Sepertinya Mbah Tawangalun lulusan LIPIA juga nih

----- Original Message ----- 
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: "jurnalisme" <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, November 14, 2008 3:46 PM
Subject: Re: [mediacare] (LIPIA - hasil didikan nya - Jasa Arab Saudi ??? ) 
Re: Jasa Arab Saudi terhadap Indonesia - terserah ente percaya ato tidak


Dengan kata lain FPI juga menikmati dana dari asing?
KM

----Original Message----
From: [EMAIL PROTECTED]
Date: 14/11/2008 14:36
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: "jurnalisme"<[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]
com>
Subj: [mediacare] (LIPIA - hasil didikan nya - Jasa Arab Saudi ??? )
Re: Jasa Arab Saudi terhadap Indonesia - terserah ente percaya ato
tidak

Mumpung sedang membicarakan Arab Saudi.
Berikut adalah rangkuman sepak terjang salah satu alumnus LIPIA
(universitas
yg di biayai oleh Arab Saudi)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apa Sebenarnya Tujuan Akhir FPI dan Kaum Islamis
Lainnya?<http://idhamdeyas.blogspot.com/2008/06/apa-sebenarnya-tujuan-
akhir-fpi-dan.html>

Mungkin saja, Ketua FPI, Muhammad Rizieq Shihab adalah korban
permainan
politik. Dengan ideologi puritannya terkadang bisa saja dia dan para
asistennya menjadi naif dan ekstra lugu. Kalau kita lebih jeli melihat
aksi-aksi politik FPI, tentu kita bisa menarik dari arah mana sumber
dukungan ke FPI ini berasal.
Kalau saya tidak salah, FPI (dengan Laskar Pembela Islam nya) pertama
kali
muncul dalam demo tanggal 17 Agustus 1998. Mereka menentang semua
elemen-elemen aksi yang menolak Habibie menjadi presiden.
Pada Bulan Agustus 1999, FPI/LPI melakukan demo ke MPR. Mereka
mendukung
pemilihan kembali Habibie menjadi presiden, dan menolak Megawati
Soekarnoputri menjadi kandidat presiden dengan alasan "menurut Islam,
haram
hukumnya kalau perempuan menjadi presiden.
Pada kesempatan lain FPI/LPI menyerang Komnas HAM yang sedang
melakukan
investigasi beberapa jenderal (termasuk Menteri Pertahanan Wiranto,
waktu
itu) yang diduga melakukan pelanggaran HAM berat di Timor Timur.
Menurut
FPI/LPI, Komnas HAM tidak membela umat Islam (yaitu para jenderal yang
muslim) tapi membela orang Timor Timur yang Nasrani.
Disini saya lebih tertarik untuk melihat ke tataran ideologis yang
menggerakkan FPI dan para simpatisannya yang mayoritas berideologi
Islamis
dan Neo-fundamentalis.

***

Kaum Islamis dan Neo-Fundamentalis menyerukan rekonstruksi sosial dan
moralitas dengan berdasarkan pada seruan kembali kepada Al-Qur'an dan
Hadis.
Mereka ingin menemukan kembali ajaran Islam tanpa ada deviasi
historis, dan
distorsi yang berasal dari nalar, sambil menyingkirkan segala tradisi
budaya
juga adat istiadat lokal yang menempel di ajaran Islam. Mereka ingin
memisahkan diri dari islam tradisional yang telah mewujudkan dirinya
selama
1400 tahun akumulasi tradisi pemikiran dalam kitab-kitab khazanah
klasik dan
kultur tradisional masyarakat-masyarakat Muslim. Akumulasi ilmu-ilmu
islam
ini dianggap sebagai penghambat jalan ke arah pemurnian Islam, jalan
kembali
kepada Al-Qur'an dan Hadis.
Mereka menampilkan pemutusan tajam dengan tradisi-tradisi keislaman
dan pada
saat yang sama menyerukan kembali ke masa lalu yang dibayangkan murni,
masa
lalu yang dikukuhkan kembali secara berbeda dari realitas sejarahnya,
masa
lalu yang steril dari segala "tahyul, bid'ah dan khurafat" yang tidak
hanya
berbentuk ziarah kubur waliyullah, penghargaan adat-istiadat lokal,
tetapi
termasuk juga tradisi fiqih-ushul fiqih madzhab, ilmu kalam, filsafat
Islam,
dan tentu saja tasawuf-thariqat.


***

Ketua FPI, Muhammad Rizieq Shihab, walaupun tidak menjadi Wahabi, dan
bukanlah penganjur Wahabi tulen, tampaknya telah mengadopsi mentalitas
Wahabisme Saudi dari tempat ia belajar: *LIPIA* (sekarang ada di
Warung
Buncit, di depan Kantor Harian Republika) dan Universitas Ibnu Su'ud
di
Riyadh. Jika kolega-kolega Wahabinya mengambil bentuk permusuhan
terhadap
musuh-musuh alamiah Wahabi, maka Rizieq Shihab menampilkan model Islam
konfrontatifnya terhadap apa yang ia pandang maksiat atau kesesatan.

FPI (dan kelompok islamis dan neo-fundamentalis lainnya seperti HTI,
MMI,
dan lain sebagainya) hanyalah salah satu puncak gunung es
fundamentalisme
Islam yang bagian terbesarnya di bawah air menjangkau ke ajaran-ajaran
Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan Wahabi di Nejd pada abad ke
18,
dan persilangannya dengan gerakan salafi modernis Islam. Muhammad ibn
Abd
al-Wahhab (1703-1792) memutuskan untuk memisahkan diri dari
Kekhalifahan
Turki Usmani dan mendirikan negara sendiri di Arabia Tengah dan
wilayah
Teluk Persia. Kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis adalah kredonya,
sekaligus
membuang semua fiqih-usul fiqih, tasawuf, dan falsafah warisan abad
pertengahan. Ibn Abdul Wahhab menyatakan bahwa para Khalifah Turki
Usmani
adalah kafir, kerena mereka telah murtad dari Islam.

***

Dari sejak berdirinya hingga sekarang, aliran Wahabi ini melakukan
aksinya
dengan dua fokus kerja besar:

1. Penghancuran ekspresi kultur Islam tradisional. Kultur Islam
tradisional
ini dipandang oleh kaum Wahabi sebagai tahyul, bid'ah, dan khurafat.
Ini
terentang mulai dari ziarah kubur waliyullah, kesenian tradisional,
praktik
sufisme populis, adat istiadat lokal yang telah membaur dengan
ekspresi
Islam populis seperti perayaan maulid, dsb.
2. Pengkafiran dan menuding sesat (ini adalah bentuk penghancuran
kultur
Islam tradisionalis dalam ranah pemikiran) para ulama dalam 4 pilar
tradisi
intelektual spiritual Islam (Fiqih-Ushul Fiqih Madzhab, Tasawuf-
Thariqat,
Filsafat Islam, dan Ilmu Kalam Asy'ariyah-Maturidiyah)

*Wahabi inilah yang menjelma menjadi aliran neo-fundamentalis di
seluruh
dunia setelah booming petro dolar Saudi di awal 70-an. Neo-
fundamentalis
Wahabi ini terkadang adalah mereka yang mengalami convert atau
"pemurtadan",
dari Islam tradisional lalu dibrainwashed oleh lembaga-lembaga
Pendidikan
Islam Wahabi di Saudi Arabia atau filialnya (seperti LIPIA di Warung
Buncit
Jakarta) menjadi Wahabi yang kaffah atau minimal memiliki mentalitas
Wahabi.
*


Di antara pemula ormas Islam neo-fundamentalis penerima dana Saudi
yang
beragenda Wahabisme adalah DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia), dari
lembaga
inilah pada tahun 80-an kita mulai mendengar adanya kristenisasi di
Indonesia, bersamaan dengan eksploitasi permusuhan dan kebencian
kepada
kelompok Nasrani di Indonesia. Dari Majalah Media Dakwah terbitan DDII
inilah semangat kebencian dan permusuhan kepada kelompok yang berbeda
dengan
mereka mulai disemai dengan baik, dengan bantuan uang Saudi Wahabi.

***

Gerakan modernis Islam yang digagas oleh Jamaluddin Al-Afghani,
Muhammad
'Abduh, dan Sayed Rayid Ridha pada abad ke 19-awal abad 20 adalah satu
gerakan pembaruan Islam yang pada awalnya bercita-cita baik, tetapi
pada
akhirnya malah membentuk ruang vakum otoritas dalam Islam Sunni. ini
adalah
efek samping dari gerakan reformis-modernis, penganjuran ijtihad
sebagai
bentuk pembebasan diri dari madzhab-madzhab, dan kembali ke Al-Qur'an
dan
Hadis. Gerakan Salafi tiga besar ulama modernis ini akhirnya hanya
membesar
di sisi kanan, yang melahirkan tokoh-tokoh Islamis seperti Hasan al-
Banna,
Abul A'la al-Maududi, Quthub, Sa'id Hawwa, Mustafa As-Siba'i, lalu
bercampur
baur dengan gagasan-gagasan Wahabi hingga melahirkan orang-orang
seperti
Osama bin Laden dan para Thaliban di Afghanistan. Dari Hasan Al-Banna
dan
Quthub, gagasan-gagasan sisi kanan Salafi ini disuburkan dalam
Ikhwanul
Muslimin, dan kemudian diekspor ke Indonesia melalui pengajian-
pengajian
Usrah kampus, yang akhirnya berevolusi menjadi partai politik PKS.

Sisi kiri gerakan salafi yang diwariskan Muhammad 'Abduh ini adalah
gerakan-gerakan neo-modernis (yang menurut saya adalah ahli waris
paling
absah dari gerakan pembaruan Islam dari garis Muhammad 'Abduh) yang
diwakili
oleh almarhum Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, dan Dr. M. Syafi'i
Anwar
(salah satu korban insiden 1 juni 08 di Monas) di Indonesia. Sementara
di
Timur Tengah dan India diwakili oleh Muhammad Khalafallah, Amin Al-
Khuli,
Sayyid Mahmud Al-Qimny, Muhammad Al-Ghazali, Fazlur Rahman, Al-Faruqi,
Nashr
Hamid Abu Zaid, dan Hassan Hanafi. Sisi kiri Salafi ini juga
dibombardir
dengan tuduhan sesat sejak dulu oleh kaum Wahabi dan "saudara kandung"
nya di
sisi kanan Salafi.

***
Kalau kita mengikuti alur berfikir kelompok islamis dan neo-
fundamentalis
yang memandang Ahmadiyah sesat, maka dimana pola fikir penyesatan ini
akan
berakhir? Ini akan berakhir dalam konflik horizontal ketika satu
kelompok
mengklaim mereka adalah pengikut Qur'an-Sunnah yang sebenarnya (dalam
versi
Wahabi-Salafi, karena dua kelompok inilah yang mengeksploitasi
pendekatan
harfiyah terhadap Qur'an-Sunnah dan selalu berkata "di dalam Islam..",
"menurut Islam....", "Islam berkata..." sehingga siapa pun yang
berbeda
pendapat dengan mereka menjadi otomatis berada di luar Islam),
sementara
yang lainnya adalah kelompok sesat atau minimal bid'ah.

Dalam sebuah fatwa para ulama Islam Wahabi di Saudi Arabia yang
dikeluarkan
pada tahun 1991 ( jilid 3: halaman 344) oleh al-Lajnah al-Da'imah li
al-Buhuts al-'Ilmiyyah wa al-Ifta' dinyatakan bahwa Syaikh Sayyid
'Abdul
Qadir al-Jailani (pendiri thariqat Qadiriyah yang diamalkan oleh
banyak
ulama Nahdlatul 'Ulama dan juga ulama Islam tradisionalis lain di
Indonesia,
Malaysia, dan Thailand Selatan) dan Syah Waliyullah Ad-Dihlawi (ulama
reformer di India) adalah kafir dan musyrik.

Para ulama fiqih (sebagian besar mereka juga mufassir Al-Qur'an) yang
juga
dituduh kafir dan sesat oleh pendiri Wahabi (Ibn Abdul Wahhab) sendiri
antara lain adalah Fakhruddin ar-Razi (wafat 606H/1210M), Abu Sa'id
al-Baydhawi (wafat 710H/1310M), Abu Hayyan al-Gharnati (wafat
745H/1344M),
al-Khazin (wafat 741H/1341M), Muhammad al-Balkhi (wafat 830H/1426M),
Shihabuddin al-Qastalani (w.923/1517M), Abu Sa'ud al-'Imadi (w.
982H/1574M),
dan masih banyak lagi.

