http://www.harianterbit.com/artikel/fokus/artikel.php?aid=55202


Eksekusi Amrozi cs dipaksakan, TPM gugat Kejaksaan
      Tanggal :  01 Nov 2008 
      Sumber :  Harian Terbit 


JAKARTA - Detik-detik eksekusi terjadap terpidana mati Bom Bali I, Amrozi, Imam 
Samudra, dan Mukhlas, kian dekat. Namun, pihak keluarga Amrozi meminta eksekusi 
itu dibatalkan dan tengah berupaya untuk menempuh jalur hukum lewat peninjauan 
kembali (PK). 

Sementara itu, Ketua Tim pengacara muslim, Abdul Rahim, sebagai kuasa hukum 
tiga terpidana mati Amrozi Cs mengancam akan menuntut pihak kejaksaan sebagai 
eksekutor jika eksekusi terhadap tiga pelaku bom Bali I itu dipaksakan.

"Kami menilai pelaksanaan hukuman mati itu cacat hukum, antara lain, karena 
putusan PK --yang katanya di-tolak MA-- tidak pernah disampaikan kepada tim 
pe-ngacara maupun keluarga terpidana," tambah Abdul Rahim menjawab Harian 
Terbit, Sabtu.

"Kami sudah mengajukan tiga kali PK ke MA yaitu tahun 2007, Januari 2008 dan 
April 2008. Tapi hingga kini kami tidak pernah tahu apa putusan MA terhadap PK 
tersebut. Kita hanya mendengar dari pemberitaan saja bahwa PK tersebut ditolak. 
Padahal menurut UU MA, 30 hari setelah diputus harus disampaikan kepada kuasa 
hukum maupun keluarga terpidana. Bahkan dalam waktu dekat ini giliran pihak 
keluarga (ahli waris) terpidana akan mengajukan PK."

Kalau ada pihak yang mempermasalahkan pengajuan PK hanya sekali, Abd Rahim 
mengatakan ada yurisprudensi di MA bahwa PK bisa diajukan lebih dari satu kali.

Menurut Abdul Rahim, banyak hal yang dipersoalkan dalam perkara Amrozi Cs. 
Contohnya, secara formal orang tidak bisa dihukum dengan UU yang lahir 
belakangan tapi kenyataannya diterapkan dalam kasus bom Bali. "Bom terjadi 12 
Oktober 2002, sedangkan Perpu No 1 tentang tindak pidana teroris- kini menjadi 
UU No 15 Tahun 2003-lahir enam hari setelah kasus bom Bali". 

Pemerintah saat itu mengeluarkan Perpu No 2 - kini menjadi UU No 16 - yang 
isinya untuk kasus bom Bali berlaku Perpu No 1. Pemberlakuan surut terhadap UU 
itu sudah kita gugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan kita menang, tapi 
kenyataannya putusan MK tidak digubris, tandas Abdul Rahim. 

Ditanya apakah sudah mendapat informasi kapan pelaksanaan eksekusi dilakukan, 
Rahim mengatakan sampai saat ini dia dan keluarga terpidana belum diberitahu.

Namun, informasi yang kami dapat ketiga terpidana sudah dipindahkan ke sel lain 
sebagai isyarat eksekusi segera dilakukan. dalam waktu dekat ini kita akan ke 
LP Batu untuk mengetahui kondisi tiga terpidana, tambahnya.

Keluarga Amrozi juga akan mengajukan upaya hukum. "Rencananya dua orang wakil 
keluarga akan menemui tim pembela muslim (TPM) untuk mengajukan upaya hukum 
atau PK agar eksekusi terhadap Amrozi bisa dibatalkan," kata Khozin kepada 
pers, Sabtu.

Suasana di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur, Sabtu 
(1/11) pagi ini, seperti dilaporkan Elshinta masih terlihat normal, warga juga 
masih melakukan aktivitasnya seperti sediakala.

Hingga saat ini, pelaksanaan eksekusi terhadap ketiga terpidana mati itu masih 
menjadi teka-teki. Hingga Sabtu (1/11) pagi ini belum ada kejelasan proses 
tersebut. 

Meski demikian, menjelang detik-detik eksekusi, personel Brimob yang tiba di LP 
Batu, Nusakambangan, semakin banyak. Personel-personel itu diduga kuat 
merupakan regu tembak. Namun, mereka hanya melakukan penjaga biasa di dalam 
maupun di luar LP.

Dikabarkan, Amrozi Cs sudah diisolasi, dan pemberitahuan eksekusi sudah siap 
untuk diserahkan kepada keluarga para Sebelumnya, Koordinator Tim Pembela 
Muslim (TPM) Mahendradatta mengatakan, Amrozi cs tampak tenang-tenang saja. 
Mereka pun belum berpamitan dengan penghuni LP Batu lainnya. "Mereka masih 
salat Jumat dan kemudian bercengkrama dengan beberapa napi," ujar Mahendra.

Sementara itu, menjelang eksekusi, Pelabuhan Gilimanuk disterilkan selama 24 
jam oleh sekitar 80 aparat keamanan dari Polri dan TNI baik yang berpakaian 
dinas maupun preman.

Pengamanan ketat terjadi di pintu masuk pelabuhan maupun di pintu keluar, 
setiap kendaraan, orang dan barang bawaan diperiksa dengan detil oleh 
setidaknya sembilan orang yang berjaga dan dilengkapi dengan senjata laras 
panjang.

Sementara di laut, anggota Polairud dan TNI AL terus berpatroli dengan speed 
boat. Sedangkan jalan-jalan kecil yang diduga sering dijadikan jalan keluar 
oleh pendatang yang masuk tanpa identitas ditutup dengan kawat berduri. 

Aparat-aparat tersebut melakukan pemantauan di Perairan Gilimanuk dan 
sekitarnya untuk menutup kemungkinan komplotan Amrozi yang ingin balas dendam 
menyusup ke Bali melalui Pelabuhan Gilimanuk.

Menurut KP3 Gilimanuk, AKP I Nyoman Suparta Sabtu (1/11) pagi ini bahwa dalam 
situasi seperti saat ini pihaknya bersama aparat keamanan lain tidak mau ambil 
resiko sehingga lapisan pengamanan pun dipertebal. (lam/ant/pnb

Kirim email ke