Ria Pos

      Pahlawan dan Penghianat  

      Senin, 10 November 2008  
      Menyambut Hari Pahlawan 10 November ini, kita diminta merenung kembali 
tentang makna pahlawan. Berpuluh tahun yang lalu, pahlawan adalah mereka yang 
berjuang untuk kemerdekaan dan kedaulatan tanah air tercinta. Mereka berjuang 
tanpa pamrih. Mereka berjuang dengan semangat dan dedikasi yang luar biasa. 
Mungkin, di antara sekian puluh nama pahlawan yang telah tercatat di lembaran 
negara, masih terdapat sekian juta pahlawan yang belum tercatat. Hal itu wajar 
saja sebab pahlawan tidak meminta tanda jasa. Pahlawan tidak berambisi untuk 
mendapatkan penghargaan. Kalau ada seseorang yang meminta gelar pahlawan, 
justru akan dianggap aneh oleh masyarakat. 

      Predikat pahlawan sangat layak diberikan kepada seseorang yang berjuang 
di luar batas kewajiban yang diembannya dengan luar biasa untuk kepentingan 
kemanusiaan. Gelar pahlawan kurang layak diberikan kepada seseorang yang 
berjuang karena tugas. Seorang hakim yang berjuang dengan keras untuk 
menegakkan keadilan kurang pantas disebut pahlawan. Hal itu dikarenakan sudah 
menjadi kewajiban seorang hakim untuk menegakkan keadilan. Pejabat KPK (Komisi 
Pemberantasan Korupsi) yang  berhasil menangkap para koruptor kurang layak 
dianggap sebagai sosok pahlawan. Karena sejak awal dia diangkat menjadi pejabat 
KPK, tugas utamanya adalah memberantas korupsi. Tidak aneh jika di sejumlah 
negara, gelar pahlawan sangat terbatas. 

      Pahlawan akan selalu dikenang dan dijadikan teladan oleh masyarakat. 
Sosok pahlawan merupakan spirit bagi masyarakat yang sedang terpuruk. Pada 
zaman kolonial, sosok pahlawan sangat diperlukan untuk memberikan suntikan 
kesadaran tentang makna perlawanan terhadap penjajahan. Memang, masyarakat yang 
sedang terpuruk akan selalu menanti kemunculan sosok pahlawan. Mereka 
mengharapkan tampilnya tokoh yang mampu memberikan spirit untuk kebangkitan. 
Sebuah masyarakat akan sulit mengalami kemajuan, jika di dalamnya tidak ada 
satupun sosok yang berjiwa pahlawan. 

      Pahlawan selalu bermimpi untuk mengubah keadaan yang stagnan menuju 
kemajuan. Dia tidak berharap kekuasaan. Sosok pahlawan akan senantiasa berusaha 
untuk bergerak dan berkerja dari pojok yang paling tidak terlihat oleh mata 
manusia. Bagi pahlawan, kekuasaan adalah alat, bukan tujuan. Dalam Islam, sosok 
paling ideal yang bisa kita sebut pahlawan adalah Nabi Muhammad SAW.

      Di dalam kehidupan ini, setiap hal pasti ada lawannya atau pasangannya. 
Malas memiliki lawan rajin. Hidup mempunyai pasangan mati. Pahlawan bisa saja 
dilawankan dengan penghianat. Dengan demikian, mestinya, disamping gelar 
pahlawan nasional, ada gelar penghianat nasional. 

      Berbeda dengan pahlawan, penghianat senantiasa berfikir untuk kepentingan 
nafsunya. Jabatan bagi seorang penghianat adalah tujuan untuk memperbanyak 
materi dan mengangkat citranya. Dia senantiasa bermimpi untuk meningkatkan 
posisi kekuasaannya ke yang lebih tinggi. Dalam sejarah, sosok yang tepat kita 
jadikan cermin sebagai penghianat adalah Fir'aun. Karena posisi raja baginya 
kurang cukup, akhirnya dia mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan.

      Setakat ini pahlawan sangat sulit kita temukan di negara ini, sementara 
penghianat berkeliaran di mana-mana. Harapan kita akan munculnya sosok pahlawan 
yang mampu memberikan obor bagi kemajuan negeri tercinta ini senantiasa pupus. 
Posisi negeri kita yang berada di peringkat atas dalam daftar negara terkorup 
di dunia menandakan hal itu. Para punggawa negara yang kita harapkan semangat 
dan jiwa pahlawannya, justru menampilkan jiwa dan spirit penghianat. Padahal 
para abdi negara inilah yang paling pontensial memberikan spirit dan teladan 
bagi masyarakat. Kalau para abdi negara berjiwa penghianat, masyarakat akan 
apatis dan senantiasa stagnan.

      Pilgubri yang baru saja usai merupakan batu ujian bagi yang menang dan 
kalah, akankah mereka layak disebut pahlawan atau justru penghianat. Pelaku 
Pilgubri yang kalah pantas disebut berjiwa pahlawan apabila mereka menerima 
hasil yang telah di-release Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Riau dan 
mendukung siapapun yang terpilih. Sikap pahlawan juga ditampilkan oleh mereka 
yang kalah dengan seruan dan janji yang kuat untuk bersama-sama membangun Riau 
agar lebih sejahtera. Sebaliknya, jiwa penghianat akan telihat jika pelaku 
Pilkada yang kalah melakukan tindakan anarkis untuk melampiaskan 
ketidakpuasannya. 

      Pelaku Pilgubri yang menang mengemban beban yang lebih berat karena 
predikat penghianat akan cenderung lebih dekat daripada pahlawan. Bagi pelaku 
Pilgubri yang menang, melaksanakan amanat dan tugas-tugas jabatan yang diemban 
dengan sebaik-baiknya tidak akan dinilai sebagai sosok pahlawan, sebab sudah 
menjadi tanggung jawab yang terpilih untuk melaksanakan tugas-tugas itu. Namun, 
setidaknya kalau pelaku Pilgubri terpilih benar-benar melaksanakan 
tugas-tugasnya dengan baik dengan dedikasi yang tinggi demi kemajuan dan 
kesejahteraan masyarakat Riau, niscaya hal itu merupakan bagian dari sifat 
seorang pahlawan. Kita percaya, jiwa pahlawan itu akan mampu memberikan spirit 
kepada masyarakat Riau untuk bersama-sama bergerak dan membangun untuk 
kemajuan. Sebaliknya, jika pelaku Pilgubri yang menang tidak mengemban amanat 
dengan baik, gelar penghianat sangat pantas diberikan kepadanya.

      Kalau harapan akan tampilnya sosok pahlawan terlalu mewah sekarang ini, 
maka masyarakat merindukan terpancarnya sebagian jiwa pahlawan dari para 
pemimpin kita. Sebagian jiwa pahlawan itu bagi kita cukuplah dengan bahasa 
sederhana yakni semangat melayani masyarakat dengan baik, melaksanakan 
tugas-tugas dengan tangung jawab tinggi, dan menghindari KKN. Jika sebagian 
saja jiwa pahlawan ini terpancar dari para pemimpin kita, kemajuan dan 
kesejahteraan  bukanlah mimpi lagi buat kita.***


      Imron Rosidi, 
      budak Pulau Kijang, alumnus Universitas Leiden, Belanda. Dosen luar biasa 
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska dan FKIP UIR Pekanbaru 

Kirim email ke