Tulisan bagus. 

Sekededar informasi buat anda bung Thamrin, AQ itu sudah di klaim
adalah kitab yang sempurna yang datangnya langsung dari Awloh. Ilmu
fikih atau nalar secanggih apapun datangnya hanya dari manusia. Mosok
ilmu manusia menang daripada manusia. 

Ini logika yg paling sederhana dan penyebab dari kemunduran Islam saat
ini. Jika pengikut "tukang sayur" ini lebih banyak, ya jelas karena
logika sederhana ini. Siapa sih yg mau dengerin fikih2 yg njelimet?
paling cuma 1 dari 1000 orang.

Faktor lain menguatnya paham "tukang sayur" ini adalah karena
menjadikan ISlam sebuah agama. Artinya, orang2 yang paham Islamnya
hanya kulitnya saja berhak menyandang beragama ISlam. Kelompok Islam
KTP ini merupakan ladang subur para pencari massa. Sialnya kelompok
Islam KTP ini ternyata sangat banyak, dan menjadi sasaran empuk dari
para tukang sayur untuk menjadi pendukung.

Coba aja liat FPI, apa setelah mereka gabung dengan FPI, menjadi
orang2 yg mendalami Islam? Tidak kan? FPI sama sekali tidak berniat
membuat orang menjadi Islami, tidak ada pengajaran sama sekali,
kecuali pidato2 kebencian untuk tetap mengikat massa. 

Kesalahan utama para fikiher adalah pencarian dan pendalaman AQ untuk
kepentingan sendiri atau sekaumnya. Tidak ada gerakan upaya
pencerahan/pendidikan bagi kaum Islam KTP. Yang saya tau cuma JIL, dan
mereka sangat berani dalam melawan arus untuk memegang prinsip.

ISlam memang belum mempunyai rasa empati terhadap orang2 yang
tertingal, sampah masyarakat, penjahat, dll





--- In zamanku@yahoogroups.com, "M.J Thamrin" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sewaktu menghadiri shalat Jumat, saya sering mendengar khatib berkata:
> "*sebagai
> umat Islam kita harus menuruti dan menjalankan apa-apa yang
diperintahkan
> dalam Alquran, dan menjauhi apa-apa yang dilarang di dalam Alquran
agar kita
> menjadi orang-orang yang bertakwa…*" Ucapan ini memang mudah
diucapkan, dan
> terkesan mudah pula dilakukan (bagi yang mau melakukan). Ketika kesekian
> kalinya saya mendengar ucapan ini, saya menjadi teringat satu
problema dalam
> ilmu fiqih yang diangkat pertama kali oleh Imam Al-Syafi'i (w. 204
H/820 M)
> dalam kitabnya Al-Risalah. Berikut ini adalah kisahnya (biar menarik
dibaca,
> kisah ini tidak lagi seharfiah redaksi aslinya) :
> 
> "Suatu ketika seorang laki-laki berangkat ke pasar. Ia berniat membeli
> budak. Ia kemudian membeli budak perempuan. Setelah budak itu menjadi
> miliknya, dan tinggal di rumahnya, ia pun berkali-kali melakukan
hubungan
> seksual dengan budak perempuan itu.
> 
> [Karena perbudakan sekarang menjadi sesuatu yang emoh untuk
difikirkan, saya
> akan menjelaskan sedikit: di dalam fiqih Islam hubungan seksual antara
> laki-laki pemilik budak dengan budak perempuan tidak dilarang. Tidak ada
> akad nikah, pemberian mas kawin, atau prosesi apa pun sebelum hubungan
> seksual itu berlangsung. Jika budak perempuan itu hamil dan
melahirkan anak,
> maka anak itu statusnya tetap budak, tetapi ibunya naik status sedikit
> menjadi ummu walad, tetapi masih tetap budak. ]
> 
> Setelah beberapa lama, si laki-laki menjadi tahu bahwa budak yang
dibelinya
> ini adalah saudara perempuannya. Nah lho... Besar kemungkinan si
laki-laki
> adalah mantan budak yang kini merdeka dan menjadi berkecukupan, dulu
> orangtuanya juga budak, saudara-saudarinya pun budak. Atau bisa
jadi, budak
> perempuan ini seayah dengannya tapi lain ibu, dan karena berbagai
hal yang
> tragis, si adik perempuan pun akhirnya menjadi budak dan
diperjualbelikan.
