Refleksi:  Hebat juga untuk mencalonkan caper-ceper harus dimiliki  20% kursi 
DPR atau 25% perolehan suara sah nasional. Bisa di bayangkan saja kalau salah 
satu daerah atau propinsi  di luar pulau Jawa yang berpenduduk paling tinggi 5 
juta orang  mencalongkon wakilnya menjadi calon presiden NKRI,   sampai dunia 
kiamat pun tidak ada orang daerah bisa dikwalifikasi kan  menjadi calon 
presiden (caper).  

Agaknya tidak keliru bila dikatakan bahwa NKRI  yang sedang merangkak  menuju 
menjadi negara teokratis . Jika dalam waktu mendatang tujuan tsb terlaksana dan 
syarat langitan diterapkan, ini berarti syarat 20% atau 25% akan lebih lagi 
diperketat,  konsekwensinya ialah kaum minoritas tidak akan mungkin dapat 
menduduki kursi empuk nahkoda bahtera negara.  Dirgahayu NKRI!!

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=350637

Kamis, 30 Okt 2008,



Golkar dan PDIP Perkirakan Hanya Tiga Capres 


Setelah Syarat Capres Ditetapkan 20 Persen Kursi DPR atau 25 Persen Suara 
JAKARTA - Setelah disahkannya RUU Pilpres (pemilihan presiden), parpol-parpol 
peserta Pemilu 2009 mulai saling lirik. Mereka mulai melakukan kalkulasi 
politik untuk menyiasati persyaratan untuk mengajukan capres-cawapres sebuah 
parpol atau koalisi harus mengantongi 20 persen kursi DPR atau 25 persen 
perolehan suara sah nasional.

"Feeling saya, tiga pasangan calon. Paling banyak empat, tapi agak berat," kata 
Ketua Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso setelah sidang paripurna 
pengesahan RUU Pilpres di gedung DPR kemarin (29/10). 

Menurut dia, dengan begitu, besar kemungkinan pilpres tuntas dalam satu 
putaran. "Golkar penginnya memang begitu. Biar pemilu bisa lebih efisien," 
ujarnya. 

Priyo yang juga ketua DPP Partai Golkar itu menambahkan bahwa format SBY-Kalla 
tetap menjadi prioritas. Dia juga optimistis, figur Jusuf Kalla tetap menjadi 
tokoh luar Jawa yang paling leading di antara figur-figur lain yang juga 
berlatar belakang luar Jawa. "Tak ada yang lain," katanya.

Sekjen PDIP Pramono Anung juga memprediksi hanya muncul tiga pasangan calon 
presiden. "Selain SBY dan Megawati, bisa Sultan atau Wiranto sebagai capres 
ketiga," katanya.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Bima Aria mencoba 
mengajukan simulasi sederhana. Dia mengasumsikan SBY-Kalla tetap setia 
bergandengan tangan menuju Pilpres 2009. Bila Golkar sukses mendapat 20 persen 
suara dan demokrat 8-10 persen suara, koalisi keduanya sudah menyedot potensi 
30 persen suara nasional.

Sementara itu, kemungkinan pasangan kedua adalah Megawati Soekarnoputri dengan 
Hidayat Nurwahid. Seandainya PDIP juga bisa merebut 20 persen suara dan PKS 
mendapat 8-10 persen suara, koalisi nasionalis-religius itu juga berpotensi 
menyedot 30 persen suara nasional.

"Sisa untuk koalisi ketiga 40 persen suara. Ini pun masih tergerogoti 
parpol-parpol kecil yang masuk ke blok SBY atau blok Mega. Jadi, agak susah 
diharapkan bisa muncul dua pasangan calon lagi. Saya kira, maksimal memang tiga 
pasangan," bebernya.

Lantas, siapa pasangan ketiga itu? Menurut Bima, perolehan suara PKS pada 
pemilu legislatif akan menjadi kunci peta koalisi dalam Pilpres 2009. Kalau 
suara PKS meningkat tajam hingga di atas 10 persen, partai berasas Islam itu 
akan percaya diri memimpin koalisi alternatif dengan menjagokan Hidayat 
Nurwahid.

Dengan begitu, PKS tidak akan berkoalisi dengan PDIP. "Seandainya Hidayat 
menjadi capres, cawapresnya harus nasionalis luar Jawa. Misalnya, Gubernur 
Gorontalo Fadel Muhammad. Dia juga diharapkan bisa mencuri basis suara Golkar," 
ujarnya. Sedangkan Megawati akan menggandeng Sri Sultan atau Prabowo sebagai 
cawapresnya. (pri

Kirim email ke