Bangka Pos
edisi: Jum'at, 31 Oktober 2008 WIB 

Membangun SDM Unggul
Penulis: Oleh: Dr. Ir. Rofiko H Mukmin, MTP (Kepala Dinas Komunikasi dan 
Informatika)
Peningkatan kualitas sumber daya manusia pada dasarnya diperoleh melalui 
pendidikan. Pendidikan mempunyai peran utama dalam mempersiapkan sumber daya 
manusia yang dibutuhkan bagi kemajuan daerah dan bangsa. 
Permasalahan yang terkait dengan masalah pendidikan di Provinsi Kepulauan 
Bangka Belitung ini, adalah rendahnya kualitas pendidikan dan output lulusan 
dimana belum mampu memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional.

Hal tersebut disebabkan oleh masih kurangnya sarana prasarana pendidikan selain 
kita juga dihadapkan pada masih rendahnya penghargaan dan kesejahteraan yang 
didapatkan oleh tenaga pendidik. Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2006 adalah 71,2, terjadi kenaikan 
bila dibandingkan dengan tahun 2004 sebesar 69,6. Dari angka IPM tersebut 
mengindikasikan bahwa status pembangunan manusia di Provinsi Kepulauan Bangka 
Belitung tergolong pada kriteria menengah ke atas.

Untuk itu pada periode lima tahun kedua Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 
sebagaimana yang di jabarkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 
(RPJMD) 2007-2012 yang di kenal dengan Masa Bakti Era Emas, pemerintah 
mencanangkan program Babel Cerdas 2011. 
Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi 

Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. 
Tyler mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja 
seseorang, yang kemudian akan meningkatkan pendapatannya. Peningkatan 
pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang 
bersangkutan, untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup 
masyarakat berpendapatan rendah. 

Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku 
ekonomi dalam melaksanakan fungsi-fungsi produksi, distribusi, dan konsumsi. 
Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk 
berbagai tingkatan yaitu top, middle, dan low management. Pendidikan juga 
mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu 
mengambil risiko dalam inovasi teknologi produksi. 

Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan 
orang-orang yang menggunakannya. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah 
melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan 
kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. Intervensi terhadap fungsi 
konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong 
peningkatan pendapatan. 

Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsumsi, 
yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah tabungan yang berasal dari 
pendapatan yang disisihkan. Tabungan ini akan menjadi investasi kapital yang 
tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. 


Kontribusi Pendidikan


Bagaimanakah keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Untuk menjawab hal 
tersebut di atas, kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. 
Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada 
kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan, yang dikenal 
dengan istilah Investment in Human Capital. Teori ini didasari pertimbangan 
bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu 
negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. 

Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung pembangunan 
adalah pendidikan masyarakat. Teori human capital mengasumsikan bahwa 
pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat 
yang memiliki produktifitas yang tinggi. Menurut teori ini pertumbuhan dan 
pembangunan memiliki 2 syarat, yaitu:

1)    Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien, dan
2)    Adanya sumber daya  manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada.

Sumber daya manusia seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. Hal 
inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam 
pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. 
Dengan kata lain, pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. 
Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat, yang 
dikaitkan dengan penggunaaan sumber daya yang terbatas. Pola keterkaitan antara 
pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan karakteristik khas setiap 
negara. Secara ringkas tampak berikut ini:

Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. 

Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari 
intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam 
pemasaran. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan 
pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. Ekonomi di negara sosialis, 
memiliki konteks yang berbeda dalam menginterpretasikan pertumbuhan ekonomi dan 
pembangunan. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses 
produksi dan pemasaran. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan 
pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara, 
bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. 


Negara Industri vs Non-Industri. 


Di Amerika Serikat yang sudah maju, persentase pekerja yang bekerja di sektor 
industri sebesar 33% dan di bidang jasa/service sebesar 66%. Di Meksiko 
persentase di sektor yang sama adalah 23% dan 33%. Di negara maju, penduduknya 
memiliki pendapatan per kapita yang lebih tinggi, pemakaian teknologi yang 
canggih, konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang 
berkembang. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar, sebagai 
akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi, sehingga 
jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi 
pada sistem ekonomi yang telah berjalan. 

Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat 
dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat 
pertumbuhan ekonomi. Di negara non-industri, perekonomiannya sangat tergantung 
kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang 
bekerja di sektor non-industri.


Pendidikan dan Pekerjaan


Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap 
pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. 
Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human 
capital. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masyarkaat modern. 

Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan 
kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. 
Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan 
dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. 

Harapan kita tentunya sangat terletak pada eksistensi dukungan perguruan tinggi 
yang ada di Bangka Belitung. Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu 
disimak di sela-sela harapan kita, bahwa kualitas keluaran perguruan tinggi 
ditentukan oleh 3 (tiga) unsur utama dalam pengelolaan pendidikan: Input, 
Process dan Outpput.

