Sila pertama, ketuhanan yang maha esa dari mulai di ciptakan sudah tidak
berlaku!

    1. Kristen dan Hindu punya 3 Tuhan yang karasteristik dan sifatnya
dibedakan
    2. Buddha, jelas2 tidak mengakui adanya Tuhan
    3. Islam, teorinya mengatakan tidak ada tuhan selain Allah,
prakteknya tuhannya Islam super pencemburu dan cuma mau di duakan dengan
Muhammad, buktinya, lihat saja mana lebih seram...mengutik2  allah atau
muhammad, maka yang menduakan muhammad pasti babak belur dihajar
gerombolan..padahal sudah jelas negara ini bukan negara agama tapi
tekanan kelompok bisa mematikan kebebasan berketuhanan!..katanya tidak
menduakan Allah, namun hanya karena perkara nabi penutup bisa membantai
mahluk Allah

Sila kedua, kemansiaan yang adil dan beradab...Bah! itu juga sudah dari
dulu tidak berlaku..darimulai pembantaian PKI yang jelas2 manusia sampai
korban lapindo yang jelas2 tanpa kemanusiaan perlakuan negara terhadap
mereka...dan bagaimana polisi tekuk lutut dibawah ketek FPI...di elus2
dan dan diberaki depan hidung ketika mengajari polisi bagaimana caranya
mengelola keamanan!

Sila ke3, persatuan Indonesia..Bah! sejak UU pornografi di perdagangkan
maka tidak ada lagi persatuan sejak di kabulkannya ekslusifisme daerah
Istimewa, maka tidak lagi kita seragam dalam penjajahan oleh jakarta

Sila jke 4 Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan..Bah!, Ketua MPR, mantan ketua MPR koq
bisa2nya berpikir untuk kepentingan Amrozy bukan para Korban! tidak ada
kebijaksanaan lagi diperwakilan rakyat ketika menerima 1 juta, 2 juta,
500 juta untuk menggolkan undang2 yang tidak berpihak pada negara namun
kelompok..tidak ada lagi wakil rakyat sejak berkiblat pada partai..

Sila ke 5...ah itu sudah basi tidak ada keadilan sosial, buktinya
kenaikan BBM yang jelas2 tidak berkeadialan sosial bagi seluruh rakyat
miskin..tidak ada lagi keadilan sosial ketika korban lapindo terkalahkan
kepentingan wan abu..

Pancasila, hanya dongeng pengantar tidur..sudah lama mati..namun belum
membusuk


--- In zamanku@yahoogroups.com, "ttbnice" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Betul. Pancasila sebagai falsafah bangsa haruslah mencerminkan
> falsafah nasional.
>
> Baca sila 1, jadi inget gereja2 yg ditutup dan bakar.
> Baca sila 2, jadi inget aksi2 premanisme/anarkis yg dibiarkan.
> Baca sila 3, jadi inget daerah2 yg mau keluar dari RI
> Baca sila 4, sama sekali ga pernah jalan di RI
> Baca sila 5, inget pejabat2 yg udah divonis, tapi masih bebas, masih
> menjabat, bahkan masih dapet duit.
>
> Nah kalo mau ngomong sila2 Pancasila tapi hati nurani berontak, ya
> mendingan ga usah ngomong.
>
> Si Gubernur Wan ini brenti pada sila ke 5, karena sila 5 yg bunyinya
> Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sangat tidak sesuai
> dengan kenyataan yg dihadapinya.
>
> Daripada jadi munafik mending dikatain orang ga hafal...
>
>
>
>
> --- In zamanku@yahoogroups.com, wirajhana eka wirajhana@ wrote:
> >
> > Sebagai Pemimpin daerah yang daerahnya menjadi penghasil minyak bumi
> dan mineral lainnya...saya pikir, Gubenur tidak lupa teks pancasila,
> nuraninya yang menolak bahwa daerahnya koq diharuskan bersikap adil
> dan sosial BAGI SELURUH rakyat Indonesia,
> >
> > Ini juga mungkin pesan tersirat dari pak Gubenur bahwa Jakarta
> tidak punya apapun tapi paling kaya...sementara daerah kaya...tidak
> bisa menikmati hasil kekayaan daerahnya lebih leluasa dan masih perlu
> diatur dengan jelimet oleh JAKARTA
> >
> > Bukankah jadi seperti pejajahan tersirat?
> >
> > Sunny ambon@ wrote:
> > Refleksi: Apakah diharuskan hafal? Mungkin saja Pak
> Gubernur dulunya tidak tahu dan sekarang sudah lupa.
> >
> > http://www.sinarharapan.co.id/nusantara/index.html
> >
> >
> > Semut Merah di Kacamata
> > Gubernur Riau Tidak Hafal Teks Pancasila
> >
> > Oleh
> > Denny Winson
> >
> >
> > Pekanbaru - Ini sudah keterlaluan! Seorang pejabat seperti Gubernur
> Riau Wan Abubakar tidak hafal teks Pancasila.
> > Ironisnya lagi, ketidakhafalan Wan itu disaksikan ratusan pegawai
> negeri sipil (PNS) yang mengikuti upacara bendera di halaman kantor
> Gubernur Riau, Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru.
> >
> > Dari pengamatan SH, Wan waktu itu bertindak sebagai Inspektur
> Upacara Peringatan Hari Pahlawan, Senin (10/11). Selaku Inspektur
> Upacara, Gubernur Riau berkewajiban membaca teks Pancasila.
> >
> > Dari sila pertama hingga sila keempat, Wan Abubakar lancar-lancar
> saja. Tetapi ketika pada sila kelima, entah mengapa Wan mendadak
> terdiam beberapa detik.
> > Peserta upacara pun menjadi bertanya-tanya, apakah teks Pancasila
> yang dibacakan Gubernur Riau itu tidak lengkap atau memang Wan sendiri
> yang betul-betul lupa. Jika memang Wan Abubakar lupa, ini betul-betul
> keterlaluan.
> >
> > Terlepas dari soal itu, Gubernur Riau memang tidak menuntaskan
> pembacaan lima sila dalam teks Pancasila. Wan hanya membaca empat sila
> dari lima sila teks yang ada. Perbuatan Wan ini tentunya menjadikan
> pertanyaan di kalangan wartawan yang menyaksikan kejadian tersebut.
> Usai upacara, mantan Wakil Gubernur Riau ini langsung dikejar
> wartawan. Kepada wartawan, Wan mengakui kalau dia memang tidak membaca
> sila kelima Pancasila.
> >
>


Kirim email ke