perlu kalau umat islam ke masjid, tapi kalau umat islam ke pantai pake jilbab, 
ya namanya katrooooooo

lagian baru di sini saya mendengar ada pakaian yang punya agama MUSLIM.
terus saya juga mau tanya apa ada baju nasrani, baju hindu, baju budha ya.......
norak norak..........negeriku norak segeralah terpuruk




________________________________
Dari: mediacare <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: zamanku <zamanku@yahoogroups.com>; [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: Sabtu, 1 November, 2008 13:09:51
Topik: [zamanku] Re: Pakaian Muslim, Perlukah??


 
----- Original Message ----- 
From: Anwari Doel  Arnowo 
To: RumahKitaBersama@ yahoogroups. com 
Sent: Saturday, November 01, 2008 12:08  AM
Subject: [RumahKita] Pakaian Muslim,  Perlukah??

Pepatah petitih: ... JANGANLAH HANYA MELIHAT KULIT LUARNYA SAJA ..
BRAVO  BUAT PAK KOMARUDDIN HIDAYAT,
Anwari Doel Arnowo 1 Nopember 2008 - 12:07  AM

Kiai Hasyim Asy'ari dan Bung Hatta 
Friday, 31 October 2008 

SAMBIL menunggu jam penerbangan Yogyakarta– Jakarta, tanpa disengaja 
saya berjumpa teman dan guru saya, KH Dr Agil Siraj, yang pernah 
tinggal dan menuntut ilmu di Arab Saudi selama 13 tahun. 

Saat  berbincangbincang mengamati perkembangan dakwah Islam di 
Indonesia  belakangan, secara ringan dia mengungkapkan komentarnya 
yang membuat saya  terhenyak. "Mestinya kita belajar dari Bung Hatta 
dan Kiai Hasyim  Asy'ari,"katanya. "Apa maksud Ustaz?" tanya saya. 
Coba lihat, Bunga Hatta  lama tinggal di Eropa, tetapi tetap menjadi 
orang Indonesia. 

Menjaga dan memperjuangkan kepribadian Indonesia. Begitu pun Kiai 
Hasyim Asy'ari, kakeknya Gus Dur. Bertahun-tahun belajar dan tinggal 
di Arab Saudi,tetapi tetap menjadi orang Indonesia. Berpakaian dan 
berperilaku sebagai muslim Indonesia.Keduanya sangat mencintai 
Indonesia. Berjuang dan berkorban demi kejayaan Indonesia. Sampai di 
situ saya semakin dibuat merenung, ingin mendengarkan komentar lebih 
lanjut dari teman asal Cirebon dan meraih doktor dari Universitas 
Ummul Qura ini. 

Meski Bung Hatta lama di Barat, mendalami ilmu  dari Barat, tapi 
beliau berani berkonfrontasi dengan Barat ketika kekuatan  Barat 
merugikan bangsanya sendiri. Begitu pun Kiai Hasyim. Dalam banyak 
hal yang sangat mendasar bahkan beliau mengkritik tradisi dan 
pemikiran Islam yang tumbuh di Arab Saudi, yang dikenal literalistik 
dan kurang menghargai tradisi. 

Meski tampak sepele, ternyata Ustaz  Agil juga mengamati masuknya 
pengaruh pakaian Arab ke Indonesia. Kiai  Hasyim dan kiai-kiai lain 
yang lama belajar di Arab Saudi dan Timur Tengah  tidak mempromosikan 
pakaian gamis model Arab. Beliau hanya mengenakan  pakaian gamis 
sewaktu salat saja. Tetapi ketika ke luar rumah, semuanya  berpakaian 
Indonesia. 

"Saya sendiri yang lama tinggal di Arab  Saudi kadang jadi heran, 
mengapa pakaian gamis model Arab semakin populer  di Indonesia, 
dipakai di mana-mana, bahkan untuk berdemonstrasi di jalanan  dan di 
lapangan Monas," kata Ustaz Siraj dedengkot NU ini. Dalam hati saya 
bertanya, apakah pendapat semacam ini hanya dimiliki Ustaz Agil 
Siraj  ataukah juga ulamaulama NU yang lain? 

Apakah semakin meluasnya pakaian  model Arab menunjukkan naiknya 
semangat Islam Indonesia yang datang dari  Arab? "Ada orang Indonesia 
yang kebarat-baratan, ada pula yang  kearab-araban. Mengapa kita 
tidak bercermin dan belajar dari Bung Hatta  dan Kiai Hasyim," 
gugatnya lagi. Para kiai saya dulu,lanjutnya, kalau  mengajar membaca 
Alquran pada santrinya sangat tegas dan keras.Kalau salah  tajwidnya, 
yaitu cara benar membaca Alquran, beliau marah. 

