http://www.tribun-timur.com/view.php?id=105175&jenis=Opini

Jumat, 31-10-2008 


Sistem Ekonomi Islam VS Sistem Ekonomi Kapitalis
Oleh 
Adi Wijaya 
Koordinator Badan Koordinasi 
Lembaga Dakwah Kampus, Makassar 


Kondisi saat ini, dengan uang 1 dirham orang masih dapat membeli 1 ekor kambing 
dan dengan 1 dirham orang mampu membeli ayam. Inilah bukti sistem ekonomi Islam 
adalah sistem ekonomi yang luar biasa
 
Ternyata sistem ekonomi kapitalis tak sekuat yang kita bayangkan. Doktrin 
sejarah yang dicetuskan oleh Francis Fukuyama, yang menyatakan bahwa 
kapitalisme adalah akhir dari sejarah dunia ternyata tidak benar. Beberapa 
fakta yang terjadi justru membuktikan sistem ekonomi ini begitu rapuh dan 
kosong. Misalnya pada minggu terakkhir Oktober tahun 1997, harga saham di bursa 
efek jatuh secara drastis. Fenomena ini bermula dari Hongkong kemudian merembet 
ke Jepang dan Eropa sampai akhirnya menerpa Amerika. Peristiwa ini merupakan 
ulangan dari peristiwa yang terjadi pada tahun 1987, tatkala harga saham New 
York turun 22 persen dalam sehari. Menariknya peristiwa ini pun adalah ulangan 
dari peristiwa pada tahun 1929 ketika jatuhnya nilai saham Amerika yang 
menimbulkan depresi ekonomi yang sangat berat, yang dalam beberapa buku sejarah 
disebut sebagai The Great Depression. Rentetan sejarah kelam kapitalisme yang 
seolah membentuk siklus ini kembali terulang pada tahun 2008. Terpaan krisis 
moneter yang begitu hebat mampu mebuat negara adidaya sekaliber Amerika 
akhirnya tersungkur tak berdaya. Krisis ini menimbulkan efek domino yang terasa 
sampai di tanah air. Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa ditutup dengan catatan 
jumlah transaksi yang irasional (di bawah satu triliun). 

Sebenarnya sistem ekonomi kapitalis yang saat ini diadopsi oleh sebagian besar 
negara di dunia, yang memiliki sifat khas yang disebut self destruction. Karena 
sistem ekonomi ini menginisiasikan berbagai metode yang justru menghancurkan 
dirinya sendiri. Berbagai metode yang digagas oleh para pengusung sistem ini, 
semakin memperlihatkan begitu rapuhnya konstruksi sistem kapitalis. 

Pertama, ekonomi berbasis moneter. Sistem ekonomi kapitalis dibangun dengan 
monetery based economy (ekonomi berbasis sektor moneter). Implikasinya sistem 
ekonomi kapitalis banyak bermain pada sektor-sektor non real yang dicirikan 
dengan adanya bursa saham dan pasar modal yang didalamnya diwarnai dengan 
aktivitas jual beli saham, obligasi dan berbagai komoditi tanpa adanya syarat 
serah terima komoditi yang diperjualbelikan. Bahkan komoditi tersebut dapat 
diperjualbelikan berkali-kali tanpa harus mengalihkannya dari pemilik asli. 
Model transaksi semacam ini adalah batil dalam pandangan Islam dan mampu 
menimbulkan banyaknya spekulasi yang berujung pada goncangan pasar. 

Sistem ekonomi kapitalis sangat berbeda dengan sistem ekonomi Islam. Dalam 
sistem ekonomi Islam yang berbasis syariah tidak mengakui adanya sektor non 
real yang berbasis bunga. Karena pola transaksi yang dipraktekkan pada pasar 
modal adalah batil dalam pandangan Islam dan terlebih lagi Islam mengharamkan 
riba. Sementara riba merupakan tulang punggung ekonomi kapitalis. 

Luar Biasa 
Jadi ekonomi Islam adalah ekonomi yang dibangun dengan real based economy 
(ekonomi berbasis sektor real). Ekonomi Islam menitikberatkan pada pengelolaan 
sektor real, karena hanya melalui sektor inilah keuntungan ekonomi yang nyata 
dapat diperoleh dan aktivitas ekonomi pun dilakukan melalui jerih payah yang 
nyata yaitu melalui proses produksi barang dan jasa. 

Kedua: ekonomi berbasis uang kertas. Semenjak disahkannya perjanjian Bretton 
Woods, konsep mata uang berbasis emas kemudian disingkirkan dan diganti dengan 
fiat money atau sistem uang berbasis kertas. Pada saat itu emas dengan berat 
28,35 gram dihargai sama dengan 35 dolar AS. 
Susbstitusi ini menyebabkan dolar Amerika mendominasi perekonomian global. 
Akibatnya keguncangn ekonomi sekecil apapun yang terjadi di Amerika akan 
berimabas ke negara-negara lain.  Sistem uang kertas inilah salah satu faktor 
yang menyebabkan rapuhnya sistem ekonomi kapitalis. Uang kertas memiliki 
kelemahan yang sangat mendasar yaitu selalu terkena inflasi permanen.  Nilai 
uang 100 juta saat ini tidak sama dengan nilai 100 juta sepuluh tahun 
mendatang. Oleh karena itu dalam sistem kapitalis dikenal adanya istilah 
present value (nilai sekarang) dan future value (nilai akan datang). Selain itu 
sistem uang kertas jauh dari konsep keadilan, karena nilai intrinsiknya tidak 
sama dengan nilai nominalnya. Bisa saja anda mengantongi uang dengan nominal Rp 
10.000 namun ternyata biaya cetaknya hanya Rp 400. Jadi pada hakekatnya Anda 
tidak mengantongi uang Rp 10.000 namun hanya mengantongi Rp 400. 

Hal ini sangat berbeda denga konsep mata uang Islam yang berbasis pada emas dan 
perak (dinar dan dirham). Dalam sejarah mata uang Islam sangat kecil sekali 
inflasinya. Misalnya pada masa Rasulullah saw, dengan uang 1 dinar (4,25 gram 
emas) orang dapat membeli seekor kambing dan dengan 1 dirham (2,975 gram perak) 
orang dapat membeli seekor ayam. Ternyata pada kondisi saat ini, tahun 2008, 
dengan uang 1 dirham orang masih dapat membeli 1 ekor kambing dan dengan 1 
dirham orang mampu membeli ayam. Inilah bukti sistem ekonomi Islam adalah 
sistem ekonomi yang luar biasa. Sistem uang berbasis emas dan perak memiliki 
nilai intrinsik dan nominal yang sama. Karena nilai nominal dirham dan dinar 
ditentukan oleh berat logamnya yang sekaligus menjadi nilai intrnsiknya. 

Inilah bukti keunggulan yang dimiliki dinar dan dirham tidak dimiliki oleh 
dolar AS. Jika dinar dan dirham mampu memperkokoh ekonomi kiarena tahan 
inflasi, dolar justru merapuhkan ekonomi karrena sangat sensitif dengan 
inflasi. 

Ketiga: konsep investasi asing sebenarnya adalah kamuflase dari usaha 
eksploitasi yang dilakukan oleh negara kapitalis terhadap negara dunia ketiga, 
yang sebagian besar dihuni oleh negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam 
yang memiliki kekayaan alam yang sangat menggiurkan. Investasi asing yang 
dilakukan di negeri-negeri Islam terbukti lebih menguntungkan negara investor. 
Sebut saja investor asing PT Freeport yang mengeksploitasi emas di Papua dengan 
keuntungan sekitar Rp 40 triliun per tahun. 


Syariat Islam 
Namun Indonesia sebagai pemilik sah kekayaan alam Papua hanya mendapat 9,4 
persen dari keuntungan yang diperoleh. Hal ini tidak sebanding dengan kerusakan 
lingkungan yang disebabkan konflik sosial yang timbul akibat ketidakadilan. Ada 
riset menarik yang dilakukan oleh ekonom Sritua Arief pernah menghitung untuk 1 
dolar AS yang diinvestasikan di Indonesia ternyata yang balik keluar dari 
Indonesia adalah sepuluh kali lipatnya yaitu 10 dolar AS. 
Konsep investasi asing dalam perspektif kapitalis jelas sangat berbeda dengan 
konsep investasi asing dalam ekonomi Islam. Islam tidak pernah menutup diri 
terhadap investasi asing selama investasi tersebut sesuai dengan syariat Islam. 
 Misalnya, Islam telah menetapkan bahwa sumber daya alam seperti emas, minyak, 
dan gas adalah milik umum, bukan milik negara apalagi milik individu. Artinya 
semua pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan oleh negara dan 
keuntungannya dikembalikan kepada masyarakat umum sebagai pemilik sah kekayaan 
alam tersebut. 

Kalaupun ada investor yang menawarkan diri untuk berinvestasi dan berperan 
aktif untuk ikut membantu mengelola sumber daya alam tersebut, mereka hanya 
diposisikan sebagai tenaga kontrak kerja atau kontrak sewa peralatan dan mereka 
dibayar sesuai dengan jasa mereka. Namun konsep yang dilakoni sekarang adalah 
menjadikan investor asing sebagai pengelola sekaligus pemilik sumber daya alam 
yang sejatinya adalah milik kita. Inilah bukti bahwa sistem kapitalisme 
sementara menuju pada jurang kehancuran yang nyata. Sudah terlalu lama kita 
hidup dalam hegemoni sistem kapitalis yang hanya membawa kesengsaraan, saatnya 
untuk memberikan kesempatan pada sistem Islam untuk memimpin dan menyelamatkan 
dunia. Keagungan dan kesempurnaan sistem ekonomi Islam hanya segelintir bukti 
kehebatan syariat Islam. Dan jangan pernah berharap kemuliaan Islam akan 
terwujud selama Islam tidak diterapkan secara menyeluruh (kaffah). Tuntutan 
penerapan syariat Islam tidak hanya sebatas pada eonomi semata, namun harus 
sampai menyetuh ranah politik, pendidikan bahkan sampai pada tataran 
kenegaraan. 

Tribun Timur, Selalu yang Pertama 

Ada peristiwa menarik? 
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233 
email: [EMAIL PROTECTED] 

Kirim email ke