Dalam logika berfikir penyesatan kelompok lain ini, maka pada akhirnya
kelompok sesat dan bid'ah ini tidak hanya Ahmadiyah (perlu diingat
bahwa ada
tidaknya nabi yang tidak membawa risalah setelah Nabi Muhammad adalah
problem khilafiyah dalam filsafat Islam, dan Tasawuf falsafi. Tidak
lebih
parah dari problem khilafiyah dalam filsafat Islam tentang Tuhan hanya
mengetahui yang partikular seperti dikatakan Ibnu Rusyd, dan Tuhan
mengetahui segala-galanya seperti yang dikatakan Al-Ghazali, atau
perkataan
Ana al-Haqq oleh Al-Hallaj, dan para Wali itu lebih utama dari pada
para
Nabi seperti yang dikatakan oleh Ibnu 'Arabi), tetapi terentang mulai
dari
Islam Syi'ah; pengikut thariqat-thariqat sufi yang hobi zikir dan
sholawat
beraneka macam; ulama nahdliyyin yang masih tabarrukan, ziarah ke
kuburan
waliyullah, dan mengamalkan talqin dan tawassul; aktivis Jaringan
Islam
Liberal; pemikir Islam yang mencoba mengaplikasikan gagasan-gagasan
rasional
filsafat barat ke dalam kajian Islam; ulama fiqih madzhab (dengan
nalar
ushul fiqih tradisionalnya) yang mencoba mengkritik gagasan kaum
fundamentalis yang selalu berkata "menurut Islam.."; cendekiawan Islam
Sunni
yang mengadopsi pemikiran Abdul Karim Soroush dan Mohsen Kadivar yang
Syi'i,
aktivis religius sinkretik yang memadukan zikir naqsyabandi dengan
reiki,
kundalini dan yoga; ...... saya yang menulis artikel ini dan juga Anda
yang
menyetujui.

***

Sebelum dikuasai aliansi klan Sa'ud-Wahabi, Kota Makkah-Madinah adalah
lokus
intelektual dan spiritual Islam paling kaya. Semua representasi
Madzhab
Fiqih ada di sini. Para Fuqaha Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali,
Syi'ah
Jakfari, Zhahiri dan cabang-cabang di bawahnya menyambut para
jamaahnya
masing-masing di setiap musim haji. Seluruh Thariqat sufi juga
memiliki
mursyidnya di Mekkah – Madinah. Qadiriyah, Rifa'iyyah, Naqsyabandiyah,
Syadziliyah, Syistiyyah, Sammaniyah dan lain sebagainya. Dari Thariqah
yang
mu'tabarah hingga yang ghairu ma'tabarah. Sekarang ini semua tinggal
kenangan.

Para Ulama Islam tradisionalis yang memiliki keterikatan dengan
akumulasi
khazanah tradisi pemikiran Islam sebenarnya mirip dengan kaum
intelektual
Barat yang memiliki keterikatan dengan tradisi pemikiran masa lalu
Barat,
keterikatan yang malah lebih dalam, koheren, dan integral. Kita bisa
melihat
dalam tradisi filsafat Barat, dari para pemikir skolastik ke Rene
Descartes,
David Hume, Immanuel Kant, Hegel, Edmund Husserl, hingga filsuf
eksistensialis, adanya dialog filosofis yang masih tetap berlanjut.
Kitab-kitab filsafat kuno masih tetap dibaca, sebagian besar istilah
teknis
masih dipakai, bahkan dalam konteksnya yang telah ditransformasikan.
Hal ini
tidak berbeda dengan para ulama fiqih tradisionalis yang lebih dahulu
membuka kitab fiqih Tuhfatul Muhtaj karangan Ibnu Hajar al-Haitami,
kitab-kitab Qawaid Fiqhiyyah, dan Kitab Ushul Fiqih Al-Mushtasfa
karangan
Al-Ghazali untuk menjawab masalah kontemporer, ketimbang mencomot satu
dua
ayat Al-Qur'an, plus hadis, lalu berkata "... menurut Islam, ...."
dengan
semangat kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis seperti yang kerap
dilakukan
kaum Neo-fundamentalis dan Islamis.

Sekarang Madzhab Hanafi telah punah dari Hijaz. Sejak tahun 1925 para
ulama
Madzhab Syafi'i dilarang mengimami shalat di Masjidil Haram di Makkah.
Begitu juga halnya dengan Madzhab Maliki. Seorang ulama besar Madzhab
Maliki, Sayed Muhammad Alwi Al-Maliki juga dilarang memberi khutbah di
Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi di Madinah. Padahal lebih dari
1000
tahun secara turun temurun para ulama madzhab Maliki menjadi identik
dengan
Madinah. Sayed Muhammad Alwi Al Maliki dituduh oleh Wahabi sebagai
seorang
sufi, sesat dan murtad. Apalagi Madzhab Syi'ah, di bawah penguasa
Wahabi
Saudi mereka mengalami penghancuran karakter secara sistematis.
Thariqat-thariqat Shufi? Mereka semua dianggap sesat, kafir, dan
murtad.
Yang berhak menyandang nama Islam hanyalah Wahabi. Madzab Hanbali dan
Ibnu
Taimiyah? Itu boleh, sebatas masih terakomodasi dalam batas-batas
akidah
Wahabi. Kitab Majmu' Fatwa karangan Ibnu Taimiyah sendiri pun telah
mengalami penyuntingan agar sesuai dengan akidah Wahabi, beberapa bab
yang
tidak sesuai dengan akidah Wahabi, dihilangkan dalam edisi terbitan
kitab
itu di Saudi Arabia.

Pola inilah yang telah dan sedang diekspor oleh Wahabi-Salafi (Neo
Fundamentalis-Islamis) melalui agen-agennya ke seluruh dunia.

Masihkah kita berdiri menjadi makmum di belakang kelompok ini sambil
menuding Ahmadiyah sesat, lalu setelah itu kelompok B, C, juga
dituding
sesat lalu kita sendiri juga dihadapkan pada dua pilihan menjadi
Wahabi-Salafi atau menjadi kelompok sesat...

Wallahu A'lam bishshawab.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

2008/11/14 wirajhana eka <[EMAIL PROTECTED]>

>   Saya setuju...
> memang harus ada timbal balik..bayangkan uang yang masuk ke negara
arab
> saudi bukan hanya TKI, namun HAJI, Umrah, oleh2, visa, transport,
hotel,
> pakaian, farfum...
>
> Jadi Islam bukan hanya agama buat arab saudi namun strategi
Marketing dan
> politik..
>
> namun, umlah yang diberikan belum imbang
>
>
> *Item <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
>  Dari Kompas.com
>
> Andil Arab Saudi terhadap Indonesia
>  /<http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/13/17345957/andil.arab.
saudi.terhadap.indonesia>
> Kamis, 13 November 2008 | 17:34 WIB
> *PADANG, KAMIS* - Duta Besar Saudi Arabia untuk Indonesia  Abdul
Rahman
> Mohammed Amen A. Al-Khayyat, mengatakan hubungan negaranya dengan
RI cukup
> baik dan dekat, yang dibina sejak lebih 50 tahun silam. Bahkan
menurut Abdul
> Rahman Mohammed Amen A. Al-Khayyat, hubungan itu memberikan andil
yang cukup
> besar dalam melepaskan RI dari penjajahan.
>
> "Hubungan tersebut makin kuat dan berkesinambungan mulai dari sosial
> politik, kemasyarakatan, agama dan lainnya," kata Abdul Rahman
Mohammed Amen
> A. Al-Khayyat, di hadapan 500 lebih mahasiswa,  di Padang, Kamis
(13/11). Ia
> mengatakan negara-negara Islam terbesar  di dunia seperti Indonesia
menjadi
> perhatian serius bagi pemerintahnya.
>
> Secara umum, katanya, negaranya membantu mulai dari menerima TKI dan
> mahasiswa undangan yang bersekolah di Timur Tengah khususnya di
Saudi
> Arabia. "Alumni asal Indonesia yang bersekolah di Timur Tengah sudah
banyak
> yang kembali untuk membangun RI seperti Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR
RI) dan
> M Maftuh Basyuni (Menag RI)," katanya.
>
> Selain itu banyak ulama Indonesia juga menyelesaikan studinya di
Saudi
> Arabia. Bahkan untuk mendukung pengembangan Islam di Indonesia,
Pemerintah
> Saudi Arabia juga telah 30 tahun mendirikan salah satu lembaga
Lembaga Ilmu
> Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Indonesia.
>
>
> *Sumber : Ant*
>
>
>
>




------------------------------------

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Blog:
http://mediacare.blogspot.com

http://www.mediacare.biz


Yahoo! Groups Links



Kirim email ke