Bahkan  ada yang sampai memukul dengan lidi, sehingga para santri 
harus serius  belajar karena takut kena marah dan kena pukul. Tapi 
yang sangat  mengagumkan, begitu bergaul dengan masyarakat dan 
menyampaikan dakwah,  para kiai dulu sangat lembut dan santun. Dengan 
sabar mereka membimbing  umat ke jalan yang benar dan tidak pernah 
menggunakan kekerasan. 

Tak ada teriak-teriak sambil mengacung-acungkan pentungan. "Mereka 
belajar dari cara dakwah Wali Songo yang memang sangat cocok untuk 
masyarakat Indonesia," lanjut Ustaz Agil. Karena sikapnya yang 
bijak,  sabar dan lembut itu, maka Islam menjadi agama yang dipeluk 
mayoritas  bangsa ini dan secara perlahan tradisi yang tidak sejalan 
dengan ajaran  Islam diluruskan, bukan dengan jalan kekerasan dan 
permusuhan. Ketika  asyik bincang-bincang, terdengar panggilan untuk 
naik pesawat. 

Sepanjang perjalanan saya renungkan kembali apa yang disampaikan 
Ustaz Agil, termasuk kritiknya yang cukup tajam terhadap fenomena 
pesantren, kiai, dan politik. Menurutnya, dulu para kiai dan 
pesantren  sangat independen secara ekonomi dan politik sehingga 
wibawanya disegani  oleh pemerintah dan masyarakat. Pesantren dulu 
ibarat sumur, orang  berdatangan untuk menimba air, minta berkah, dan 
wejangan pada kiai,  termasuk para pejabat negara. 

Bahkan ketika orangtua melahirkan bayi,  mereka datang untuk meminta 
nama bagi anaknya.Ketika sebuah keluarga akan  membagi harta waris, 
mereka minta fatwa pada kiai. Kiai dulu tidak pernah  minta bantuan 
ke pemerintah atau siapa pun. Sebaliknya, justru bantuan  yang 
berdatangan tanpa diminta dan diundang. 

Sekarang suasana  sudah berubah. Sudah muncul kekuatan baru yang 
namanya negara dengan  jaringan birokrasinya, dari tingkat presiden 
sampai lurah, bahkan RT/RW.  Sangat disayangkan, pemerintah dan 
politisi ikut merusak kultur pesantren  yang semula mandiri menjadi 
kian melemah dan tergantung pada negara. Para  politisi datang 
menawarkan berbagai bantuan dengan imbalan agar mereka  memberikan 
dukungan politik setiap pemilu atau pemilihan kepala daerah. 

Repotnya lagi, kalangan kiai dan pesantren juga sulit menolak karena 
mereka memerlukan dana, baik untuk pesantren maupun untuk diri dan 
keluarganya. Bahkan ada kiai yang senang memintaminta bantuan kepada 
pejabat pemerintah. Mestinya, baik para politisi, pemerintah, maupun 
dunia pesantren saling menjaga integritas dirinya,bukan saling 
menjatuhkan dan menggerogoti wibawanya. 

Kalau sudah saling  menjatuhkan, yang rugi adalah negara, umat, dan 
bangsa. Negara yang maju  dan kuat adalah negara yang masyarakatnya 
mandiri, dibentuk melalui  pendidikan yang baik, dan lapangan kerja 
yang tersedia. Masyarakat yang  bodoh dan miskin pada akhirnya akan 
menjadi beban negara,bahkan potensial  menjadi musuh negara. 

Bayangkan, bagaimana kita akan memasuki  kompetisi tingkat global 
kalau energi negara dan masyarakat habis terkuras  untuk berantem, 
bukannya saling mendukung untuk membangun bangsa. Itulah  yang pernah 
terjadi di Aceh dan di beberapa tempat lain. Aset dan energi  bangsa, 
baik berupa uang, sumber daya alam, budaya, agama maupun militer, 
mestinya diarahkan untuk hal-hal produktif demi memajukan bangsa. 
Bangsa ini tengah mengalami situasi mismanagementalias salah urus. 

Para politisi lebih sibuk mengurus dirinya katimbang rakyatnya.Dua 
tokoh yang dikemukakan Ustaz Agil, yaitu sosok Kiai Hasyim Asy'ari 
dan  Bung Hatta, adalah dua figur bapak bangsa yang pantas dan bahkan 
harus  diteladani. Bertemu dalam keduanya kedalaman dan keluasan 
ilmu, integritas  yang kokoh, patriotisme tinggi, dan sangat santun 
dalam  berpolitik.( *) 

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT 
REKTOR UIN SYARIF  HIDAYATULLAH 

    


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke