> "tawangalun" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Ha ha ha wong Kristen gak punya data bahwa
> bocah 7 th yang nikah lantas hidupnya
> menyedihkan. Tapi saya dikandani ibu saya
> bahwa Kakek saya berhubungan badan dg
> nenek saya nunggu M dulu,sebab tuntunan
> Islam aqil baliq itu kalau wanita setelah
> M,kalau pria setelah mimpi bergulat dg
> bidadari. Jadi saya yakin bahwa Aisyah
> juga berhubungan intim setelah M.La kalau
> hanya nikah itu baru lahirpun rapopo.

Bukan masalah Kristen atau Islam, dunia beradab sekarang membuat
aturan berdasarkan eksperiment, observasi, statistik, maupun data2
medis yang didapatkannya melalui penelitian.

Hasilnya, poligami dilarang, menikahi anak dibawah umur dilarang,
demikianlah pelarangan itu punya dasar ilmiah yang sangat kuat yang
tidak bisa dibantah siapapun juga, jadi aturan itu sudah menjadi
bagian HAM yang juga ditanda tangani pemerintah RI.

Semua aturan2 itu bukan didasarkan keimanan maupun kepercayaan apapun
juga tapi benar2 netral dan ilmiah sehingga tak perlu berdebat tentang
hukum Islam dan membandingkannya dengan hukum Kristen karena hukum dan
UU yang berlaku dalam HAM itu telah diterima seluruh dunia baik Islam,
Kristen, Hindu, Buddha, apapun kepercayaannya sudah menerima aturan
ini dan berjanji menegakkannya di-negara mereka masing2 sehingga
karena itulah setiap anggauta PBB wajib menanda tanganinya dan yang
menolak menanda tanganinya tentu tidak bisa menjadi anggauta PBB.

Cukup jelas bukan ???  Artinya kalo mau dipaksa melanggarnya jangan
salahkan IMF, jangan salahkan Imperialis, jangan salahkan non-Islam,
karena pelanggaran apapun yang anda lakukan pasti ada sanksinya. 
Justru kalo anda melanggar Syariah Islam tidak akan ada sanksinya
bahkan Allah sekalipun mengutuk Syariah Islam itu yang mencatut
namanya sebagai iblis biadab yang kejam.

Pernikahan apabila sudah diresmikan tidak ada keharusan untuk tidak
berhubungan badan justru pernikahan ini artinya izin untuk melakukan
hubungan badan.  Kalo memang belum bisa berhubungan badan, janganlah
menikah karena kalo menikah tidak ada lagi larangannya untuk
berhubungan badan karena janji tidak berhubungan badan tidak bisa
diterapkan atau dipaksakan kepada pasangan yang sudah menikah.

Kalo mau menolong bocah2 agar bisa jadi orang hebat, kasih saja duit
kepada orang tuanya bukan kasih mahar untuk bisa diajak tidur bersama
dengan bandot tua.

Anda tidak bisa berdalih apapun juga dengan memutar balik kenyataan2
ilmiah untuk memaksakan keimanan yang sama sekali mustahil dan sudah
dibuktikan kebohongan2nya.  Kalo tidak puas, silahkan saja berdebat
dengan para ahli2nya di UN yang sejak UN berdiri tidak pernah Syariah
Islam bisa diterima secara rasional dan selalu kalah dalam adu
argumentasi karena datanya cuma angan2 sedangkan kenyataan2 ilmiahnya
bertentangan dengan angan2 itu sendiri.

Mana bisa pasangan nikah ini hidup dengan tenang dan damai apabila
melanggar aturan yang sudah berlaku diseluruh dunia, bahkan dunia
Islam sendiri sekarang berdiri dipihak Amerika dan UN sehingga tak ada
topangan bagi para fundamentalist untuk bisa memaksakan apalagi
memenangkan argument2nya yang hanya angan2 itu.

Menstruasi dan akil baliq sama sekali bukan tanda2 seorang gadis boleh
dan siap dinikahi, yang menentukan kesiapan boleh atau tidaknya
dinikah bukanlah perkembangan fisik seorang gadis melainkan
perkembangan kejiwaan gadis itu yang dalam hal ini tidak diajarkan
dalam Syariat Islam yang hanya mengutamakan Syahwat nafsu dan mahar
dalam menimbang keberhasilan pernikahan.

Menstruasi artinya gadis ini sudah bisa dihamili bukan berarti sudah
siap menjadi seorang ibu untuk memelihara bayinya.  Untuk persyaratan
menikah diwajibkan kesiapan jiwa bukan kesiapan fisiknya.

Jadi sekali lagi saya katakan disini, Syekh yang mengawini bocah itu
adalah penderita pedophilia yang harusnya dipenjara bukan dijadikan
teladan.  Kalo mau mendidik berikanlah dana pendidikan kepada orang
tuanya bukan dikawini.  Mengawini itu bukanlah mendidik melainkan
menyambung keturunan dan melepaskan syahwat.

Ny. Muslim binti Muskitawati.







Kirim email ke