Memang kurikulum pendidikan dasar di Indonesia kurang menitik beratkan pada 
analisa soal dan kreatifitas berpikir.
Dari kecil, anak-anak sudah dipaksakan untuk menghafal berbagai teori2, namun 
minim atau bahkan tanpa mengaplikasikannya sama sekali.

Kelak anak2 ini akan jadi ahli penghafal saja; tapi tingkat kecanggihan 
berpikirnya rendah.
ouch...does that ring a bell?



________________________________
From: Sunny <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, November 5, 2008 6:12:55 AM
Subject: [zamanku] Indonesia Kekurangan Mahasiswa Sains

 
Refleksi: . Mahasiswa  sains 
ilmu  duniawi al Kafirum tentunya berkekurangan karena tidak dibutukan 
di dunia seberang!
 
Koran Tempo
  
Edisi 04 November 2008 
 Indonesia Kekurangan Mahasiswa 
Sains
 
JAKARTA -- Indonesia masih kekurangan mahasiswa yang memilih bidang 
studi sains. Saat ini, kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen 
Pendidikan Nasional Fasli Jalal, dari sekitar 4,3 juta jumlah mahasiswa di 
seluruh Indonesia, hanya 5 persen atau sekitar 215 ribu orang mahasiswa yang 
mengambil jurusan sains. 
Kurangnya peminat jurusan sains, Fasli menambahkan, juga terlihat dari hasil 
ujian masuk perguruan tinggi. Biasanya pendaftar jurusan sains jauh di bawah 
kapasitas yang disediakan oleh perguruan tinggi. "Hanya beberapa perguruan 
tinggi yang memang kapasitasnya terpenuhi," katanya. 
"Padahal, untuk mengembangkan daya saing bangsa di bidang sains, Indonesia 
butuh minimal 10 persen mahasiswa sains," kata dia setelah membuka Olimpiade 
Sains Nasional Tingkat Perguruan Tinggi Se-Indonesia 2008 di Balai Sidang 
Universitas Indonesia Depok kemarin. 
Kemampuan sains pelajar Indonesia, ia melanjutkan, masih tergolong rendah 
karena terbatas pada hafalan, bukan menganalisis soal. Fakta itu terlihat dari 
hasil tes Program for International Student Assessment 2003 terhadap siswa 
kelas 
II sekolah menengah pertama di 58 negara yang menguji kemampuan berpikir 
anak-anak. 
"Hasilnya, pelajar Indonesia masih berada pada level 1-4 tingkat kecanggihan 
berpikir, yang artinya hanya sebatas menghafal," ujarnya. Itu juga berarti, 
pada 
bidang sains, pelajar Indonesia masih belum bisa mengaitkan sebuah teori untuk 
memecahkan masalah sehari-hari. 
"Fakta itu juga membuktikan bahwa pelajaran sains belum diajarkan secara 
kontekstual sehingga belum menjadi pelajaran yang menyenangkan bagi anak," dia 
menambahkan. Untuk itu, kata Fasli, diperlukan metode pembelajaran yang 
kreatif, 
aktif, dan menyenangkan. Departemen Pendidikan, ujarnya, akan meningkatkan 
kualitas guru sains dengan memberikan beasiswa. REH ATEMALEM 
SUSANTI 


      

Kirim email ke