Riau Pos
Jumat, 31 Oktober 2008 

      Ayo, Jadi Politis!  
     
      Sagnet kursi legislatif memang luar biasa. Meski dirundung berbagai isu 
miring, bahkan sejumlah oknumnya sudah dan sedang diproses hukum, rupanya tidak 
menyurutkan minat masyarakat menjadi Caleg. Mulai dari pengamat, akademisi, 
mantan aktivis kampus, mantan pejabat, purnawirawan TNI/Polri, pengacara, 
aktivis LSM, wartawan, pengusaha, mahasiswa, artis, pedagang dan tidak 
ketinggalan ibu rumah tangga. Semua berlomba menjadi wakil rakyat. 

      Memangnya ada apa di sana? Karena ingin memperjuangkan kepentingan 
rakyatkah? Karena mengusung idealisme dan bermaksud menjadikannya sebagai 
mimbar dakwah? Semoga! Tapi sinyalemen yang berkembang justru antusiasme 
gelimang fasilitas telah menanti.  Tentu saja fenomena ramai-ramai jadi Caleg 
ini masih perlu pembuktian. Time will tell. 

      Jati Diri Politisi
      Politisi adalah orang yang menyibukkan diri memikirkan, memperhatikan  
dan memelihara urusan-urusan rakyat. Maka, siapa saja -tidak harus seorang 
pejabat atau anggota dewan ataupun fungsionaris partai- dengan sendirinya 
menjadi sosok politisi tatkala ia berperilaku demikian. 

      Contoh menarik adalah masa Nabi SAW (khususnya pasca-hijrah dan tegaknya 
negara Islam di Madinah). Masa itu diakui sebagai kurun generasi terbaik. 
Ternyata, di antara keunggulan generasi tersebut adalah jiwa politisi yang 
melekat erat dalam diri seluruh sahabat. Termasuk mereka yang statusnya hanya 
rakyat biasa.

      Kita mengenal generasi sahabat Rasulullah SAW seperti Shuhaib, Bilal, Abu 
Dzar dan yang lainnya. Mereka merupakan contoh figur politisi sejati 
-senantiasa memperhatikan serta memperjuangkan kepentingan rakyat- meski tidak 
menduduki jabatan formal kenegaraan. 

      Lagipula, bukankah Rasul SAW telah mewasiatkan: siapa saja yang bangun di 
pagi hari lantas ia tidak memikirkan nasib dan kondisi umat Muslim di seluruh 
dunia, (tidak hanya di Indonesia, apalagi sebatas wilayah Dapil-nya) maka 
hakikatnya ia bukanlah golongan umat Islam.

      Spirit hadits di atas yang menghubungkan identitas ke-Islaman seseorang 
dengan kepeduliannya terhadap nasib umat, harusnya menggugah para politisi 
Muslim untuk bersegera membangun kesadaran politik rakyat. Menjadikan rakyat 
supaya berjiwa politisi. 

      Untuk itu, selain integritas pribadi, sang politisi juga mesti memiliki 
dua kapasitas: Pertama, kemampuan berpikir politik menggunakan paradigma Islam. 
Ini muaranya adalah analisa politik yang tajam, akurat dan - yang paling 
penting ideologis. Berbekal ini, seorang politisi bisa menyuarakan kepada 
publik tentang hakikat suatu persoalan dalam perspektif Islam. Jadi, ukurannya 
bukan sekadar orangnya vokal.

      Kedua, kemampuan mengambil tindakan politik secara efektif. Caranya 
berinteraksi dengan berbagai kalangan, terutama para tokoh masyarakat untuk 
mengarahkan opini serta dukungan masyarakat guna mempengaruhi 
kebijakan-kebijakan penguasa. 

      Walhasil, kita perlu banyak politisi yang mumpuni untuk menggerakkan 
perubahan masyarakat melalui pencerdasan politik rakyat. 

      Politisi dan Kesadaran Politik 
      Seorang Caleg debutan di daerah ini mengeluh. Ia mengisahkan, bahwa 
masyarakat di kampungnya telah "dibodohi" oleh sejumlah oknum politisi selama 
ini. Alih-alih rakyat dididik agar cerdas politik. Yakni secara sistematis dan 
kontiniu dibina. Dengan begitu mereka dapat memahami secara benar hak-hak dan 
kewajiban politiknya; juga mengerti bagaimana tanggung jawab penguasa guna 
melindungi serta memajukan rakyatnya dalam kerangka hukum-hukum Allah SWT. 

      Yang terjadi justru rakyat 'dininabobokan'. Rakyat tahunya, politisi itu 
datang menyumbang bingkisan uang dan lain-lain jelang dan selama masa kampanye. 
Selebihnya, rakyat silakan menunggu kunjungan waktu reses plus safari Ramadan. 
Lalu, aspirasi mereka pun bakal "ditampung" dan "disalurkan".

      Padahal, dalam konteks penguatan negara dan masyarakat, kesadaran politik 
rakyat amat penting. Ia berperan menentukan efektivitas kebijakan negara 
melalui fungsi social control dan partisipasinya sekaligus. Partisipasi rakyat 
yang positif idealnya berbasis kesadaran. Bukan dipaksa melalui rekayasa 
mobilisasi apalagi disertai intimidasi atau imbalan tertentu. 

      Oleh karena itu, fokus utama seorang politisi mestinya bagaimana 
membangun dan mengokohkan kesadaran politik masyarakat. Mengutip AQ Zallum, 
bahwa kesadaran politik ialah pandangan terhadap dunia dengan sudut pandang 
khusus. Bagi kaum Muslim perspektif dimaksud tidak lain Akidah Islam, yaitu 
sudut pandang Laa Ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah. Konkretnya, seluruh 
aspek urusan kehidupan manusia harus diatur berdasarkan prinsip tauhid 
tersebut. 

      Sementara realitasnya, tata aturan sosial kemasyarakatan kita tidak atau 
belum sepenuhnya merefleksikan prinsip keyakinan mayoritas rakyat negeri ini. 
Adopsi sistem aturan Islam masih setengah hati. 

      Maka, sesungguhnya pada titik inilah kiprah politisi-politisi Muslim 
menjadi sangat urgen dan strategis. Yaitu bagaimana mengedukasi masyarakat agar 
melek politik dan paham Islam sebagai sebuah ideologi. Juga bagaimana 
meyakinkan dan terus mendorong para penguasa agar paham lalu tergerak 
menerapkan sistem aturan Islam.

      Apabila para politisi Muslim andal ini benar-benar concern menjalankan 
fungsinya, niscaya opini pro-syariah di tengah masyarakat akan lebih mudah dan 
lebih cepat terbentuk. Pada gilirannya, tatanan masyarakat Islam yang mandiri 
dan kuat pun bisa segera terwujud. Ayo, politisi Muslim buktikan!***


      Farhan Suchail, 
      Ketua Lajnah Tsaqafiyyah Hizbut Tahrir Indonesia-Riau 

Kirim email ke