Refeksi: Tidak salah orang menibun harta, tetapi harus dengan jalan lurus dan  
bukan dengan manipulasi, korupsi  dsbnya seperti yang biasa dilakukan oleh para 
 petinggi bin penguasa NKRI. 

Pak dosen  bilang, penulis artikel mengemukakan :"Mengapa kita masih merasa 
berkekurangan, meskipun gaya hidup kita jauh lebih baik dibanding gaya hidup 
kakek-nenek kita? Masalahnya adalah kompetisi, pembandingan sistem nilai yang 
kita telan ketika kita duduk di bangku sekolah.".  Apa komentar Anda terhadap 
pernytaan Pak Dosen?


http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/03/18261071/apa.salahnya.menumpuk.harta


Apa Salahnya Menumpuk Harta?

Senin, 3 November 2008 | 18:26 WIB


The trouble with the rat race is that even if you win, you're still a rat. - 
Lily Tomlin
excrement is the child's first possession - Franz Alexander
 
Sebagian besar orang mengatakan uang dan kenyamanan material bukan hal yang 
utama dalam kehidupan. Mereka memikirkan hal lain: Tuhan, kebahagiaan, 
kedamaian, cinta dan masih banyak lagi hal lain yang jauh lebih penting. Tetapi 
lihatlah bagaimana hidup dijalankan! Persis berkebalikan dengan apa yang mereka 
pikirkan. 

Orang-orang sanggup mengurangi waktunya untuk bertemu dengan anaknya, 
mendengarkan kisahnya, tapi tak sanggup untuk mengurangi jam kerjanya, 
produktivitasnya. Mereka merasa membaca puisi dan memikirkan arti hidup adalah 
gaya hidup kaum pensiunan, tetapi dengan lahap menelan pelatihan-pelatihan 
motivasi yang memompa semangat mereka untuk meraup sebanyak mungkin keuntungan 
dan kekayaan dalam waktu sekejap.

Jika dihadapkan pada kontradiksi semacam itu, sebagian besar hanya bisa 
mengeluh: kita tak bisa hidup dengan makna saja, tapi kita butuh roti untuk 
menghidupi badan kita. Sederhana bukan? Kita perlu bekerja keras untuk 
memperoleh sesuap nasi. Hanya saja roti dan sesuap nasi gampang menggelembung 
menjadi besar dan bahkan bermetamorfosis menjadi keamanan material dan 
kenyamanan hidup yang tak dapat diduga batasnya. Setelah kenyang, kita 
memerlukan baju. 

Tidak hanya baju yang cukup dengan ukuran badan kita, tetapi baju yang 
dipandang pantas, dan kemudian baju yang sanggup membuat orang berpikir bahwa 
kita adalah manusia yang sebenarnya, manusia sukses. Setelah baju lalu apa lagi 
kalau bukan rumah, kendaraan, dan uang dalam tabungan yang cukup sampai anak 
cucu kita, bukan hanya cukup untuk roti dan nasi, tetapi roti dan nasi yang 
sudah bermetamorfosis. 

Tapi apa salahnya dengan pengejaran uang, penumpukan kekayaan? Jawabannya 
sederhana: bumi itu terbatas. Sumber dayanya nyaris habis. Hampir semua orang 
berpendidikan tahu tentang itu, tapi siapa yang paling banyak menghabiskan bumi?
Materialisme sebagai sistem nilai dijauhi tapi sebagai cara hidup, dipeluk 
dengan erat bahkan lebih mesra dan bernafsu ketimbang kekasih. Dualitas itu 
hanya menghasilkan rasa bersalah yang selalu menggugat kita.

Ketika rasa bersalah itu menguat dan tak sanggup lagi ditolak, kita tetap tak 
sanggup untuk menggunakan energinya untuk membalikkan arah kehidupan, dari 
kehidupan yang tereduksi dalam hitungan-hitungan keamanan, kenyamanan dan 
kebanggaan material menuju hidup itu sendiri. Hidup tanpa embel-embel angka. 
Rasa bersalah itu malahan menjadi beban, menjadi pening kepala, menjadi 
keasingan yang menghasilkan jarak antara diri kita dengan orang-orang yang kita 
cintai. 

Beban-beban semacam itu seringkali malahan mendorong kita mematikan sistem 
dalam kepala kita yang selalu mengingatkan kita akan ada sesuatu yang keliru. 
Mematikan kemampuan kita berefleksi. Kita cenderung ingin mengatakan, "ah well, 
whatever, never mind." 

Persis itu yang terjadi, kita menolak untuk memikirkan konsekuensi jangka 
panjang cara hidup kita, dan menjadi robot-robot mati yang digerakkan oleh 
sistem dunia yang bernama kapitalisme, nafsu untuk memupuk kekayaan. Karena 
berpikir tentangnya akan membuat kita pening kepala. Psikopat ada di sekitar 
kita bahkan telah menjadi diri kita, seseorang yang telah memarkir rasa 
bersalah dua blok jauhnya dari rumah kehidupan kita.

Mengapa kita masih merasa berkekurangan, meskipun gaya hidup kita jauh lebih 
baik dibanding gaya hidup kakek-nenek kita? Masalahnya adalah kompetisi, 
pembandingan sistem nilai yang kita telan ketika kita duduk di bangku sekolah. 

Setiap pelajar bersaing satu sama lain untuk menjadi yang tebaik dalam hal apa 
saja, terutama hal-hal yang dianggap berharga. Coba simak kata berharga, kata 
itu kita pakai sebagai adjektif untuk segala sistem nilai yang kita peluk. Dari 
mana asal-usul kata itu jika bukan dari kamus perdagangan. Ekonomi rupa-rupanya 
telah juga merasuki cara kita berbahasa. 

Kompetisi tak akan usai sepanjang masih ada satu orang kompetitor. Mungkin kita 
akan berhenti dari kerakusan kita setelah di dunia ini hanya tinggal diri kita 
seorang.


V. Didik Suryo Hartoko, S.Psi., M.Si, dosen pada Fakultas Psikologi Universitas 
Sanata Dharma 

<<062407p.jpg>>

Kirim email ke