Input, adalah bibit mahasiswa yang akan melakoni proses dan akan melakoni 
output. Oleh karena itu perguruan tinggi dalam hal penerimaan mahasiswa baru, 
harus berupaya dalam melakukan mekanisme seleksi yang cerdas untuk mendapatkan 
input unggul yang dapat mengangkat citra perguruan tinggi lokal. 

Proses pembelajaran dilakukan secara kemitraan dengan fakultas ekonomi maupun 
fakultas lainya yang berada di luar dan dalam negeri dengan menggunakan 
kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang sistemnya terintegrasi dengan strategi 
pembelajaran berbasis masalah/problem based-learning (PBL) sehingga mahasiswa 
berusaha belajar secara mandiri sebagai adult learning dan independent 
learning. 

Sedangkan, untuk mendapatkan output yang berkualitas dengan segala kemampuan 
kompetensi yang dimilki oleh seorang keluaran bukan hanya dilihat dari 
kemampuan knowledge-nya akan tetapi juga ditentukan oleh kemampuan 
psikomotoriknya/keterampilan serta kemampuan attitude/prilakunya. 

Sains dan teknologi telah menuntun manusia menuju peradaban yang lebih maju dan 
merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan masyarakatnya. Pada era 
globalisasi sekarang ini, penguasaan sains dan teknologi merupakan indikator 
signifikan dalam percepatan pertumbuhan/pembangunan suatu bangsa. Upaya 
mengejar ketertinggalan sains dan teknologi bangsa-bangsa yang sedang membangun 
terhadap bangsa-bangsa yang sudah maju bukanlah suatu hal yang mudah karena 
kondisinya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai kebudayaan masyarakat setempat. 
(bersambung

++++

Bangka Pos
Membangun SDM Unggul 



(Orasi Ilmiah Disampaikan pada Acara Wisuda 2008 STIE-IBEK Babel)



edisi: Sabtu, 01 November 2008 WIB 

Penulis: Oleh: Dr. Ir. Rofiko H Mukmin, MTP Kepala Dinas Komunikasi dan 
Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 
Sains adalah suatu proses pemikiran dan analisis yang rasional, sistematik, 
logik dan konsisten. Hasilnya dari ilmu pengetahuan dapat dibuktikan dengan 
percobaan yang transparan dan objektif.

PENDEKATAN rasional digabungkan dengan pendekatan empiris membentuk 
langkah-langkah yang disebut metode ilmiah. Kerangka berpikir ilmiah yang 
berintikan proses logika-hipotesa-verifikasi ini pada dasarnya terdiri dari 
langkah-langkah: (1) perumusan masalah (2) penyusunan kerangka berpikir dalam 
pengajuan hipotesis (3) perumusan hipotesis (4) pengujian hipotesis, dan (5) 
penarikan kesimpulan (Suriasumantri, 1984: 128). Ada dua pilar yang menopang 
sains yaitu observasi dan konseptualisasi. Sains berhubungan dengan fakta dan 
bukan dengan pertimbangan nilai-nilai. Terdapat karakteristik antara sains dan 
teknologi. Value judgements tidak terletak dalam wewenang sains. Sifat dari 
sains adalah bebas nilai, obyektif, dan netral. Lain halnya dengan teknologi, 
sekalipun pada dasarnya netral, dalam situasi tertentu dapat tidak netral lagi 
karena mengandung potensi merusak dan potensi kekuasaan. 


Dinamika Masyarakat 


Dalam satu dekade yang lalu telah berkembang teori yang disebut Atlas Teknologi 
(technology atlas) yang menjelaskan bagaimana keberhasilan pemanfaatan suatu 
teknologi ditentukan oleh empat komponen yang kait-mengkait, dimana 
ketidakhadiran salah satu komponen saja akan menyebabkan sistem tidak dapat 
berfungsi dengan baik. Komponen-komponen dari Atlas Teknologi tersebut antara 
lain adalah (Astrid S. Susanto, 1991: 211):
(1) Technoware (object-embodied technology) 
Berkaitan dengan wujud peralatan seperti peralatan manual, peralatan 
elektronik, mesin- mesin, serta fasilitas lain yang terintegrasi. 

(2) Humanware (person-embodied technology) 
Berkaitan dengan wujud kemampuan sumber daya manusia seperti kemampuan 
pemasangan, pengoperasian, perbaikan, pemeliharaan, peningkatan, dan lain-lain. 

(3) Orgaware (institution-embodied technology) 
Berkaitan dengan wujud organisasi seperti keterkaitan hubungan indivual, 
kolektif, departemental, industrial, nasional, internasional, dan lain-lain. 

(4) Infoware (document-embodied technology) 
Berkaitan dengan wujud informasi seperti spesifikasi, utilisasi, generalisasi, 
cara-cara memperoleh data dan informasi, serta kegiatan lainnya yang berkaitan 
dengan upaya menghasilkan suatu informasi yang akurat secara efektif dan 
efisien. 

Dari Atlas Teknologi tersebut jelas terlihat bahwa unsur manusia sebagai 
pribadi maupun masyarakat sangat berpengaruh bahkan mendominasi efektifitas 
teknologi secara umum. Transformasi kebudayaan melalui teknologi adalah bagian 
dari proses modernisasi. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sangat 
penting untuk dikuasai dan diterapkan bangsa Indonesia. Abad 21 ini adalah abad 
masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge society), di mana TIK adalah 
platform utamanya. Masyarakat Indonesia yang berjumlah sudah melebihi 220 juta 
ini harus dipersiapkan agar dapat tumbuh berkembang dan menjadi bangsa yang 
terhormat di era ini (knowledge society readiness).

Visi penguasaan IPTEK di bidang TIK adalah "TIK sebagai kekuatan utama 
peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan dan peradaban bangsa". Secara 
universal penerapan TIK menjanjikan tiga hal: (1) peningkatan produktivitas 
(melalui kekuatan komputerisasi), (2) peningkatan kecerdasan kelompok (melalui 
luasnya jaringan komunikasi), dan (3) peningkatan kreativitas dan daya ekspresi 
(melalui keindahan multimedia).


Arah Kebijakan


Program riset dapat dilakukan melalui program riset nasional, program riset 
daerah, maupun program riset institusi swasta. Program Riset Nasional 
dikoordinasi dan didanai oleh Kementrian Negara Riset dan Teknologi (KMNRT) 
dengan memobilisasi sumber daya dan institusi penelitian dalam koordinasi 
KMNRT. 
Riset Nasional TIK haruslah secara seimbang diarahkan menjawab kepentingan 
beberapa stakeholdersnya, antara lain yakni:

1) Masyarakat menuju knowledge society, terutama agar seluruh masyarakat dapat 
menikmati keuntungan (benefit) TIK secara terjangkau sehingga menjadi 
produktif, cerdas, dan kreatif. Riset ini ditujukan untuk kepentingan besar 
sebagian masyarakat Indonesia yang miskin dan di desa-desa yang saat ini tidak 
terlayani TIK.

2) Publik menuju e-Services, terutama agar sektor layanan publik dapat berjalan 
dengan efektif, berkualitas dan efisien (hemat) pada target layanannya.

3) Pemerintah menuju e-Government, terutama agar roda pemerintahan dan layanan 
pemerintah dapat berjalan lancar, hemat, dan bebas korupsi; serta masyarakat 
demokratis dapat terwujud. 

4) Industri (termasuk BUMN) menuju industri TIK global, terutama agar industri 
nasional tumbuh berkembang dalam era persaingan global, serta menjadi tuan 
rumah di Indonesia.

5) Masyarakat IPTEK dan lembaganya menuju world class level, terutama agar 
IPTEK yang strategis dikuasai lembaga nasional (kemandirian), serta masyarakat 
IPTEK Indonesia tumbuh dalam lingkungan dan budaya kondusif menuju kelas dunia 
dalam menghasilkan IPTEK baru.

Jadi arah riset nasional secara horizontal menjawab kepentingan kontemporer 
masyarakat, publik, pemerintah, dan industri nasional (termasuk BUMN), dan 
secara vertikal menjawab kepentingan jangka panjang pengembangan IPTEK baru 
untuk kelangsungan serta kejayaan bangsa.


Prioritas Utama


Pemberian skala prioritas penguasaan dan penerapan didasarkan pada urutan 
kepentingan nasional dan nilai strategis yang diimplikasikan RPJM Nasional 
(Perpres 7 Th 2005). Untuk itu komisi mengusulkan prioritas dengan urutan 
sebagai berikut:

1) Solusi Telekomunikasi, Internet, dan Komputer Murah dan Hemat Energi Untuk 
Masyarakat Miskin dan Pedesaan: Penguasaan dan penerapan teknologi berbasis 
Internet Protocol yang diperlukan untuk perluasan infrastruktur, layanan, 
pengelolaan, penanganan pemakai, dan ekonomi internet secara nasional dan 
bersifat andal/trustworthy, hemat energi, murah, yang dapat menjangkau sampai 
ke pelosok. 

2) Teknologi Sekolah Digital dan Distance Learning: Penguasaan dan penerapan 
TIK untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesempatan belajar bagi seluruh 
masyarakat Indonesia pada segala usia. 

3) TIK untuk Layanan Publik dan Pemerintahan: Penerapan dan pemanfaatan TIK 
untuk berbagai kebutuhan publik dan pemerintahan, termasuk untuk menunjang 
layanan kesehatan (telemedicine), penanganan bencana dan keadaan darurat 
beserta peringatan dininya, kependudukan, basis data nasional, pemilu, pajak, 
dan e-Government

Kirim email ke