http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2008110922362516

      Senin, 10 November 2008 
     

      BURAS 
     
     
     

Bodong, 'Pahlawan' Desa Kami! 


       
      "DESA kami kini terkenal dan ditakuti semua desa sekitar!" ujar Temin. 
"Itu sejak Bodong pulang dari menuntut ilmu kebal, setiap tawuran antardesa 
kami selalu menang!"

      "Menang tawuran antardesa saja bangga!" tukas Temon yang baru tiba di 
desa adiknya.

      "Jelas bangga! Lebih lagi pada Bodong, pahlawan desa kami!" timpal Temin. 
"Setiap tawuran dia paling depan, sabetan pedang dan golok, dia adang, 
direnggut dari lawan!"

      "Apa gunanya menang tawuran antardesa?" potong Temon.

      "Justru warga desa kami kini yang menikmati keuntungannya!" tegas Temin. 
"Selain desa kami jadi aman karena warga desa lain tidak berani menyerang lagi 
setiap pemuda yang motornya jelek tinggal lapor ke Bodong untuk ditukar sepeda 
motor baru!"

      "Kalian jadi geng begal pula?" sela Temon.

      "Bukan membegal!" bantah Temin. "Tapi yang motornya jelek itu disuruh 
menabrakkan motornya ke motor warga desa lain! Diam-diam ia dikawal rombongan 
teman dari jarak tidak jauh, hingga dijamin banyak saksi melihat yang salah 
warga desa lain! Lalu pihak mereka yang mengajukan damai, sekaligus menetapkan 
opsi mengganti motor baru dan biaya berobat, serta ganti rugi nonmaterial!"

      "Itu rekayasa pemerasan!" entak Temon.

      "Tapi opsinya bukan dari kami!" jawab Temin.

      "Opsi! Sok seperti perundingan antarnegara saja!" gerutu Temon. "Lalu 
uang damainya dibagi untuk Bodong dan teman-temannya?"

      "Tentu saja! Malah yang dapat motor baru tetap dapat bagian!" jawab 
Temin. "Anak muda desa kami pun jadi makin kompak, di bawah pimpinan Bodong 
sang pahlawan!"

      "Bodong bukan pahlawan, melainkan wakgeng!" bentak Temon. "Itu justru 
menebar benih ancaman amat berbahaya bagi desa ini! Pernah terjadi desa wakgeng 
seperti itu jadi abu diserang serentak oleh semua desa sekitarnya, sedang 
wakgeng-nya yang sakti tewas oleh jagoan lain yang lebih sakti! Jadi geng itu 
harus dihentikan, balas dendam semua desa korbannya cuma soal waktu!"

      "Jangan lantang menista pahlawan desa kami!" bisik Temin.

      "Kutegaskan lagi, Bodong bukan pahlawan!" tegas Temon. "Dia cuma wakgeng 
kriminal, pemeras desa-desa sekitar! Kalian harus cepat menyadari itu, sebelum 
desa ini jadi abu! Pahlawan bukan tokoh yang pintar mengorganisasi gerombolan 
kekerasan, apalagi perekayasa pemerasan, merampok milik warga dengan modus 
seolah itu opsi demi kepentingan korban sendiri! Pahlawan bukan tokoh yang 
berjuang hanya untuk kepentingan kelompok gerombolan atau golongannya saja! 
Pahlawan adalah orang yang rela mengorbankan kepentingan diri bahkan 
jiwa-raganya untuk kedamaian, dan kesejahteraan semua warga sebangsa! Bukan 
tokoh yang cuma mencari keuntungan dari tawuran antardesa, atau gontok-gontokan 
antargolongan hasil rekayasanya!"

      "Tapi bagaimana jika dalam realitasnya justru tokoh antagonis seperti itu 
yang disanjung dan dipahlawankan?" keluh Temin.

      H. Bambang Eka Wijaya
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke