Refleksi:  Tidak bisa dielakan bahwa Jenderal Haji Soeharto adalah  pahlawan 
pembunuh terbesar dalam sejarah  zaman Indonesia merdeka dan juga pahlawan 
tukang copet  berkelas wahid dalam kaliber internasional. 

Harian Komentar
11 September 2008

      Golkar Ngotot Jadikan Soeharto Pahlawan Nasional  
     


Jakarta, KOMENTAR
Partai Golkar tetap mengusulkan pemberian gelar pahlawan nasional untuk 
Soeharto, meski ada pihak yang masih keberatan mengenai 
usul itu. "Golkar memang pernah mengusulkan hal itu, tetapi terserah kepada 
pemerintah untuk memutuskan. Sampai saat ini, kami tetap usulkan," kata Wakil 
Ketua Umum DPP Partai Golkar Agung Laksono, di Gedung DPR/MPR Jakarta, Senin 
(10/11).


Agung Laksono berharap pemerintah segera mengambil keputusan atas usul 
tersebut. Partai Golkar mengusulkan gelar pahlawan nasional ke-pada Pak Harto 
karena jasanya membangun negeri ini. Agung Laksono, yang juga ca-leg Partai 
Golkar nomor urut 1 untuk daerah pemilihan (Dapil) DKI I (meliputi wilayah 
Jakarta Timur) mengakui, sampai saat ini masih ada pi-hak yang belum setuju 
de-ngan usul Golkar. Tetapi Gol-kar akan tetap mengusulkan.


"Setiap pahlawan adalah manusia biasa seperti manusia lainnya, ada kelemahan 
dan kekurangan. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan, tentu tidak 
hanya melihat dari sisi kelemahannya," kata Agung. Ia menjelaskan, di samping 
kelemahan dan kekurangan, baik dari sisi pribadi mau pun saat memimpin 
pemerintahan, Pak Harto memiliki ba-nyak jasa kepada bangsa dan negara. "Walau 
pun ada yang belum setuju (pemberian gelar pahlawan untuk Pak Harto). Itu hak 
masing-masing, tetapi juga hak bagi Golkar untuk mengusulkan," kata Agung.


Golkar memahami usul itu sampai saat ini belum dikabulkan pemerintah karena 
untuk menetapkan seseorang sebagai pahlawan membutuhkan proses dan waktu. 
Golkar akan tetap mengusulkan, walau pun belum ada kepastian kapan usul itu 
akan dikabulkan. "Gelar pahlawan nasional untuk Bung Tomo saja baru diberikan 
setelah sekian lama. Padahal semua orang tahu siapa Bung Tomo," katanya.


Mengenai penggunaan nama Pak Harto untuk iklan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), 
Golkar tidak mempersoalkan. "Itu bagus dong. Berarti apa yang diusulkan Golkar 
benar adanya. Tidak masalah, boleh-boleh saja," katanya. Sedang-kan sejarahwan 
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam menilai, Soeharto 
bukan seorang pah-lawan. "Soeharto belum diang-kat jadi pahlawan. Kalau guru 
bang-sa, guru apa?" tanya Asvi. Asvi pun mengaku heran dengan pemasangan gambar 
Soeharto di dalam iklan PKS itu. "Saya bertanya-tanya, ideologi PKS itu apa. 
Apa ini karena kemarin iklannya diprotes terus dia mencari tokoh lain," lanjut 
Asvi.


Asvi berpendapat, untuk mendapat gelar pahlawan, seseorang harus memenuhi 
kriteria-kriteria tertentu. Menu-rutnya, ada dua kriteria yaitu, seseorang 
harus memiliki jasa-jasa yang besar dan dia tidak memiliki cacat. "Soeharto 
me-mang pembangun paling besar di Indonesia, tapi dia juga perusak terbesar 
seperti me-ninggalkan utang US$ 150 juta. Itu kan membebani kita dan tidak akan 
lunas selama tujuh turunan," ujarnya.
Jadi apakah usulan peng-angkatan Soeharto diperlu-kan? "Sebaiknya tidak, 
biar-kan Soeharto istirahat di Solo," tandasnya.(d

Kirim email ke