http://www.suarapembaruan.com/News/2008/11/01/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY

UMP Naik, Buruh Tetap Miskin
 

[JAKARTA] Kalangan buruh menyambut positif kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 
di DKI Jakarta sebesar 10 persen. Namun, kenaikan tersebut dinilai belum 
memenuhi kebutuhan layak para buruh karena masih sangat rendah. 

"Senang ada kenaikan tetapi masih sangat rendah. Kita tahu, saat ini harga 
semua kebutuhan naik. UMP yang hanya Rp 1.069.865 belum memberikan apa-apa," 
kata Dodi (35), buruh di kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur. 

Dengan UMP sebesar Rp 1.069.865 per bulan atau Rp 42.794 per hari (asumsi 25 
hari kerja sebulan), kata dia, belum mampu menutupi kebutuhan seorang buruh 
dengan status masih lajang. Apalagi, yang sudah berkeluarga dan menanggung 
istri dan anak. 

Menurut Dodi, makan dua kali sehari saja paling murah Rp 12.000, ditambah biaya 
transportasi ke tempat kerja sekitar Rp 10.000 per hari. Dengan demikian, dalam 
sebulan sudah habis Rp 660.000. "Untuk bayar kontrakan rumah Rp 300.000 per 
bulan, belum tagihan listrik sama air," katanya. 

Kalau perusahaan betul-betul menetapkan upah standar minimum tuturnya, sudah 
pasti sebelum akhir bulan, dia harus pinjam ke teman untuk ongkos dan biaya 
makan. "Buruh seperti kami sudah enggak mikir untuk menabung, sebab gaji hanya 
untuk mempertahankan hidup. Itu pun gali lubang tutup lubang. Yang kecil 
semakin miskin," katanya. 

Hal yang sama disampaikan Ima (28), rekan Dodi. Ima yang mengaku sudah punya 
anak menegaskan, cukup susah membiayai rumah tangganya dengan UMP hanya Rp 
1.069.865. "Tidak bisa buat apa-apa dengan gaji tersebut. Itu juga kalau utuh 
diberikan perusahaan. Kebanyakan perusahaan telah potong macam-macam, entah 
bayar pajak, tunjangan, dan sebagainya. Jadi UMP itu masih sangat rendah," 
ujarnya. 

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah mengumumkan 
kenaikan UMP pada 2009 mendatang sebesar 10 persen yaitu dari Rp 972.604 
menjadi Rp 1.069.865 per bulan. 

"Sudah ada titik temu di Dewan Pengupahan yang intinya memahami perlunya 
penambahan upah minimum. Tetapi di sisi lain perlu menjaga kelestarian lapangan 
kerja yang dimiliki pekerja. Namun kita paham ada kesulitan para pengusaha 
karena krisis yang utamanya di bidang pemasaran dan cash flow," kata Gubernur 
DKI Jakarta, Fauzi Bowo di Balaikota Jakarta, Jumat (31/10). 

"Saya berharap dengan kenaikan ini tidak terjadi stagnasi dalam bentuk 
pemutusan hubungan kerja (PHK) yang fatal akibatnya," tambahnya. [RBW/L-8] 



--------------------------------------------------------------------------------

Last modified: 1/11/08 

Kirim email ke