Harry Samputra Agus (Renungan-renungan AFS year Cairns Australia 1991/1992)
Kelembagaan pembelajaran dan lembaga pendidikan dan pengajaran selama ini 
berlangsung dalam kesesatan dan kekhilafan. Lembaga tidak mengajak dan 
menstimulus kepada kedalaman dan kekayaan dimensi TUHAN. Material/materi bahan 
ajar hanyalah sekedar materi tidak mencapai dimensi yang lebih agung bersifat 
spirit/elan spiritual dari setiap obyek dan subyek pembelajaran. Jelas-jelas 
dalam dimensi TUHAN Yang Maha Agung, setiap manusia tidak berhak menilai atau 
mencoba menilai manusia lain dalam konteks pengertian, pengetahuan dan 
pemahamannya akan spiritualitas keimanan, keilmuan dan pengamalan dalam 
aktifitas pendidikan dan pengajaran dari setiap individu pembelajar. Artinya 
sumpah yang hanya dilakukan oleh TUHAN akan waktunya berlaku di sini. 
Biarkanlah dimensi waktu milik TUHAN yang menilai keberhasilan dan kegagalan 
fasilitator pendidikan atau perserta didik. Namun harus dijabarkan lebih lanjut 
penilaian dan perhitungan keberhasilan dan kegagalan berdimensi
 waktu tersebut. Ada pasangan trilogi yang berlaku dalam waktu pada dimensi 
TUHAN yang relevan untuk orientasi pendidikan ini.  
1. Percepatan dan kecepatan waktu, jadi setiap individu baik fasilitator maupun 
peserta dinilai dari evektivitas dan evisiensi waktu dari proses pembelajaran 
dariNYA, Keunggulan ada pada perhitungan dan penilaiaan berdimensi waktu yang 
diperlukan untuk ketajaman nalar dan mengapresiasi
suatu obyek dan subyek materi dan spirit bahan ajar.
2. Integrasi waktu atau dalam konteks pembelajaran adalah "multy tasking" 
,individu dalam lembaga pendidikan dan pengajaran diorientasikan dan dinilai 
dalam kemampuan untuk memberi kemanfatan yang lebih banyak/semakin banyak akan 
lebih unggul dalam kurun waktu tertentu dan bersamaan.
3. Pengelolaan/menejemen waktu, inipun menjadi orientasi dan penilaian bagi  
kegagalan atau keberhasilan proses pembelajaran dari semua pihak atau stake 
holder pendidikan dari suatu lembaga pendidikan dan pengajaran. Alokasi waktu 
yang tajam dan tepat.
Semua dimensi waktu ini penting dalam pembelajaran, namun akan kasusitis pada 
setiap jenjang pendidikan dan subyek bahan ajarnya, Janganlah berlaku seperti 
TUHAN terutama fasilitator pendidikan atau profesor/yang merasa prophet 
successor padahal bukan. Tiada yang berhak menilai kegagalan dan keberhasilan 
pendidikan seseorang pada tatanan holistik karena hidup adalah pembelajaran 
yang berkelanjutan dan sejatinya semua orientasi dan penilaian aspek 
keberTUHANan baik pembelajaran material, immaterial dan spiritual dalam 
pendidikan dan pengajaran adalah wilayah "dimensi waktu" TUHAN. Yang dapat 
dilakukan adalah menderivatifkan dimensi waktu unutk tujuan pengukuran karena 
dalam dimensi waktuNYA kita semua dalam kerugian kecuali yang melakukan 
pembelajaran berkelajutan dalam arti luas dan mencapai kehakikian hidup serta 
mengukur selalu dalam dimensi waktu milik TUHAN ,capaiaan kapasitas dan 
kompetensi dengan tidak menyerahkan otoritasNYA untuk menilai
 keberhasilan proses pendidikan pada individu-individu yang merasa pintar, 
seperti iblis/acting GOD. Lembaga pendidikan dan pengajaran sudah menjadi 
berhala baru padahal kosong dan tanpa makna. Berkompetisilah dengan dan dalam 
dimensi waktu untuk tidak sekedar percaya kepada TUHAN (karena iblispun sangat 
percaya TUHAN bahkan bisa melihat,berinteraksi dan mendebatNYA) tetapi tidak 
beriman kepada TUHAN. Artinya menjadi beriman ditentukan oleh dimensi waktuNYA. 
Dan tujuan pendidikan dan pengajaran yang holistik adalah untuk beriman secara 
benar. Marilah kreatif unutk men"down grade" dimensi waktu untuk orientasi 
pendidikan dan bukan menjadi "self centered" atau menuhankan diri dan kelompok 
dengan berkedok intelek/intelektual untuk menilai "hidup dan matinya" 
seseorang. Bukankah kegagalan proses pembelajaran dalam hidup 
(pendidikan&pengajaran) berarti takdir buruk/neraka bagi seseorang. Dan 
sekarang hal itu hanya diberikan otoritasnya pada sebagain kecil
 manusia-manusia bodoh dari pemimpin atau merasa dirinya pemimpin sampai 
otoritas rendah yang sok kuasa. Tugas utama pemimpin adalah mendidik bukan 
membodohi........

Dari seseorang yang siap memimpin INDONESIA


      

Kirim email ke