http://www.radartarakan.co.id/berita/index.asp?Berita=HIBURAN&id=142549

Jumat, 31 Oktober 2008



Syeh Puji Dijerat Pasal Pencabulan


HARI ini (Jumat, 31/10) Polwiltabes Semarang akan memintai keterangan Lutfiana 
Ulfa, 12, terkait pernikahannya dengan pengusaha kaya Pujiono Cahyo Widianto. 
Selain mantan siswi SMP Negeri I Bawen itu, polisi memanggil kedua orang 
tuanya. 
Hal tersebut terungkap dari surat panggilan untuk mereka bertiga yang 
dilayangkan polisi. Surat panggilan diterima mereka pada 25 Oktober lalu. 
Pemeriksaan mereka hari ini masih sebatas sebagai saksi. 

Penasihat hukum ketiganya, R. Sedyo Prayugo, menyatakan, pemanggilan Ulfa dan 
orang tuanya tersebut berkaitan dengan sangkaan kasus pencabulan yang dilakukan 
Syeh Puji terhadap Ulfa. Atas perbuatan tersebut, Puji dianggap telah melanggar 
pasal 82 UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Dia juga dijerat subpasal 290 
ke-2e KUHP tentang tindak kekerasan atau ancaman kekerasan. 

Khusus terhadap pemeriksaan Ulfa dan ibunya, Gogok -panggilan karib Sedyo 
Prayugo- mengharapkan ada perlakuan khusus. Mengingat, yang bersangkutan, yakni 
Ulfa, tergolong masih di bawah umur. Juga, ibunya baru beberapa hari melahirkan 
dan masih menyusui. ''Seandainya jadi diperiksa, saya harap dilakukan di rumah 
dan petugas pemeriksa tidak mengenakan seragam dinas,'' katanya. 

Hal itu, kata dia, semata demi pertimbangan psikologis keduanya, terutama Ulfa. 
Sebab, dikhawatirkan gadis tersebut akan mengalami ketegangan mental. Menurut 
dia, shock pertama dialami Ulfa ketika berita tentang pernikahannya dengan Syeh 
Puji tersebar luas dan menuai banyak kecaman. 

''Jadi, dalam hal ini demi menjaga kestabilan mental Ulfa semata, juga ibunya. 
Kalau untuk ayahnya, saya kira tidak masalah diperiksa di kantor polisi,'' ucap 
Gogok yang kini masih aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Semarang tersebut. 

Selain itu, dia mengharapkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 
memberikan perhatian khusus. Yakni, memberikan pendampingan hukum kepada Ulfa. 
Hal itu sudah disepakati dengan Kak Seto sebagai ketua KPAI ketika bertemu Syeh 
Puji, Selasa (28/10). 

''Jadi, ada imbal baliknya dalam hal ini, sehingga tidak ada kesan Ulfa 
dibiarkan begitu saja begitu kasus ini bergulir ke ranah hukum,'' ujarnya. 

Gogok yang juga penasihat hukum Syeh Puji itu mempertanyakan sangkaan polisi 
yang ditujukan kepada Puji tentang pencabulan terhadap Ulfa. Alasannya, Puji 
dan Ulfa merupakan suami-istri. Meski perkawinan mereka di bawah tangan (siri), 
tidak tepat dikatakan pencabulan. 

Pasal pencabulan lebih tepat disangkakan kepada mereka yang bukan suami-istri. 
Kalau ada kekerasan di antara mereka, itu masuk dalam koridor kekerasan dalam 
rumah tangga (KDRT). 

Mengenai keabsahan dirinya sebagai penasihat hukum yang banyak dipertanyakan 
beberapa pihak mengingat sampai saat ini masih aktif sebagai anggota DPRD 
Kabupaten Semarang, anggota dewan dari fraksi PAN itu menyatakan bahwa yang dia 
lakukan selama ini adalah sebagai penasihat dan konsultasi hukum. 

''Jadi, bukan tampil sebagai kuasa hukum dan aktif di pengadilan. Kalaupun 
nanti harus sidang, bukan saya yang tampil, tapi asosiasi atau tim saya,'' 
tegas Gogok. (dm/dib/wah/jpnn/nw

Kirim email ke