Jawa Pos

[ Kamis, 06 November 2008 ] 


Diberi Tahu Eksekusi, Amrozi Emosional 

CILACAP - Pelaksanaan eksekusi mati tiga terpidana mati bom Bali, Amrozi, Ali 
Ghufron alias Mukhlas, dan Imam Samudra tak terbendung lagi. Setelah sempat 
batal dari rencana semula pada Senin dini hari (3/11) atau Selasa dini hari 
(4/11), kini rencana baru dipastikan tak molor lagi. Sejumlah persiapan 
memasuki tahap akhir melebihi persiapan pekan lalu.

Persiapan dimulai Selasa malam (4/11) saat Kalapas Batu, Nusakambangan, 
Sudijanto menggelar rapat tertutup bersama jaksa eksekutor dan polisi sebagai 
pelaksana teknis. Pertemuan itu digelar di rumah dinasnya di seberang lapas. 
Kemudian, pukul 07.00 kemarin didirikan tiga kayu sandaran untuk eksekusi di 
kawasan Nirbaya, Nusakambangan. Tiang itu dipancangkan berjajar dengan jarak 
sekitar tujuh meter. 

Kayu batangan setinggi dua meter itu dipasang tak jauh dari lokasi eksekusi dua 
warga Nigeria penyelundup narkoba, Samuel Iwuchukwu Okoye dan Hansen Anthony 
Nwaolisa, yang ditembak mati akhir Juni lalu. 

Kayu polos tersebut diangkut mobil polisi karena kawasan Nirbaya, yang letaknya 
enam kilometer sebelah selatan Lapas Batu, lebih tinggi. Kayu yang digunakan 
untuk eksekusi dua WN Nigeria lalu sudah dibakar.

"Amrozi cs juga sudah diberi tahu pukul 17.00 tadi (kemarin) tentang jadwal 
pelaksanaan eksekusi mati," kata sumber koran ini di Nusakambangan. Yang 
memberi tahu Kejaksaan Bali dan Jateng sebagai eksekutor. Pasal 6 ayat 1 UU No 
2/Pnps/1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati mengatur bahwa 3 x 24 jam 
sebelum saat pelaksanaan pidana mati jaksa memberi tahu terpidana. Artinya, 
eksekusi secepat-cepatnya dilakukan Jumat malam atau Sabtu dini hari (7-8/11).

Namun, aturan itu tidak mengikat seperti kasus dua WN Nigeria. Mereka berdua 
didor empat hari setelah pemberitahuan. Yang jelas, eksekusi tidak akan lewat 
dari Minggu 9 November. Bagaimana tanggapan Amrozi saat diberi tahu? "Mereka 
mengamuk dan mengomel di dalam sel. Jadi, tak terdengar permintaan terakhir," 
tambahnya. 

Kapolda Jateng Irjen Pol F.X. Sunarno dengan menumpang helikopter juga mampir 
di "pulau penjara" seberang Cilacap itu kemarin siang. Mantan Deops Polri itu 
menggelar rapat di ruang Kalapas sekitar tiga jam untuk memastikan semuanya 
telah siap. Jenderal bintang dua itu kembali terbang sekitar pukul 12.49. Semua 
sipir lapas yang sejak beberapa hari ini berjaga bersama-sama dengan anggota 
brimob di seputar lapas juga diwajibkan standby.

Sementara itu, dua helikopter yang rencananya membawa jenazah Amrozi cs hingga 
kemarin belum muncul. 

Sementara itu, keluarga terpidana mati Amrozi dan Ali Ghufron alias Mukhlas 
tetap mendesak pemerintah mengizinkan pihaknya untuk bertemu. Dalam waktu dekat 
pihak keluarga akan datang ke Cilacap.

''Kalau pemerintah tak mengizinkan atau sekadar memberi tahu kami, pemerintah 
telah berlaku sangat zalim,'' kata Ali Fauzi, adik kandung kedua terpidana mati 
asal Tenggulun, Lamongan itu.

Menurut Ali, saat kontak terakhir pekan lalu (sebelum Jumat, 31/10 lalu 
ketiganya diisolasi), keduanya menitipkan banyak pesan. Di antaranya, 
permintaan bertemu dengan para istri. Mukhlas mempunyai dua istri, yakni 
Paridah dari Malaysia dan Ummu Hussein yang tinggal di Solo. Sedangkan Amrozi 
memiliki dua istri, dua-duanya di Lamongan. ''Secara spesifik, keduanya meminta 
bertemu istri-istrinya terlebih dahulu dan meminta saya menghadirkan keempat 
kakak ipar saya itu ke Lapas Batu,'' katanya. 

Ibu Imam Surati SBY 

Keluarga Imam Samudra alias Abdul Aziz berupaya sekuat tenaga meminta penundaan 
eksekusi. Ibu Imam, Embay Badriyah, kembali "berjuang" untuk menyelamatkan 
nyawa buah hatinya dengan melayangkan surat kepada Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY). Surat satu halaman itu dikirim melalui kantor pos di Serang 
kemarin sekitar pukul 17.00.

"Saya tulis sendiri suratnya. Sayang dia tidak mau menyebut apa isi surat 
tersebut.(ano/naz/agm/mos/hud/

Kirim email ke