang orang selingkuh, begitu kata pakar permesuman. Soal rasa memang 
sama saja, tapi deg-degan dan ngos-ngosan menjadi bumbunya perbutanan penganut 
setan. Deg-degan karena takut-takut ketahuan oleh pihak berwajib (baca: suami), 
ngos-ngosan karena semua dikerjakan dengan tergesa-gesa. Ibarat sinetron, jenis 
yang kejar tayangnglah, sebab setan-setan sudah menunggu sepak terjang dua anak 
manusia yang sudah berhasil dijerumuskannya di lembah yang hina. 

Begitu juga rupanya perasaan Jumangin, ketika harus mendekati bini Bandi, 38, 
yang memang cantik mempesona itu. Sadar akan perilakunya yang salah, setiap mau 
bicara dengan Ny. Nunik, dia pastilah gugup. Mau ngomong lima keluar hanya dua. 
Tapi bini Bandi yang termasuk janma limpat seprapat tamat (orang pandai tahu 
maksud orang) dia segera mafhum akan aspirasi urusan bawah tetangganya di Desa 
Klamber Kecamatan Plumpang. "Ngajak selingkuh, siapa takut?", begitu reaksi 
Nunik. 

Utuk tatanan umum dan etika agama, jelas sikap bini Bandi ini sangat 
mengejutkan. Mana mungkin, diajak hubungan intim oleh lelaki yang bukan 
suaminya, kok mau saja. Lha mbok lihat kisah Dewi Sinta di dunia perwayangan. 
Biarpun Dasamuka adalah konglomerat dari Alengka, dia tak mau meladeni nafsu 
raja angkara murka. Sebab cintanya memang hanya untuk Prabu Ramawijaya. Meski 
suaminya menderita selama dalam pembuangan di hutan, dia tetap setia menjaga 
"aset"-nya untukl suami tercinta. 

Tapi jangan salah, Ny. Nunik ini memang bukan tipe wanita setia, jika tak mau 
disebut perempuan gatel. Ketika Jumangin cengengas-cengenges mendekati dirinya, 
dia memberi peluang dan semangat untuk lebih maju. Kata Nunik, kalau cinta ya 
ngomong saja jangan hanya gendulak-gendulik (setengah ragu), jadi apa tidak. 
"Hidup adalah perbuatan, bukan hanya isyarat dan kata-kata," nasihat Nunik main 
caplok saja, tanpa permisi dulu kepada Ketua Umum PAN. 

Ke sononya tentu saja jadi lebih muda. Nunik yang tak puas dengan pelayanan 
suami, berulangkali mengundang Jumangin ke kamarnya. Lalu keduanya pun 
menuntaskan gairah-gairah malam sebagai makhluk lelaki dan perepuan. Mereka tak 
bisa membedakan lagi mana yang halal dan mana pula yang haram. Ibarat mobil, 
yang penting bisa "ngetap olie", tak peduli perbuatan itu akan merusak 
rumahtangga pihak lain. 

Akan tetapi, betapapun keduanya sangat rapi membungkus bangkai, lama-lama 
ketahuan juga. Beberapa hari lalu, pas Bandi pulang piket lebih gasik dari 
biasanya, dia melihat dengan mata kepala sendiri istrinya yang bugil ditindih 
lelaki tetangganya. Dia mencoba menghajar Bandi yang sangat dikenalnya 
tersebut, tapi sayang keburu kabur. Sebagai sasaran amuk, akhirnya pedang itu 
pun dibacokkan saja pada istrinya yang jadi biang masalah. "Rasain. Aku kerja 
banting tulang, masak kamu banting-bantingan sama lelaki lain." maki Bandi. 
Malam itu istrinya dilarikan ke rumahsakit, sementara Bandi ditangkap polisi 
Polres Tuban. 

Nyesel hati Bandi, tapi juha mangkel. 

(JP/Gunarso TS) 

Kirim email ke