Tempo
02/XXXIV 07 Maret 2005
Ustad Terjegal di Mufakat
Abu Bakar Ba?asyir dihukum karena melakukan permufakatan jahat dengan pelaku 
bom Bali. Padahal, saksi tidak diperiksa dalam sidang.
Meja hakim belum usai bergetar setelah kena palu putusan, teriakan riuh itu 
sudah muncul. ?Haram hukumnya menerima putusan ini. Saya menolak, dan keputusan 
ini merupakan kezaliman,? kata Abu Bakar Ba?asyir, 66 tahun, kepada majelis 
hakim di sidang vonis kasusnya, pekan lalu. Pekikan ?Allahu Akbar, Allahu 
Akbar? bergemuruh dari ratusan santri di aula Departemen Pertanian, yang 
dijadikan tempat persidangan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. 

Setelah melewati 21 kali persidangan sejak Oktober 2004, putusan itu akhirnya 
dibacakan juga. Majelis lima hakim yang diketuai Soedarto memutuskan, dari 
delapan dakwaan jaksa, hanya satu dakwaan yang terbukti. Yakni, dakwaan kedua 
yang lebih subsider berupa pelanggaran Pasal 187 juncto Pasal 187 ke-3 Kitab 
Undang-Undang Hukum Pidana. Unsur-unsur dalam pasal tersebut menyatakan, 
?Barang siapa dengan sengaja menimbulkan kebakaran, ledakan, atau banjir, jika 
perbuatan tersebut di atas menimbulkan bahaya bagi nyawa orang lain dan 
mengakibatkan orang mati....? 

Kesalahan pimpinan Pondok Pesantren Ngruki di Sukoharjo, Jawa Tengah, ini pun 
tidak banyak. Ia dinyatakan turut serta (deelneming) dalam permufakatan jahat 
antara dua orang atau lebih untuk melakukan kejahatan (Pasal 88 KUHP). 
Perbuatan jahat yang dimaksud dalam dakwaan tersebut adalah kasus bom Bali, 12 
Oktober 2002. Dari tuntutan delapan tahun penjara, hakim memutus Ba?asyir dua 
setengah tahun penjara dan membayar biaya perkara Rp 5.000. 

Fakta yang tak bisa dielakkan, menurut hakim, adalah sepotong dialog Utomo 
Pamungkas alias Mubarok dan Amrozi dengan Ba?asyir, Agustus 2002. Saat itu 
Mubarok dan Amrozi mengundang Ba?asyir menghadiri acara pernikahan Ustad Hajir 
sekaligus mengisi khotbah Jumat di Lamongan, Jawa Timur. Di ruang tamu rumah 
Ba?asyir, Amrozi kemudian meminta izin: ?Bagaimana kalau kawan-kawan mengadakan 
acara di Bali?? Ba?asyir lantas menjawab: ?Terserah pada kalian, karena kalian 
yang tahu situasi lapangan.? 

Menurut majelis, perbuatan ketiganya adalah permufakatan jahat. Sebab, setelah 
izin Ba?asyir itu, ?tidak ada kegiatan lain yang dilakukan Utomo Pamungkas dan 
Amrozi selain menyiapkan peledakan bom di Bali, tanpa diselingi oleh perbuatan 
lain,? kata hakim ketua, Soedarto. Selain itu, menurut hakim, sepatutnya 
Ba?asyir tahu bahwa kawan-kawan yang dimaksudkan Amrozi, di antaranya Mukhlas 
dan Ali Imron, sudah mendapat pelatihan merakit bom. ?Dengan demikian, unsur 
kesengajaan dengan kemungkinan terbukti,? Soedarto menambahkan. 

Meskipun Utomo Pamungkas dan Amrozi tak bersaksi di persidangan (afidavit), 
keterangan dalam berkas keduanya dianggap sah oleh hakim karena mereka sudah 
disumpah ketika diberkas. Ba?asyir memang menolak keterangan keduanya, namun 
hal itu cuma jadi pertimbangan hakim. ?Bantahan terdakwa dinilai wajar,? ujar 
para hakim dalam putusannya. 

Putusan hakim ini jelas mengecewakan pembela Ba?asyir. ?Putusan hakim tidak 
konsisten. Bagaimana mungkin dialog dari saksi yang tidak diperiksa di 
persidangan bisa dijadikan bukti?? kata M. Assegaf, pengacara ustad Ba?asyir. 
?Dialog itu abstrak. Bagaimana bisa jadi bukti persidangan,? Assegaf 
menambahkan. Ia menuduh putusan hakim semata karena rikuh dengan polisi yang 
sudah menangkap dan menahan Ba?asyir. Juga adanya intervensi dari luar negeri. 
?Itu bisa dirasakan, tapi sulit dibuktikan,? ujar Assegaf, menjelaskan bukti 
intervensi yang ia maksudkan. 

Jaksa pun mengaku tak puas. ?Kami akan banding sekaligus kasasi,? kata Salman 
Maryadi, ketua tim jaksa, kepada Tempo. Menurut jaksa yang juga jebolan pondok 
pesantren di Magelang ini, putusan hakim terlalu ringan. Selain itu, untuk 
dakwaan primer yang dinyatakan tak terbukti?yakni dakwaan menyangkut peledakan 
Hotel JW Marriott?jaksa akan melakukan kasasi ke Mahkamah Agung. ?Bagaimana 
mungkin bukti kuat kami diabaikan begitu saja,? ujar Kepala Kejaksaan Negeri 
Jakarta Pusat ini. 

Ba?asyir dituntut dalam dua kasus yang terkait dengan ?jaringan? Jamaah 
Islamiyah (JI), yakni kasus bom Bali dan bom JW Marriott. Meskipun kasus bom 
Bali sudah digugurkan Mahkamah Agung, 3 Maret 2004 (baca kronologi kasus 
Ba?asyir), polisi dan jaksa tak gentar mengajukan dakwaan itu kembali. ?Dakwaan 
bom Bali yang sekarang, unsur dan saksinya berbeda,? kata Salman. 

Ada bukti baru yang dianggap mampu ?membongkar? keterlibatan Ba?asyir, yakni 
sebuah dokumen setebal 211 halaman yang disebut dokumen Sri Rejeki. Dokumen 
yang diperoleh polisi saat penggerebekan sebuah rumah di Jalan Sri Rejeki, 
Semarang, awal 2004, itu diyakini membuktikan kedudukan Ba?asyir sebagai 
pimpinan atau Amir JI. 

Dokumen tersebut ternyata ditujukan kepada Amir JI, Asy-Syeikh Abdush Shomad 
(nama Ba?asyir waktu tinggal di Malaysia tahun 90-an), tertanggal 25 Zulkaidah 
atau 31 Maret 2000. Dokumen itu berisi hasil ?Tadrib Kulliyah Harbiyyah Dauroh? 
pertama atau laporan kegiatan pengajaran di Qiyadah Wakalah atau kamp 
Hudaibiyyah, kamp pelatihan militer milik JI. Laporan itu antara lain menyebut 
17 anggota JI yang telah menamatkan latihan dari kamp tersebut. 

Juga, perkembangan laporan kegiatan dan kurikulum (di antaranya kursus singkat 
militer atau Yarmuk Dauroh Askariyah) yang sudah dilakukan di kamp yang berada 
di Gunung Kararao, Mindanao, Filipina Selatan. Di antara ke 17 orang tersebut, 
tercantum nama tiga pelaku bom Marriott. Selain itu, terdapat nama-nama 
instruktur, yakni Ali Gufron alias Mukhlas dan Utomo Pamungkas alias Mubarok, 
yang terlibat bom Bali. 

Laporan tersebut kemudian diperkuat seorang saksi kunci dari tokoh senior JI 
sendiri, yakni Nasir Abbas. Saksi memiliki keterangan bahwa Ba?asyir hadir di 
kamp Hudaibiyyah, sebulan kemudian, untuk menghadiri acara wisuda peserta 
pelatihan militer. Abbas juga bersaksi bahwa Ba?asyir terlibat serangkaian 
rapat yang merencanakan aksi pengeboman sepanjang tahun 2000. 

Tapi bukti-bukti jaksa ini tidak dipakai hakim. Ba?asyir sendiri juga 
membantahnya. ?Saya tidak pernah ke Filipina karena sepanjang tahun 2000 saya 
sibuk menyiapkan kongres Majelis Mujahidin Indonesia,? ujar Ba?asyir di 
persidangan. Pengakuan ini diperkuat empat saksi orang dekat?semacam ajudan 
Ba?asyir?yang mengaku terus-menerus berada di dekat sang ustad. 

Akhirnya, Ba?asyir hanya terkena kasus permufakatan jahat tentang kasus bom 
Bali saja. 

Arif A. Kuswardono 

Kirim email ke