> Terus jadi gimana masalah ini?
> Kita lihat pokok masalahnya .....
> 
> Si laki-laki membeli budak perempuan dan kemudian melakukan hubungan
seksual
> dengan budaknya itu. Keadaan ini dibolehkan oleh Alquran, malah dianggap
> baik-baik saja. Hasanah bi dzatiha. Alquran di dalam Surah Al
Mukminun ayat
> 5 membolehkan perilaku seperti ini:
> 
> qad aflaha'l mu'minun
> alladzina hum fi shalatihim khasyi'un
> walladzinahum 'ani'l laghwi mu'ridhun
> walladzinahum lizzakati fa'ilun
> walladzinahum li furujihim hafizhun
> illa 'ala ajwazihim aw ma malakat aymanuhum, fainnahum ghairu malumin
> (Alquran Surah Al Mu'minun 1 – 5)
> 
> [sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman
> yaitu orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya
> dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang
> tidak berguna
> dan orang-orang yang menunaikan zakat
> dan orang-orang yang menjaga penisnya
> kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak perempuan yang mereka
miliki;
> maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela ]
> 
> Ketika lama kemudian si laki-laki menjadi tahu bahwa budak perempuan itu
> adalah adiknya, maka hubungan ini menjadi incest, dan sangat dilarang.
> Qabihah bi dzatiha. Haram tanpa kompromi, karena Alquran dalam Surah
An-Nisa
> ayat 23 melarangnya:
> 
> Hurrimat 'alaikum ummahatukum, wa banatukum, wa akhawatukum, ....
> (diharamkan bagi kamu sekalian untuk menikahi ibu-ibumu [maksudnya ibu
> kandung terus ke nenek terus ke atasnya nenek], anak-anak
perempuanmu [anak
> terus ke cucu dan seterusnya], dan saudara-saudara perempuanmu .........
> dst.)
> 
> Dalam kasus di atas, si perempuan adalah saudarinya dan sekaligus
budaknya.
> Kebolehan melakukan hubungan seksual dengan budak yang ditetapkan dalam
> Surah Al Mu'minun ayat 1-5 menjadi tidak relevan. Surah An-Nisa ayat 23
> harus dimenangkan. Kenapa harus dimenangkan? Bisa jadi hati nurani
dan akal
> sehat si laki-laki yang berkata demikian. Atau bisa juga sebuah
fatwa dari
> seorang ahli fiqih yang mengangkat dua kaidah fiqih seperti: dar`u'l
> mafasidi awla min jalbi'l mashalihi (menghilangkan keburukan lebih utama
> dari memperoleh kemaslahatan) dan fa idza ta'aradha mafsadatun wa
> mashlahatun quddima daf'ul mafsadati ghaliban (apabila bertemu
keburukan dan
> kebaikan dalam satu masalah, maka utamakanlah menghilangkan keburukan).
> 
> Kaidah-kaidah fikih di atas saya kutip dari kitab berjudul al-Asybah
> wa'l-Nazhair karya Ibnu Nujaim (w. 970 H/ 1562 M). Kaidah-kaidah ini
adalah
> hasil penalaran hukum para fuqaha dari berbagai dalil seperti
Alquran, hadis
> Nabi Muhammad, fatwa-fatwa para mujtahid besar, dan hal-hal lain.
Jika pun
> kaidah-kaidah ini dilepaskan dari sumber-sumber religius, sifatnya tetap
> rasional, karena dalam banyak kasus, bunyi kaidah-kaidah fiqih
menjadi sama
> dengan maxim hukum berbahasa Latin yang berasal dari penalaran rasional,
> contohnya seperti al-hukmu yaduru ma'a 'ilatihi wujudan wa 'adaman
(hukum
> itu akan terus berlaku bila reason-nya masih terus ditemukan dan
> berlangsung, dan hukum itu menjadi tidak berlaku lagi jika
reason-nya tidak
> ada lagi) yang sama dengan mutata legis ratione mutatur et lex (the
law is
> changed if the reason of law is changed).
