Bung Bismo yang baik,
ada perbedaan mendasar antara ajaran Islam dengan non-Islam (a.l. ajaran Yesus, 
Hindu dan Buddha) yang kadangkala tidak diperhatikan orang. 
Harus diakui bahwa ajarana Katolik jaman dulu ketika Paus masih berkuasa di 
Eropa dan ajaran Islam ada persamaannya. Salah satu contohnya adalah ajaran 
bahwa tidak hadir pada Misa hari Minggu adalah dosa besar, ajaran itu 
sesungguhnya tidak diajarkan oleh Yesus dan bertentangan dengan ajaran Yesus 
yang menganjurkan agar muridnya mendahulukan menolong sesama dibandingkan 
dengan melakukan persembahan kepada Tuhan. Jadi dalam kasus Gereja Katolik 
jaman dulu ada penyimpangan terhadap ajaran Yasus dan dengan adanya reformasi 
dalam ajaran gereja, penyimpangan itu dicoba diluruskan. Soal demokrasi jelas 
tidak bertentangan dengan ajaran Yesus yang mengatakan harus dipisahkan antara 
urusan negara (Hak Kaisar) dan urusan spiritual (Hak Allah) tetapi bertentangan 
dengan kepentingan Paus yang waktu itu berkuasa mutlak. Tetapi setelah Gereja 
tidak punya kekuasaan apa-apa, demokrasi tidak bertentangan dengan ajaran Yesus 
malah sejalan, karena urusan pemerintahan harus
 diatur oleh warga masyarakat sendiri bersama pemimpin mereka.
Ajaran Hindu dan Buddha sepenuhnya bersifat spiritual sehingga tidak 
bertabrakan dengan urusan pemerintahan. Dalam ajaran Hindu dan Budda tidak ada 
kewajiban menyembah kepada Tuhan, olah spiritual yang diajarkan adalah upaya 
manusia yang mau mencari pencerahan bukan menjalankan perintah Tuhan.
Dalam ajaran Islam, menyembah Tuhan adalah segala-galanya dan harus 
dinomorsatukan. Orang yang sudah menjalankan Rukun Islam disebut sempurna tanpa 
melihat baik buruknya apa yang dilakukan di dunia ia. Sebaliknya sebaik apa pun 
orang menjalankan hidup di dunia, banyak menolong sesama dsb. tetapi tidak 
menyembah Tuhan (Sholat lima waktu) nasibnya pasti akan masuk neraka dan ajaran 
itu adalah perintah Awloh yang tidak boleh ditawar, dimasukkan dalam Alquran. 
Jadi tidak mungkin selama orang masih  mengaku Islam untuk menafsirkan bahwa 
boleh tidak sembahyang asal berkelakuan baik, karena dalam Alquran hukumnya 
jelas, yaitu masuk neraka dan perintah Awloh itu tidak boleh ditafsirkan lain.
Menjadi sangat menarik bahwa Emha Ainun Najid berani melontarkan gagasan itu 
yang sesungguhnya sejalan dengan ajaran Yesus tetapi akan divonis salah oleh 
Islam.
Salam
 

--- On Fri, 11/14/08, BDG KUSUMO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: BDG KUSUMO <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [mediacare] Re: Gusti Allah Tidak "nDeso", Islam menurut Emha Ainun 
Nadjib
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: "Zamanku" <zamanku@yahoogroups.com>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Friday, November 14, 2008, 1:18 AM







Ajaran Islam harus ditinggalkan karena tidak sesuai lagi? Seluruhnya?
Saya ingat ada yang menulis bahwa konon Islam itu seperti, maaf, sebuah
supermarket, dengan seribu macam benda (barang?) yang berbeda.
 
Saya jadi ingat dalam Forum 2000 International Conference di Praha 2007
dalam sesi InterFaith Discussion adalah Prof Dr Shlomo Avineri, direktur
Institute for the European Studies, Israel, yang bicara lantang singkat bahwa
dia sudah sekira 10 tahun ini "kesal" terus menerus karena banyak yang 
mengatakan Islam tidak kompatibel dengan demokrasi.
 
"Namun pada tahun 1850 Manzzini juga bilang bahwa Katolisisme tidak
kompatibel dengan demokrasi!", sanggahnya. Sayang tukas ini tidak di
diskusikan lembih lanjut dalam diskusi panel itu. 
 
Saya hanya tahu bahwa dalam proses penyatuan Italia pada medio abad ke
19 pemimpin gerakan G Manzzini tidak setuju dengan Gereja yang dianggap
kurang mendukung penyatuan negeri, yang banyak dijajah oleh Austria.
Gerakan berhasil setelah batalyon-batalyon  G Garibaldi yang berkemeja
merah meraih kemenangan.
 
Saya yakin bahwa agama dan ajaran apapun, yang diturunkan lewat wahyu
maupun sebagai hasil pemikiran manusia, selalu dijalankan oleh manusia
dengan penafsiran yang sering berbeda atau bahkan bertentangan. Jadi
terserahlah tafsir mana yang sesuai (kompatibel) dengan jaman, yang aktual 
misalnya untuk abad ini. Disini dapat terdapat ortodoksi, maupun juga 
interpretasi yang progresif, mengacu pada kemajuan. Mungkin semuanya 
yang ada dalam alam ini memang kena pengaruh ruang dan waktu.
 
Cak Nun betul sekali.
Salam, Bismo DG
 
 

----- Original Message ----- 
From: Hikayat Dunia 
To: Mediacare 
Cc: Zamanku 
Sent: Friday, November 14, 2008 6:19 AM
Subject: [mediacare] Gusti Allah Tidak "nDeso", Islam menurut Emha Ainun Nadjib








Di bawah ini beragama menurut Emha Ainun Nadjib, kalau semua orang Islam di 
Indonesia dapat menerima apa yang diajarkan Emha dan melaksanakannya, pasti 
Indonesia akan maju. Tetapi sadarlah, artinya ajaran Islam harus ditinggalkan 
karena tidak sesuai lagi. 
Salam 

Gusti Allah Tidak "nDeso"
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun.
"Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan 
menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk 
shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke 
rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"

Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan."
"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya.

"Ah, mosok Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih shalat Jumat, 
itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi.
"Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan 
sembahyang sebagai credit point pribadi.

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak 
berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu.

Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau 
menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang 
kesepian, Akulah yang kesepian itu.Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, 
Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga 
orang ini.

Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi 
korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan 
hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat 
permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka 
beramal,tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, 
itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang 
rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau 
korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang 
orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang 
yang sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar 
kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian 
atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya :
kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang 
lain, memberi, membantu sesama.

Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut misa, atau 
ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan 
berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama 
tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama.
Bila kita
cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke kebaktian, ikut misa, datang ke 
pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama.
Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir 
miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang 
beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, 
melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi 
kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan 
tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda 
agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan social pada kaum 
mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang 
bukan haknya.  Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa 
sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, 
sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan. ~





No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg. com 
Version: 8.0.175 / Virus Database: 270.9.2/1784 - Release Date: 12.11.2008 19:01
 














      

Kirim email ke