Saya nilai Budha kok gagal di negaranya sendiri,Gandhi tetep 
Hindhu,dan belum ada PM India yang Budha.Wirajhana harus menjelaskan 
kenapa kok Budha gak laku dikandang sendiri?
Hal tsb podo dg Yesus belum ada PM Israel yang Kristen,jadi Yesus 
juga podo gagal dinegaranya sendiri.
La sekarang lihat sejak dulu Rojo Rojo Arab atau PM di Timur Tengah 
pasti moslem,nah itulah yang saya nilai Nabi terakhir ini kok hebat.

Shalom,
Tawangalun.

- In zamanku@yahoogroups.com, wirajhana eka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Cape dan Bingung?..Mana Komentar yang Benar?     
> ---------------------------------
>   
>   Akhir-akhir ini, mungkin beberapa dari anda sudah merasa muak, 
capek dan bingung terhadap komentar-komentar mengenai keimanan dan 
keagamaan.
>    
>   Kalo itu karena beda keyakinan sih masih bisa dimaklumi, bahkan 
sering kali kita merasa kasihan, terheran-heran sambil berkata dalam 
hati dengan kening berkerut, "kesambet kali niee orang...Kesian 
amat..deh luu!! ".
>    
>   Padahal saat yang sama mereka juga berpikir, "Ah...niee orang 
sesat!!"
>    
>   Tapi, jika pandangan-pandangan tersebut berasal dari satu 
Iman/agama yang sama namun ternyata bertolak belakang, maka ini benar-
benar membuat bingung!
>    
>   Komentar-komentar itu terkadang membuat kening berkerut, bikin 
ngga sreg, sangat membingungkan..padahal pendapat itu datang dari 
mereka yang mempunyai reputasi terkenal, terhormat dan dianggap 
sangat mumpuni mengenai keagamaan.
>   Sebelumnya, hal-hal semacam itu sering ku alami hingga suatu 
ketika aku membaca sebuah kisah kebingungan yang sama namun kali ini 
bukan masalah kebingungan satu orang saja namum kebingungan 
sekelompok besar orang!
>    
>   Kelompok orang tersebut menetap di suatu daerah yang menjadi 
tempat pesinggahan mereka yang sedang dalam perjalanan. Kedatangan 
mereka juga membawa berbagai macam doktrin/pandangan yang bukan hanya 
bertolak belakang namun juga saling memburukan doktrin-doktrin 
lainnya. Keadaan ini malah makin menyebabkan keraguan dan makin 
membingungkan untuk menilai.
>    
>   Nah, artikel ini adalah mengenai keadaan tersebut dan bagaimana 
menyikapinya. Semoga bermanfaat.
>     
> ---------------------------------
>   
>   Pada suatu hari dalam suatu pengelanaannya, Sang Buddha bersama 
rombongan para bhikkhu tiba di Kesaputta [Bihar, Uttar Pradesh, 
India, lihat: peta]. Kesaputta adalah sebuah kota tempat kediaman 
suku Kalama. Dijaman Buddha, kota ini terletak di pinggir hutan dan 
menjadi tempat perhentian berbagai kelompok petapa dan pengelana. 
Kunjungan para pendatang menyebabkan penduduk kota itu terbuka bagi 
berbagai rangkaian teori filsafat.
>    
>   Walaupun sering didatangi oleh para Petapa, namun ketika 
mengetahui bahwa kota mereka di singgahi oleh Buddha Gotama, mereka 
kemudian menemui Sang Buddha. Seringnya mereka di kunjungi dan 
mengunjungi 'orang suci' tercermin dari berbagai sikap mereka ketika 
bertemu sang Buddha, yaitu:
>     
>    Beberapa dari mereka memberi hormat dan duduk di satu sisi.  
>    Beberapa bertukar salam dengan Beliau dan setelah bertegur sapa, 
duduk di satu sisi;  
>    Beberapa memberikan penghormatan yang tinggi kepada Beliau dan 
duduk di satu sisi;  
>    beberapa tetap diam dan duduk di satu sisi.
>   Kemudian terjadilah tanya jawab. Suku Kalama berkata kepada Sang 
Buddha:
>   "Tuan, ada beberapa petapa dan brahmana yang datang ke Kesaputta. 
Mereka menjelaskan dan menguraikan doktrin-doktrin mereka sendiri, 
dan menjelekkan, merendahkan, mencaci, serta mencemarkan doktrin yang 
lain...
>   Kemudian beberapa petapa dan brahmana lain datang ke Kesaputta, 
dan mereka juga menjelaskan dan menguraikan doktrin mereka sendiri, 
dan menjelekkan, merendahkan, mencaci, serta mencemarkan doktrin yang 
lain...
>   Tuan, kami merasa bingung dan ragu. Dari antara petapa-petapa 
yang baik ini, yang manakah yang berbicara benar dan yang manakah 
yang berbicara salah?"
>   Sang Buddha: "Memang pantas bagi kalian untuk bingung, O suku 
Kalama, memang pantas bagi kalian untuk ragu. Keraguan telah muncul 
di dalam diri kalian tentang masalah yang membingungkan. Wahai, suku 
Kalama..Jangan begitu saja mengikuti(1):
>   1.          tradisi lisan,
>   2.          ajaran turun-temurun,
>   3.          kata orang,
>   4.          koleksi kitab suci,
>   5.          penalaran logis,
>   6.          penalaran lewat kesimpulan,
>   7.          perenungan tentang alasan,
>   8.          penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya,
>   9.          pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau
>   10.     karena kalian berpikir, 'Petapa itu adalah guru kami.'
>   Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, bahwa hal-hal ini:
>     
>    tidak bermanfaat,  
>    dapat dicela (tercela);  
>    dihindari oleh para bijaksana;  
>    jika dilaksanakan/dipraktekkan, menuju kerugian dan penderitaan',
>   maka kalian harus meninggalkannya
>   "Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Bila keserakahan, kebencian 
dan kebodohan batin muncul di dalam diri seseorang, apakah hal itu 
menyebabkan kesejahteraannya atau kerugiannya?"
>   
> Suku Kalama: "Kerugiannya, Tuan."
>   
> Sang Buddha: "Suku Kalama, orang yang dikuasai oleh keserakahan, 
kebencian dan kebodohan batin(2), yang buah-pikirnya dikendalikan 
oleh hal-hal itu, akan menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang 
tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang salah dan 
pembicaraan yang salah; dia juga akan mendorong orang lain untuk 
melakukan demikian pula. Apakah hal itu akan menyebabkan kerugian dan 
penderitaannya untuk masa yang lama?"
>   
> Suku Kalama: "Ya, Tuan."
>   
> Sang Buddha: "Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Apakah hal-hal itu 
bermanfaat atau tidak bermanfaat?"
>   
> Suku Kalama: "Tidak bermanfaat, Tuan"
>   
> Sang Buddha: "Tercela atau tidak tercela?"
>   
> Suku Kalama: "Tercela, Tuan."
>   
> Sang Buddha: "Dikecam atau dipuji oleh para bijaksana?"
>   
> Suku Kalama: "Dikecam, Tuan."
>   
> Sang Buddha: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, apakah hal-hal 
ini menyebabkan kerugian dan penderitaan atau tidak, atau bagaimana?"
> 
> Suku Kalama: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, hal-hal ini 
menuju ke kerugian dan penderitaan. Demikian tampaknya hal ini bagi 
kami."
> 
> Sang Buddha: "Untuk alasan inilah, suku Kalama, maka kami 
mengatakan: Janganlah begitu saja mengikuti:
>   1.          tradisi lisan,
>   2.          ajaran turun-temurun,
>   3.          kata orang,
>   4.          koleksi kitab suci,
>   5.          penalaran logis,
>   6.          penalaran lewat kesimpulan,
>   7.          perenungan tentang alasan,
>   8.          penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya,
>   9.          pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau
>   10.     karena kalian berpikir, 'Petapa itu adalah guru kami.'
>    
>   Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, bahwa hal-hal ini:
>     
>    bermanfaat,  
>    tidak tercela;  
>    dipujikan oleh para bijaksana;  
>    jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan 
kebahagiaan',
>   maka kalian harus menjalankannya."
>   
> "Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Jika tanpa-keserakahan, tanpa-
kebencian dan tanpa-kebodohan-batin muncul di dalam diri seseorang, 
apakah itu membawa kesejahteraan atau kerugiannya?"
>   
> Suku Kalama: "Kesejahteraannya, Tuan."
>   
> Sang Buddha: "Suku Kalama, orang yang tanpa keserakahan, tanpa 
kebencian, tanpa kebodohan batin, yang tidak dikuasai oleh 
keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, yang buah-pikirnya tidak 
dikendalikan oleh semua itu, dia tidak akan menghancurkan kehidupan, 
mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang 
salah dan pembicaraan yang salah; dia juga akan mendorong orang lain 
untuk melakukan demikian pula. Apakah hal itu menopang kesejahteraan 
dan kebahagiaannya untuk masa yang lama?"
>   
> Suku Kalama: "Ya, Tuan."
>   
> Sang Buddha: "Bagaimana pendapatmu, Kalama? Apakah hal-hal itu 
bermanfaat atau tidak bermanfaat?"
>   
> Suku Kalama: "Bermanfaat, Tuan."
>   
> Sang Buddha: "Tercela atau tidak tercela?"
>   
> Suku Kalama: "Tidak tercela, Tuan."
>   
> Sang Buddha: "Dikecam atau dipuji oleh para bijaksana?"
>   
> Suku Kalama: "Dipuji, Tuan."
>    
>   Sang Buddha: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, apakah hal-hal 
ini menuju kesejahteraan dan kebahagiaan atau tidak, atau bagaimana?"
> 
> Suku Kalama: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, hal-hal ini 
menuju kesejahteraan dan kebahagiaan. Demikian tampaknya hal ini bagi 
kami."
> 
> Sang Buddha: "Untuk alasan inilah, suku Kalama, maka kami 
mengatakan: Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan...dst"
>   
> "Maka, suku Kalama, siswa agung itu yang tidak memiliki 
keserakahan, tidak memiliki niat jahat, tidak bingung, memahami 
dengan jernih, selalu waspada berdiam dengan menyelimuti satu arah 
dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih, demikian pula ke arah 
kedua, ketiga dan keempat(3). Demikian pula ke atas, ke bawah, ke 
seberang dan ke manapun, dan ke segala sesuatu seperti ke dirinya 
sendiri, dia berdiam menyelimuti seluruh dunia dengan pikiran yang 
dipenuhi cinta kasih, luas, tinggi, tanpa batas, tanpa rasa 
permusuhan dan tanpa niat jahat."
>   
> "Dia berdiam menyelimuti satu arah dengan pikiran yang dipenuhi 
kasih sayang... dipenuhi sukacita yang tidak mengutamakan diri 
sendiri... dipenuhi ketenang-seimbangan, demikian pula ke arah kedua, 
ketiga dan keempat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke seberang, dan 
ke manapun, dan ke segala sesuatu seperti ke dirinya sendiri, dia 
berdiam menyelimuti seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi 
ketenang-seimbangan, luas, tinggi, tanpa batas, tanpa rasa permusuhan 
dan tanpa niat jahat.
> 
> "Suku Kalama, bila siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas 
dari rasa permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, 
dia telah memenangkan empat jaminan dalam kehidupan ini juga.
>     
>    Inilah jaminan pertama yang telah dimenangkannya: 'Seandainya 
ada alam lain, dan seandainya perilaku yang baik dan buruk memang 
memberikan buah dan menghasilkan akibat, maka ada kemungkinan ketika 
tubuh hancur, setelah kematian, aku akan muncul di tempat yang baik, 
di suatu alam surgawi.'  
>    Inilah jaminan kedua yang telah dimenangkannya: 'Seandainya 
tidak ada alam lain, dan seandainya tindakan baik dan buruk memang 
tidak memberikan buah dan menghasilkan akibat, tetap saja di sini, di 
dalam kehidupan ini juga, aku hidup dengan bahagia, bebas dari rasa 
permusuhan dan niat jahat.'  
>    Inilah jaminan ketiga yang telah dimenangkannya: 'Seandainya 
kejahatan menimpa si pelaku kejahatan, maka karena aku tidak berniat 
jahat kepada siapapun, bagaimana mungkin penderitaan menyerangku, 
orang yang tidak melakukan kejahatan?'  
>    Inilah jaminan keempat yang telah dimenangkannya: 'Seandainya 
kejahatan tidak menimpa pelaku kejahatan, maka di sini juga aku 
melihat diriku sendiri termurnikan di dalam dua hal [dia tidak 
melakukan kejahatan dan tidak ada kejahatan yang akan menimpanya]'
>   "Suku Kalama, bila siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas 
dari permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, maka 
dia telah memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga."
>   
> Mendengar uraian tersebut, Suku Kalama menjawab dengan 
kegembiraan, "Benar demikian, Yang Terberkati! Benar demikian, Yang 
Agung! Jika siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas dari 
permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, dia telah 
memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga."
>    
>   Kemudian Suku Kalama melanjutkan, "Luar biasa, Tuan! ... Biarlah 
Yang Terberkati menerima kami sebagai pengikut awam yang telah pergi 
untuk berlindung sejak hari ini sampai akhir hayat."
>    
>   [Sumber: Kalama Sutta, Anguttara Nikaya, Tika Nipata, Mahavagga, 
Sutta No. 65] 
>     
> ---------------------------------
>   
>   Catatan:
>   (1) Sepuluh kriteria mengenai keterangan ini dapat dikelompokkan 
menjadi tiga kategori:
>     
>    Yang pertama adalah dalil yang didasarkan pada tradisi, yang 
mencakup empat kriteria pertama. Dari kriteria ini, "tradisi lisan" 
(anussava) biasanya dianggap mengacu pada tradisi Veda, yang menurut 
para brahmana, berasal dari Dewa Pertama (Brahman/Allah/Tuhan) dan 
diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. "Turun-temurun" 
(parampara) menunjukkan tradisi pada umumnya dan kesinambungan yang 
tidak terputus dari ajaran-ajaran atau guru-gurunya. "Kata orang" 
(atau "laporan"; itikira) bisa berarti pendapat populer atau 
persetujuan umum. Dan "koleksi kitab suci" (pitaka-sampada) mengacu 
pada koleksi kitab-kitab agama apapun yang dianggap sebagai tidak 
bisa salah.  
>    Rangkaian kedua yang terdiri empat kriteria berikutnya, mengacu 
pada empat jenis penalaran yang dikenali oleh para pemikir di zaman 
Sang Buddha; perbedaan-perbedaan mereka tidak perlu menghalangi kita 
di sini.  
>    Rangkaian ketiga, yang merupakan dua butir terakhir, terdiri 
dari dua jenis otoritas pribadi: yang pertama adalah kharisma pribadi 
pembicara (mungkin mencakup juga kualifikasi eksternalnya, misalnya 
dia memiliki pendidikan yang tinggi, memiliki banyak pengikut, 
dihormati raja dll.); yang kedua adalah otoritas yang bermula dari 
hubungan pembicara dengan dirinya, yaitu bahwa dia adalah guru 
pribadinya sendiri (kata Pali garu yang digunakan di sini identik 
dengan kata Sanskerta guru).
>   (2) Di dalam ajaran buddha, ini disebut tiga akar kejahatan yang 
mendasari semua perilaku tidak bermoral dan semua keadaan pikiran 
yang kotor. Suku Kalama diminta merenungkan pengalaman mereka sendiri.
>    
>   (3) Di ajaran Buddha ini disebut empat "tempat tinggal yang 
agung" (brahmavihara), mengembangan cinta kasih universal, kasih 
sayang, suka cita altruistik (yang tidak mementingkan diri sendiri), 
dan ketenang-seimbangan:
>     
>    Cinta kasih (metta) secara formal didefinisikan sebagai 
keinginan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk;  
>    kasih sayang (karuna) sebagai rasa empati kepada mereka yang 
tertimpa penderitaan;  
>    suka cita altruistik (mudita), sebagai suka cita dalam 
keberhasilan dan nasib baik orang lain; dan  
>    ketenang seimbangan (upekkha), sebagai sikap netral atau tidak 
pilih kasih terhadap makhluk.
>     
> ---------------------------------
>   
> http://wirajhana-eka.blogspot.com/2008/11/cape-dan-bingung-komentar-
mana-yang.html
>


Kirim email ke