> 
> Saya mengangkat kisah di atas agar kita memikirkan kembali bahwa
Alquran dan
> hadis sesungguhnya adalah bahan mentah. Seorang ahli fiqih dapat
diibaratkan
> seorang chef (koki profesional) yang mengolah bahan-bahan mentah
tersebut.
> Kitab-kitab fiqih klasik yang ditulis oleh para fuqaha di masa lalu
dapat
> diibaratkan dengan kumpulan resep-resep masakan yang telah mengolah
banyak
> bahan mentah menjadi masakan yang lezat. Membuang semua resep-resep itu
> tidak menjamin hasil kerja koki di zaman sekarang lebih baik dari yang
> dihasilkan para koki di masa lalu.
> 
> Para fuqaha klasik dan kitab-kitab fiqih yang mereka hasilkan adalah
pilar
> terakhir rasionalitas di dalam tradisi pemikiran Islam, setelah
filsafat dan
> ilmu kalam. Tradisi fiqih adalah tradisi rasional, karena peran akal
sehat
> menjadi sangat menonjol ketika berhadapan dengan dalil-dalil yang
> berbenturan dan ambigu. Kini pilar terakhir ini semakin lama semakin
lenyap,
> perlahan-lahan hilang ditengah menjamurnya para "koki" tanpa resep. Para
> "koki" yang pada hakikatnya hanyalah "tukang sayur". Para "tukang
sayur" ini
> memang mengetahui beragam jenis sayur mayur, ikan, dan bawang,
tetapi tidak
> pernah belajar menjadi "koki" dan menganggap tidak ada gunanya
mempelajari
> apa yang ditulis oleh para 'koki". Kini mereka menggusur para
"koki", dan
> mulai menyajikan bahan-bahan mentah tanpa diolah untuk sarapan
hingga makan
> malam.
> 
> Para "koki" di masa lalu memang menghasilkan banyak perbedaan resep
masakan,
> dan beberapa "chef" membentuk aliran cara memasak yang menjadi
mazhab para
> "koki" yang hidup di era selanjutnya. tetapi para "tukang sayur" di masa
> kini gerah dengan banyaknya mazhab para koki di masa lalu, mereka lalu
> memaksakan makanan yang orisinal, tunggal tanpa perbedaan cara memasak,
> sesuatu yang otentik tanpa perubahan, tanpa perlu dimasak.
> 
> Para "tukang sayur" ini bisa ditemukan di banyak tempat, dan
runyamnya lagi
> para "tukang sayur" ini sekarang semakin banyak di Indonesia. Di Saudi
> Arabia para "tukang sayur" ini berkumpul di al-Lajnah al-Daimah
li'l-Buhuts
> al-'Ilmiyyah wa'l ifta' (The Permanent Council for Scientific
Research and
> Legal Opinions), namanya aja yang wah..
> 
> Di Lajnah ini berkumpullah pemuka-pemuka Islam Wahabi, seperti
'Abdul Aziz
> bin Abdullah bin Baz (1911-1999), sampai meninggalnya ia adalah
mufti agung
> Kerajaan Saudi Arabia. Muhammad bin Shalih bin 'Utsaimin (1927 - .... ).
> Abdullah bin Jibrin (1930 - .... ); dan Shalih bin Fauzan yang juga
memimpin
> al-Ma'had al-'Ali li'l Qudah (Supreme Judicial Council).
> 
> Sekarang coba kita perhatikan beberapa hasil fatwa kaum Wahabi ini :
> 
> *PERTANYAAN 1*
> Saya ingin mengirimkan foto saya kepada istri, keluarga, dan teman-teman
> saya, karena sekarang saya berada di luar negeri. Apakah hal ini
dibolehkan?
