Beragama tanpa berakal, begitulah.....
 
Salam
Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)

--- On Fri, 11/14/08, ttbnice <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: ttbnice <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [zamanku] Re: Rakyat Indonesia sakit?
To: zamanku@yahoogroups.com
Date: Friday, November 14, 2008, 5:46 AM






Saya juga rakyat Indonesia dan banyak teman2 saya juga yang rakyat
Indonesia. Dan kami merasa tidak "sesakit" itu.

Hidayatullah memang bacaan orang "sakit". Dan orang2 yg merayakan
kemenangan terhadap pembantai manusia memang juga orang2 sakit.

Tapi karena ini membawa nama Islam, sudah seharusnya Islam bertanggung
jawab atas pencemaran nama baik seperti ini.

Hanya sayangnya, saya yang orang awam dalam ISlam, melihat Acmadiyah
yang saleh dan rahmat ilamin, diburu dan dianggap sesat. Sementara FPI
dan Amrozy cs malah di elu2kan. Dengan terpaksa menyimpulkan ternyata
Islamnya yang "sakit". Apalagi setelah melihat Tawang yg mendukung
pedofilia setelah belajar banyak Islam.

Sekali lagi maaf, karena itulah wajah Islam yg terus dan terus saya
saksikan...

--- In [EMAIL PROTECTED] .com, "teddy sunardi" <teddysunardi@ ...> wrote:
>
> Cukup dengan membaca artikel ini saya berkesimpulan bahwa rakyat
Indonesia
> sudah sakit....
> 
>
http://www.hidayatu llah.com/ index.php? option=com_ content&view= article&id= 
7905:keluarga- amrozi-adakan- syukuran- kemenangan& catid=1:nasional &Itemid=54
> 
> Ada yang istimewa di rumah keluarga Amrozi dan Ali Ghufron. Hari kedua
> setelah pelaksanaan eksekusi mereka menggelar syukuran "kemenangan" .
Bukan
> bersedih, justru bergembira. Lha kok?
> 
> 
> 
> Hidayatullah. com--Ada pemandangan menarik di hari kedua, Selasa ,
(11 /11)
> sore. Sekitar 50 an orang duduk berkumpul penuh hikmat di rumah orangtua
> Amrozi, Mbok Tariyem. Mereka menggelar acara syukuran "kemenangan" .
> 
> Acara bertajuk "Tasyakuran Kemenangan Umat Islam dalam Menyambut Syahid
> (Insyaallah) Ali Ghufron dan Amrozi, Mereka Bukan Teroris", digelar
dalam
> rangka menyambut dan member dukungan terhadap keluarga korban.
> 
> Acara dilaksanakan dengan sangat sederhana dan sepi dari liputan media
> massa. Satu-satunya media yang beruntung melihat pemandangan ini
hanyalah
> hidayatullah. com.
> 
> Pelaksanaan tasyakuran dilakukan usai shalat Ashar itu hanya
dihadiri pihak
> keluarga dan sahabat terdekat. Acara diisi dengan tausiyah beberapa
sahabat
> dekat dan wakil keluarga.
> 
> "Acara ini dilaksanakan untuk menunjukkan bahwa kita tidak bersedih,
" ujar
> ustad Ashari.
> 
> Ia juga menampik berita-berita di berbagai media massa di mana
dijelaskan
> bahwa almarhum Ali Ghufron dan Amrozi digambarkan meninggal dalam
keadaan
> pucat. Gambaran seperti itu menurutnya hanya ditujukan agar pihak
keluarga
> dan sahabatnya dalam keadaan sedih dan takut. Padahal yang terjadi
tidaklah
> demikian.
> 
> "Mungkin bagi banyak kalangan, kehadiran almarhum tidak ada yang
menyambut,
> tidak ada yang simpati atau bahkan ditolak masyarakat.
Alhamdulillah, tidak
> seperti itu", tambahnya. Bahkan menurutnya, yang terjadi justru
sebaliknya.
> Pelayat dan masyarakat yang hadir ribuan orang sampai harus berjalan
> berkilo-kilo jaraknya. Berdasarkan pantauan hidayatullah. com, sampai
Selasa
> sore kemarin, pelayat yang datang masih antri dari berbagai kota.
> 
> Selain itu, menurut Ashari, tasyakuran ini untuk mengenang tauladan
kedua
> almarhum. Diantaranya sikap konsisten, selalu menjauhkan hal-hal
yang subhat
> dan optimisme yang luar biasa terhadap perjuangan Islam. "Sampai akhir
> hayat, mereka berdua tidak pernah memakan makanan yang diberikan dari
> Lembaga Pemasyarakatan (LP)", tambahnya.
> 
> Menurut Ashari, apakah kedua almarhum diberi gelar syuhada atau tidak,
> terserah masyarakat yang menilai. Tapi ketiganya (Imam Samudra, Ali
Ghufron
> dan Amrozi, red) telah menjadi "tauladan" sepanjang yang diyakininya
benar
> dan dibawa dengan konsisten.
> 
> Ashari kemudian menutup tausiyah nya dengan membacakan kisah Ibnu
Taimiyyah
> saat dimasukkan dalam jeruji besi oleh penguasa di sebuah penjara di
benteng
> Damaskus.
> 
> Menurutnya, kala itu Ibnu Taimiyah sempat berkata, "Apakah gerangan yang
> akan diperbuat musuh-musuhku kepadaku? Syurgaku dan kebunku ada di
dadaku.
> Ke mana pun aku pergi, dia selalu bersamaku dan tidak pernah
meninggalkanku.
> Sesungguhnya penjaraku adalah tempat khuluwat-ku, kematianku adalah mati
> syahid, dan terusirnya diriku dari negeriku adalah rekreasiku".
> 
> Acara kemudian dilanjutkan dengan makan gulai kambing yang merupakan
> sumbangan dari para kerabat dan sahabat dekat Amrozi dan Ali Ghufron.
> [cha/amz/tho/ atw/www.hidayatu llah.com]
>

 














      

Kirim email ke