> Lusy Anita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Tentara AS Siksa dan Perkosa Tawanan Perempuan
> di Irak dan Afghanistan Perempuan-perempuan Irak
> mengalami penderitaan yang tak terperi di dalam
> penjara-penjara AS di Irak. Mereka ditangkap
> oleh tentara AS tanpa tuduhan yang jelas, kemudian
> disiksa dan diperkosa di dalam penjara.
> 


Berulang kali saya bilang, anda tak perlu menyebar fitna2 seperti ini
karena diseluruh dunia semua manusia tahu bahwa Amerika negara hukum,
bisa jadi ada perkosaan dan penyiksaan namun hal itu merupakan
pelanggaran hukum yang pasti ditindak sehingga tak perlu banyak kita
permasalahkan.  Apapun yang dilakukan tentara Amerika pasti bisa
dituntut, pasti pelakunya dihukum karena HAM dan Demokrasi merupakan
landasan hukum bagi setiap orang Amerika termasuk pasukan2nya.

Yang harus dipermasalahkan justru negara2 yang mayoritas Islam dan
negara2 Islam itu sendiri, mereka melakukan hal2 yang buruk tanpa
dihukum, tanpa ditangkap dan tanpa diadilili, hal inilah yang kena
sanksi sebagai pelanggaran HAM.

Penegakkan HAM bukan hanya dilakukan dengan melindungi korban2nya saja
tetapi juga dengan melakukan penangkapan, pengadilan, dan penghukuman
para pelakunya.

Melindungi korban2nya belum tentu bisa menegakkan HAM, cuma menindak
pelaku2nya juga tidak bisa menegakkan HAM, penegakkan HAM harus
dilakukan simultan, melindungi, merehabilitasi, dan menyelamatkan
korban2nya, mencegah terulangnya lagi, menindak pelakunya dengan
penangkapan, mengadili pelakunya, dan menghukum pelakunya.  Kesemuanya
inilah proses tegaknya HAM dan Demokrasi.

Ny. Muslim binti Muskitawati.









> *Press TV *dalam laporannya hari Minggu kemarin, menayangkan kisah
sejumlah
> perempuan Irak yang pernah ditangkap dan dipenjarakan militer AS. Mereka
> mengatakan, tentara-tentara AS memaksa mereka melepas pakaian di
depan para
> tentara itu, kemudian mereka diperkosa.
> 
> "Penderitaan saya di dalam penjara AS sangat pedih, saya tidak bisa
> menggambarkan dengan kata-kata," kata seorang perempuan Irak yang
sekarang
> sudah bebas.
> 
> Perempuan Irak itu ditangkap setelah pasukan AS menyerbu rumahnya di
Diyala..
> "Mereka membawa saya untuk mendapatlan informasi tentang suami saya.
Mereka
> memenjarakan saya selama satu setengah tahun tanpa tuduhan apapun,"
tutur
> perempuan Irak yang dirahasiakan jati dirinya.
> 
> Menurut laporan wartawan *Press TV* di Irak, tentara AS menangkapi
> perempuan-perempuan Irak karena mereka menikah dengan lelaki Irak
yang oleh
> militer AS dianggap sebagai "para pejuang Irak yang mereka cari."
> 
> Para aktivis perempuan di Irak sudah berulangkali mendesak dunia
> internasional untuk menyeret tentara-tentara AS yang terlibat dalam
> kasus-kasus pelanggaran HAM, tapi sampai saat ini dunia
internasional masih
> membisu melihat perilaku biadab para tentara AS di sejumlah negara yang
> dijajahnya.
> 
> *Yvonne Ridley Kecam AS*
> 
> Pekan kemarin, wartawati Inggris yang juga dikenal sebagai tokoh
muslimah
> Yvonne Ridley mengecam keras perlakuan keji tentara-tentara AS terhadap
> tawanan perempuan di penjara-penjara AS di Afghanistan.
> 
> Dalam keterangan pers-nya bersama dengan Ketua Tahrik Insaf Pakistan
(PTI)
> Imran Khan, Ridley juga mengkritik penangkapan seorang dokter
perempuan ahli
> saraf asal Pakistan Aafia Siddiqui oleh militer AS di Afghanistan,
karena
> dituduh menyerang dua tentara AS di kota Kabul.
> 
> "Dia (Aafia) mengalami penyiksaan selama lebih dari lima tahun dalam
penjara
> militer AS, sejak ia dan anak-anaknya diculik," kata Ridley, wartawan
> Inggris yang memilih masuk Islam setelah ditawan oleh Taliban di
> Afghanistan.
> 
> Ia mendesak publik untuk bersuara, memprotes tindakan pasukan AS yang
> sewenang-wenang terhadap tawanan perempuan di penjara-penjara AS di
> Afghanistan. "Banyak muslimah yang ditangkap pasukan AS dan jika publik
> bersikap diam, maka mereka akan kehilangan saudari-saudari mereka
> selamanya," tukas Ridley seperti dikutip surat kabar Pakistan, Daily
Times.
> 
> Ridley juga menyatakan keraguannya atas informasi militer AS bahwa
tawanan
> nomor 650 sudah diekstradisi ke negara asalnya sejak tiga tahun yang
lalu.
> Tawanan 650 dipercaya sebagai nomor indentitas dokter Aafia,namun Ridley
> meragukannya.
> 
> Ia meyakini, dokter Aafia masih berada di dalam penjara Bagram,
penjara AS
> di Afghanistan dimana terdapat tawanan-tawanan perempuan yang mengalami
> penyiksaan serta perkosaan yang dilakukan tentara-tentara AS. Akibat
> penyiksaan dan perkosaan itu, tambah Ridley, banyak tawanan
perempuan yang
> melakukan aksi mogok makan.
>


Kirim email ke