> 
> JAWABAN (oleh komite ulama Lajnah dalam Fatawa al- Lajnah)
> Nabi Muhammad di dalam hadisnya yang sahih telah melarang membuat gambar
> setiap makhluk yang bernyawa, baik manusia atau pun hewan. Oleh
karena itu
> Anda tidak boleh mengirimkan foto diri Anda kepada istri Anda atau siapa
> pun.
> 
> *PERTANYAAN 2*
> Apakah hukumnya jika seorang perempuan mengenakan beha (kutang atau
bra) ?
> 
> JAWABAN (oleh Abdullah bin Jibrin dalam Fatawa al- Lajnah)
> Banyak perempuan yang memakai beha untuk mengangkat payudara mereka
supaya
> mereka terlihat menarik dan lebih muda seperti seorang gadis.
Memakai beha
> untuk tujuan ini hukumnya haram. Jika beha dipakai untuk mencegah
rusaknya
> payudara maka ini dibolehkan, tetapi hanya sesuai kebutuhan saja.
> 
> *PERTANYAAN 3*
> Apakah hukumnya Saudi Arabia membantu Amerika Serikat dan Inggris untuk
> berperang melawan Irak? (ini kasus Perang Teluk pertama sewaktu Bush
senior
> jadi Presiden Amerika Serikat)
> 
> JAWABAN
> Hukumnya adalah boleh (mubah). Alasannya karena (1) Saddam Husein telah
> menjadi kafir, jadi Saudi Arabia memerangi orang kafir dan bukan seorang
> Muslim (2) Mencari bantuan dari Amerika Serikat dan Inggris adalah
suatu hal
> yang mendesak (dharurah) (3) Tentara Amerika sama statusnya dengan
tenaga
> kerja yang dibayar. Tentara Amerika bukanlah aliansi kita, tetapi kita
> mempekerjakan mereka untuk berada di pihak umat Islam untuk berperang
> melawan orang kafir (yaitu Saddam Hussein).
> 
> Tampaknya Lajnah ini mengurus banyak hal, dari beha hingga perang teluk.
> Yang menyedihkan adalah fatwa-fatwa itu tampak berasal dari kondisi
absennya
> rasionalitas yang cukup akut. Lenyapnya akal sehat untuk jangka
waktu yang
> cukup lama. Fatwa-fatwa di atas juga tidak menunjukkan adanya koherensi,
> tidak terlihat dipakainya metode penetapan hukum yang dikembangkan para
> fuqaha klasik, tidak ada pula pendekatan melalui kaidah-kaidah
fikih, dan
> tidak ada usul fikih. Yang tersisa hanyalah wacana hukum yang
otoritarian.
> 
> Pada tahun 1990-an dulu, K.H. Ali Yafie yang benar-benar memahami fikih,
> seorang "koki" dengan banyak jam terbang, mengangkat kaidah fikih: idza
> ta'aradha mafsadatani ru'iya a'zhamuhuma dhararan bi irtikabi
akhaffihima
> (apabila bertemu dua keburukan, maka pertimbangkan mana yang paling
besar
> dampak keburukannya, lalu pilihlah yang dampak keburukannya lebih
kecil).
> 
> Kaidah fikih di atas ia jadikan justifikasi ketika ia berpendapat bahwa
> lokalisasi bagi para pekerja seks komersial (psk) lebih baik daripada
> membiarkan mereka mencari pelanggannya di mana-mana. Karena memang
belum ada
> hukum yang jelas melarang prostitusi, dan prostitusi tampaknya tidak
bisa
> dihentikan sebelum perekonomian, kesempatan pendidikan, dan
kesempatan kerja
> menjadi lebih baik. Apa yang terjadi kemudian? K.H. Ali Yafie dengan
segera
> dihujat dan dikecam oleh banyak "tukang sayur". Ia dituding sebagai kiai
> sesat, dan bermacam-macam julukan negatif lainnya. Padahal setahu
saya, KH.
> Ali Yafie adalah sosok ulama sederhana yang berfikir dan bernalar
dari sudut
> pandang ilmu fiqih.
> 
> Di Jakarta, saya pernah menghadiri ceramah seorang penceramah
kondang yang
> sudah dianggap ulama oleh yang menganggap (mungkin tidak etis jika saya
> menyebut nama "tukang sayur" ini). Di akhir ceramah, ada yang
bertanya: "Pak
> Ustadz, apakah hukumnya meng-qadha shalat"? (meng-qadha shalat adalah
> melakukan shalat fardhu sebagai ganti dari shalat fardhu yang tidak
> dilakukan pada suatu waktu). Pak Ustadz ini dengan yakin dan berwibawa
> langsung menjawab: "di dalam Islam tidak ada yang namanya qadha shalat."
> Jawaban yang luar biasa, karena setahu saya empat mazhab fiqih utama
> (Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah dan Hanbaliyah) membolehkan qadha
shalat
> kecuali mazhab Zahiriyah yang minoritas. Tapi sebenarnya bagi saya yang
> paling menarik adalah kata-kata "di dalam Islam......" Ini adalah
jawaban
> standar para "tukang sayur". Dalam kitab-kitab fiqih klasik tidak pernah
> tertulis jawaban "di dalam Islam....." atau "menurut Islam....",
yang ada
> hanyalah "di dalam mazhab Syafi'i..." atau "menurut pendapat yang
berlaku di
> kalangan mazhab Hanafi....". Para fuqaha klasik ini rendah hati, mereka
> tidak pernah mengklaim. Tapi para "tukang sayur" ini benar-benar arogan.
> Ketika ia menyatakan "di dalam Islam..." atau "menurut Islam..."
maka secara
> tidak langsung ia telah menggusur setiap narasi atau siapa saja yang
tidak
> sependapat dengan dia dari ruang lingkup Islam." Menggusur... seperti
> Sutiyoso saja. Bayangin aja empat mazhab fikih besar koq digusur
sehingga
> sekarang berada di luar Islam.
> 
> 
> *Penolakan Capres Wanita*
> 
> Ketika isu penolakan presiden perempuan menghangat, saya sempat
dijadikan
> obyek indoktrinasi oleh seorang "tukang sayur". Ia berasal dari
perkumpulan
> 'Jama'ah Tabligh'. (menurut seorang teman, cara dakwah door to door
Jama'ah
> Tabligh ini mirip dengan 'Saksi Jehova' dalam Kristen Protestan.
Saya pikir
> asyik juga kalau bisa mempertemukan antara Jama'ah Tabligh dan Saksi
Jehova,
> biar mereka saling mendakwahi, saling menggembalai. Minimal kalau
difilmkan
> dengan kamera video digital bisa menang di Festival Film Indie di MTV).
> 
> "tukang sayur" dari Jama'ah Tabligh ini dengan segera mencecar saya,
berikut
> dialognya, huruf kapital menandakan perkataan dari "tukang sayur".
> 
> *"ANDA MUSLIM KAN, ANDA SETUJU KALAU PEREMPUAN JADI PRESIDEN?"*
> 
> "setuju saja, asal dia mampu, memang kenapa?"
> 
> *"LHO, ANDA INI GIMANA, ISLAM MENGHARAMKAN PRESIDEN PEREMPUAN.."*
> 
> "kok Anda tahu Islam mengharamkan presiden perempuan?"
> 
> *"ADA HADISNYA. NABI MUHAMMAD MELARANG PEMIMPIN PEREMPUAN, KALAU
PEREMPUAN
> JADI PEMIMPIN MAKA RUSAKLAH NEGARA."*
> 
> "Oo.. begitu ya. Jadi menurut Bapak bagaimana cara kita menjalankan
hadis
> Nabi secara benar?"
> 
> *"HARUS APA ADANYA, GIMANA DI DALAM HADIS YA YANG BEGITU ITU KITA
JALANKAN,
> SAMI'NA WA ATHA'NA. SAYA DENGAR SAYA TAAT. GAK BOLEH DIUBAH-UBAH,
JANGAN DI
> BOLAK-BALIK MAKNANYA!"*
> 
> "oo.. jadi harus apa adanya?"
