Refleksi: Berapa besar hasil copetan dibandingkan dengan hasil korupsi?  Kalau 
para koruptor juga ditembak mati, apakah wajar?  

http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=47132&ik=2


2 Bos Copet Ditembak Mati 

Minggu 9 November 2008, Jam: 8:35:00 

TANGERANG (Pos Kota) -Komplotan copet yang beroperasi di mal-mal dengan 
memanfaatkan janda dan wanita hamil sebagai pengecoh, digulung Polres Kabupaten 
Tangerang, Jumat (7/11) malam. 

Dua anggota sindikat tewas ditembak, empat lainnya kini meringkuk di tahanan 
polisi. Satu dari dua wanita anggota komplotan copet itu sedang hamil 9 bulan. 

Diringkusnya komplotan copet yang sudah lama diresahkan masyarakat ini bermula 
dari operasi kejahatan jalanan yang dilakukan petugas Polres Kabupaten 
Tangerang. 

Pada Jumat malam itu petugas unit reaksi cepat (URC) melakukan penyisiran di 
Mal ITC Serpong di Jalan Raya Serpong, Desa Lengkong Wetan, Kecamatan Serpong, 
Kabupaten Tangerang. 

Saat itulah anggota yang dipimpin Aipda Syahrul Zaman memergoki Duvan Evani 
alias Fani, 38, dan Robian Fadli, 25, mencuri dompet The Lian Mey, 45. 

BERTUGAS KECOH KORBAN 
Dalam aksinya kedua pelaku dibantu dua wanita yang mengajak ngobrol korban 
untuk mengecoh perhatian. Erna, 27, dan Uswatun Hasanah, 27, dua wanita itu pun 
ikut dicokok. 

Petugas kemudian membawa Fani dan Robian untuk menunjukkan teman mereka. Polisi 
kemudian membekuk Carsono,28, warga Bulak Kapal, Bekasi, dan Adi,17, warga 
Bantargebang, Bekasi. 

Namun Fani dan Robian, bos dan pentolan sindikat yang sudah puluhan kali 
beraksi di pusat perbelanjaan ini melawan petugas ketika akan dimasukkan ke 
dalam mobil. 

Tak mau kehilangan tangkapannya, petugas melepaskan tembakan ke udara. Namun 
peringatan aparat tak digubris, sehingga terpaksa petugas melumpuhkan keduanya. 

Robian dan Fani, ambruk setelah peluru petugas menembus punggung mereka. 
Petugas melarikan mereka ke rumah sakit namun nyawa keduanya tak tertolong 
lagi. Jasad Robian dan Fani dibawa petugas ke kamar mayat RSU Tangerang. 

Dihadapan petugas, Ernawati,27, warga Kampung Narogong Selapajang, Bekasi, 
mengaku baru tiga minggu ikut komplotan ini. Setiap beraksi, janda dua anak ini 
bersama Uswatun yang hamil 9 bulan, bertugas mengecoh korbannya. 

HASIL DIBAGI RATA 
Dalam satu minggu, komplotan ini beraksi dua kali. Sasaran mereka adalah pusat 
perbelanjaan di Tangerang dan Bekasi. Dengan mengunakan mobil sewaan, komplotan 
ini berpindah dari mal satu ke mal lain. 

Kasat Reskrim Polres Kabupaten Tangerang, AKP Dewa Wijaya, menjelaskan 
komplotan pencopet yang kerap beraksi di dalam pusat perbelanjaan ini memang 
sudah menjadi target operasi. 

BUTUH BIAYA BUAT MELAHIRKAN 
USWATUN Hasanah, 27, hanya busa terdiam dan wajahnya tertunduk lesu saat 
menjalani pemeriksaan di Polres Kabupaten Tangerang. 

Warga Narogong Selapajang, Bekasi, ini mengaku terpaksa ikut dalam komplotan 
pencopet lantaran terdesak kebutuhan ekonomi. 

Sesekali wanita asal Pemalang, Jawa Tengah, ini mengelus perutnya yang sudah 
membesar karena usia kehamilannya telah memasuki bulan ke-9. 

Kepada Pos Kota, Uswatun menuturkan tentang awal keterlibatannya dalam 
komplotan pencopet yang dipimpin Fani. Selama tiga tahun ditinggal mendiang 
suaminya, kebutuhan ekonomi Uswatun jadi tak menentu. Padahal ia harus 
menghidupi Ian, 8, dan Apin, 7, kedua anaknya. 

Ia mengaku sempat bekerja di sebuah pabrik di Cikarang. Namun ia diberhentikan 
karena di perusahaan tersebut terjadi pengurangan tenaga kerja. 

Saat menganggur, ia bertemu Udin. Keduanya lalu berpacaran hingga wanita ini 
hamil. "Tapi bukannya menikahi saya, dia malah minggat," ungkap Uswatun. 

BERTEKAD BESARKAN ANAK 
Lantaran didera stress, Uswatun sempat patah semangat untuk menjalani hidup. 
Meski begitu, ia tak mau menggugurkan kandungannya. "Saya tidak mau dosa saya 
makin banyak. Bagaimana pun caranya , saya akan membesarkan anak-anak saya," 
ungkapnya sedih. 

Untuk mencari biaya, tiga minggu lalu Uswatun bertemu dengan Duvian Evani alias 
Fani, pentolan komplotan copet. Saat itu Fani mengajaknya jalan-jalan ke sebuah 
pusat perbelanjaan di Bekasi. 

Uswatun yang tidak tahu jika Fani seorang pencopet yang sudah menjadi target 
operasi polisi, tak curiga. Ia baru mengetahuinya setelah keluar dari pusat 
perbelanjaan tersebut. "Saya saat itu diberi uang Rp100 ribu. Saya akhirnya 
baru tahu jika uang itu hasil dari mencopet," ujar wanita tersebut. 

Wanita itu pun kemudian diajak bergabung dalam komplotan copet itu bersama 
Ernawati, Robian Fadli, Carsono dan Adi. "Saya terpaksa ikut membantu Fani 
karena butuh uang untuk biaya persalinan," ungkapnya. 

HANYA busA PASRAH 
Kini Uswatun hanya busa pasrah saat pintu sel penjara menantinya. Ia tidak 
peduli berapa lama ia akan ditahan. Yang dipikirkannya hanyalah nasib anak dan 
jabang bayi dalam kandungannya. "Saya hanya memikirkan masa depan anak-anak 
saya nanti," ungkap Uswatun penuh sesal. 

Di usia kandungan yang tinggal menghitung hari, Uswatun merasakan kepedihan 
yang paling dalam. Pasalnya ia akan melahirkan anak ketiganya tersebut di balik 
jeruji besi. "Saya tidak akan memberikan anak saya ke orang lain. saya tetap 
akan merawat anak saya ini, meski di dalam penjara," ungkapnya. 

(C3/ok)@ 

Kirim email ke