Pokoknya main bunuh saja...

Beda pendapat, kirim serdadu...
 
Biadab bukan?

Zalim bukan?

Ganas bukan?

Keji bukan?

Buas bukan?

Tidak terpikir buat orang Islam itu untuk mencari jalan damai.

Islam itu, saya bilang dan saya ulang adalah agama yang memang hanya
pantas untuk anjing liar dan binatang buas.

--- In zamanku@yahoogroups.com, jhon ardian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Jika ancaman separatisme tetap juga diteriak-teriakkan, maka 
> sudah waktunya bagi pemerintah pusat mengirim batalyon Raiders atau
Baret Merah 
> ke daerah tersebut untuk menjaga keutuhan NKRI dari separatisme. 
> 
> Alhamdulillah. RUU Pornografi akhirnya disetujui DPR untuk disahkan 
> menjadi UU lewat pleno akhir Oktober 2008 ini. Fraksi Partai Damai
Sejahtera 
> (F-PDS) dan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP) tetap 
> bersikeras menolak dan akhirnya walk-out dari ruangan pleno. Bahkan
suara dari 
> Bali, salah satu daerah yang paling keras menolak RUU ini sedari awal, 
> menyatakan pemerintah daerah dan masyarakatnya tetap akan melakukan 
> pembangkangan sipil dan mengajukan uji materil peraturan ini ke
Mahmakah Agung. 
> Sejumlah tokoh yang dikenal penolak RUU Pornografi juga senada,
tetap pada 
> pendiriannya dan menyatakan tidak mengakui produk hukum yang telah
disahkan 
> tersebut. 
> Dalam kacamata demokrasi, mereka 
> yang menyatakan diri tetap menolak atau membangkang terhadap produk
hukum yang 
> telah disahkan lewat jalan demokratis ini sesungguhnya bersikap anti
demokrasi. 
> Dan jika mereka tetap menolak, ini sudah menjadi tugas aparat negara
agar 
> menertibkannya. 
> Jika ancaman separatisme tetap 
> juga diteriak-teriakkan, maka mungkin sudah waktunya bagi pemerintah
pusat 
> mengirimkan beberapa batalyon Raiders atau Baret Merah ke daerah
tersebut dengan 
> perlengkapan tempur lengkap untuk menciptakan ketertiban dan menjaga
keutuhan 
> NKRI dari ancaman separatisme. Bukankah demikian yang dilakukan
pemerintah dalam 
> menangani Aceh dan Timor Timur (dulu)? Gitu aja kok repot. 
> Fenomena yang melingkupi pro dan 
> kontra tentang RUU Pornografi sebenarnya sama-sebangun dengan
fenomena yang dulu 
> pernah terjadi dalam hal pro dan kontra RUU Sisdiknas (sekarang
telah jadi UU) 
> Sisdiknas. Kubu yang pro dimotori aktivis Islam dan kubu yang kontra
dipimpin 
> oleh koalisi Liberal-Sekuler. Tulisan ini tidak akan membahas kubu
yang pro 
> terhadap UU Pornografi karena dalil-dalil mereka jelas, tegas, dan
bernas. Beda 
> dengan aneka dalil yang dikemukakan kalangan yang kontra di mana
mereka selalu 
> lari dari dalil yang satu ke dalil yang lain, meloncat-loncat, tidak
runut, 
> danâ€"maafâ€"jauh dari kesan cerdas dan kritis. 
> Saya percaya, kubu yang kontra 
> sebenarnya tidaklah sebesar yang diberitakan oleh media massa. Kubu
yang kontra 
> sebenarnya sangat sedikit dan terpusat pada tokoh-tokoh di belakang
kumpulan 
> orang yang diorganisir untuk turun ke jalan berunjuk rasa menolak
RUU Pornografi 
> tersebut. Untuk membedah agenda apa yang hendak dibawa oleh kubu
yang kontra 
> terhadap RUU Pornografi, maka haruslah dibedah apa dan siapa
tokoh-tokoh di 
> belakang kelompok tersebut. Riwayat hidup, perjalanan pemikiran, siapa 
> sekutunya, siapa yang sering menyandang dana segala kegiatannya,
bagaimana 
> kehidupan pribadinya, dan sebagainya merupakan informasi-informasi
yang sangat 
> penting untuk membuka selubung kaum ini. 
> Dan yang juga tidak kalah 
> penting, kelompok yang kontra terhadap RUU Pornografi ini tentu
merasa dirugikan 
> dengan disahkannya RUU ini menjadi Undang-Undang. Kita harus
menelusuri kerugian 
> seperti apa yang akan menimpa mereka atau yang mereka takutkan jika RUU 
> Pornografi disahkan? Kerugian yang paling ditakutkan oleh manusia
pada umumnya 
> adalah kerugian yang bersifat material, bukan idiil, walau mungkin
di muka 
> publik mereka banyak menyodorkan alasan-alasan yang terkait
idealisme untuk 
> menarik perhatian dan simpati. Lantas, kerugian material seperti apa
yang 
> ditakutkan jika RUU ini disahkan menjadi UU? 
> Adakah penolakan terhadap RUU 
> Pornografi ini menjadi suatu proyek bagi mereka yang akan mendatangkan 
> keuntungan yang banyak jika mereka berhasil menghadangnya dan
sebaliknya, 
> kehilangan proyek jika RUU ini tetap disahkan menjadi UU Pornografi?
Adakah RUU 
> Pornografi menjadi batu penghalang bagi ‘perjuangan’ mereka
untuk menciptakan 
> bangsa Indonesia yang baru, yang terlepas dari akar budaya
masyarakat aslinya 
> yang sesungguhnya agamis-nasionalistis? 
> Kubu Kontra RUU 
> Pornografi
> Penentang RUU Pornografi terdiri 
> dari beberapa kubu, yakni Kubu Jaringan Islam Liberal (Musdah Mulia,
Shinta 
> Nuriyah Wahid, Goenawan Muhamad, dll), Kubu Pekerja Seni Liberal
(Rieke Dyah 
> Pitaloka, Inul Daratista, Olga Lydia, Moamar Emka, dll), dan Kubu
Politisi 
> Liberal (PDIP dan PDS). Yang terakhir ini sebenarnya bisa kita
abaikan karena 
> mereka sebenarnya ‘hanya’ mengakomodir aspirasi konstituennya
agar mereka bisa 
> tetap bertahan ‘hidup’. Beberapa kelompok penentang RUU
Pornografi bisa 
> disatukan menjadi satu kelompok, yakni Kubu Liberal. Siapa saja
mereka? Tak 
> jauh-jauh dari aliansi cair seperti AKKBB. Sami mawon. 
> Tulisan kedua akan mengupas isi 
> dari UU Pornografi, tujuan dan hakikatnya, agar kita semua memahami
dengan baik 
> undang-undang tersebut, dan tidak tertipu oleh dalil-dalil kubu
liberal yang 
> menolaknya, yang nanti juga akan kita bahas. (bersambung/rd)
> 
> 
>      
___________________________________________________________________________
> Dapatkan nama yang Anda sukai!
> Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
>


Kirim email ke