> *
> "IYALAH!"*
> 
> "Bapak pernah tau gak ada hadis yang sama sahihnya dengan hadis
pelarangan
> pemimpin perempuan?"
> *
> "APA TUH?"*
> 
> "al-aimmah minal Quraisy, pemimpin itu haruslah berasal dari Suku
Quraisy.
> Kalau menurut hadis ini hanya orang Arab dari suku Quraisy yang
boleh jadi
> presiden. Laki-laki pun kalau bukan Suku Quraisy gak boleh jadi
presiden di
> Indonesia Pak.. Kita harus impor dari Arab."
> *
> "YAAH, SITUASINYA KAN UDAH BEDA, KITA HARUS LIHAT KEADAANNYA SEKARANG
> DONG.."*
> 
> "tapi tadi bapak bilang hadis harus dijalankan apa adanya, gak boleh
> dibolak-balik pemahamannya?"
> 
> "...?!?!"
> 
> 
> 
> Tahun 1999, di kampus IPB Bogor, dalam suatu kesempatan saya pernah
> iseng-iseng menghadiri tabligh akbar organisasi Hizbut Tahrir.
Organisasi
> "tukang sayur" internasional yang radikal. Salah seorang penceramah
dengan
> gagah perkasa mengatakan "nation state, demokrasi, dan hak-hak azasi
manusia
> bertentangan dengan Islam." Para hadirin yang hampir semuanya adalah
> mahasiswa-mahasiswi IPB Bogor serentak merespons dengan teriakan "Allahu
> Akbar". Luar biasa, mahasiswa-mahasiswi sebuah institut negeri yang
> bergengsi dengan gampang diindoktrinasi dan dicuci otak oleh komplotan
> "tukang sayur". Hebatnya lagi "tukang sayur" itu tidak mengangkat
dalil apa
> pun ketika ia mengatakan nation state, demokrasi, dan hak-hak azasi
manusia
> bertentangan dengan Islam, ia tidak mengutip Alquran dan hadis seperti
> lazimnya "tukang sayur profesional". Tampaknya ada spesies baru "tukang
> sayur" di IPB Bogor ini, spesies yang paling memprihatinkan.
> 
> Ketika acara di IPB itu selesai, saya keluar dari ruangan itu. Saya
> perhatikan mahasiswa IPB yang rata-rata berjenggot, memakai celana
gantung
> (di atas mata kaki), yang mahasiswi terbungkus jilbab rapat, ada
juga yang
> bercadar. Sebagian mereka memegang buku-buku. Saya melirik melihat
judulnya,
> ada Statistik, Ekonomi Pertanian, Teori Ekonomi Mikro, Ekonomi
Pembangunan,
> Ilmu Kimia, dan banyak lagi. Semuanya ilmu-ilmu yang dibangun di atas
> rasionalitas dan dipahami secara rasional. Tetapi dimana mereka
menitipkan
> rasionalitas ketika menghadiri indoktrinasi para "tukang sayur" di
ruangan
> tadi?
> 
> Para "tukang sayur" dengan kemampuan retorika yang luar biasa akhirnya
> memang meraih banyak pendengar dan pengikut, lambat laun para
"tukang sayur"
> ini tampaknya akan menang perang dalam menggusur para "koki".
> 
> Saya jadi teringat sebuah hadis Nabi Muhammad yang pernah saya dengar di
> pesantren dulu (tapi sayangnya saya lupa redaksinya dan sampai sekarang
> belum ketemu perawinya), kurang lebih hadis itu artinya begini:
"akan datang
> suatu zaman bagi umatku dimana pada masa itu banyak sekali
pendakwah, dan
> sedikit ulama."
> 
> Hadis di atas itu sekarang saya pahami menjadi "*akan datang suatu zaman
> bagi umatku dimana pada masa itu banyak sekali 'tukang sayur', dan
sedikit
> sekali 'koki'*."
> 
> 
> wallahu a'lam bi'l shawab.
> Wednesday, March 16, 2005
> Diposting oleh *Sayed Mahdi* di 3/16/2005 03:34:00 PM 9
>


Kirim email ke