http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2008111100404817

      Selasa, 11 November 2008 
     
      BURAS 
     
     
     
Menindak Preman di Lampung! 

       
      "MENCARI preman jika modelnya seperti Hercules yang merajai Tanah Abang, 
di Lampung mungkin tidak ada!" ujar Umar. "Sebab, meski juga terorganisasi dan 
kerjanya memalak pedagang pasar dan angkutan umum dari angkot, bus, sampai 
truk, mereka kebanyakan 'bekerja' memakai 'bendera' ormas atau LSM resmi--dalam 
arti terdaftar di Kesbang Linmas! Model itu berlaku secara hierarkis dari 
tingkat provinsi sampai desa!"

      "Maka itu, sebaiknya kepolisian merumuskan secara jelas istilah preman 
yang dimaksud dalam operasi menjalankan perintah Kapolri karena tanpa rumusan 
jelas bisa terjadi salah pengertian di lapangan!" sambut Amir. "Di sisi lain, 
kalau kriterianya cukup berdasar tindakan orang-orang di lapangan--seperti 
melakukan pemalakan--langkah pertama terbaik bagi kepolisian untuk menghentikan 
tindakan itu adalah mengundang lebih dahulu ormas dan LSM yang teridentifikasi 
nama organisasinya dipakai orang di lapangan!"

      "Dengan cara itu polisi cukup meminta ormas atau LSM bersangkutan 
menertibkan anggotanya--lebih afdal dengan pernyataan tertulis!" tukas Umar. 
"Sedang kalau setelah itu masih tetap ada yang beroperasi di lapangan memakai 
nama organisasi, tindakan polisi terhadap pelaku sekaligus membantu ormas dan 
LSM terkait untuk membersihkan nama baiknya! Ormas dan LSM pun harus memberikan 
dukungan kepada polisi untuk pelaksanaan tugasnya dalam membersihkan nama baik 
organisasinya dari premanisme!"

      "Langkah polisi membersihkan premanisme terkait pemalakan terhadap 
angkutan umum ini juga sekaligus membantu membersihkan citra Polri atas pungli 
di jalanan!" tegas Amir. "Sebab, ketika di pangkalan pemberhentian truk, preman 
memalak langsung dengan jaminan kelancaran perjalanan dari ujung provinsi 
sampai Bakauheni, Polri secara instansional dianggap 'sudah beres' karena 
dengan isyarat tertentu truk yang sudah melunasi 'kewajibannya' pada preman itu 
terjamin lancar sampai tujuan! Reporter Lampung Post pernah disandera preman 
model ini di pangkalan wilayah perbatasan Sumsel--Lampung saat meliput laporan 
investigatif mengenai masalah ini!"

      "Tepatnya, membersihkan preman pemalak terorganisasi di bidang angkutan 
ini sekaligus ikut membersihkan citra polisi, setidaknya karena polisi dianggap 
tahu ada tindakan pemalakan itu tapi dibiarkan jalan terus!" timpal Umar. "Tapi 
itu baru satu sisi dari gejala premanisme! Di sektor lain tentu harus 
ditertibkan juga! Misalnya pada lelang proyek di instansi pemerintah, preman 
juga terlihat membatasi kelompok tertentu saja yang boleh ikut tender! Mereka 
halangi kontraktor lain untuk memasukkan dokumen tendernya! Ini salah satu 
penyebab pelaksanaan tender proyek sering jadi ribut, malah dar-der-dor! 
Penindakan preman selain bisa mengatasi ekonomi biaya tinggi, ditunggu warga 
yang ingin bekerja lebih tenang dan tenteram!"

      H.Bambang Eka Wijaya
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke