Tawang,

Kamu bangga dengan nabi terakhir, tetapi lihat itu negeri seperti Singapura, 
Taiwan, China, Korea, Jepang maju. Negeri-negeri nabi terakhir itu susah maju 
sebab nabi sendiri tak bisa menghafal 24 huruf  selama hidupnya, akibatnya  
tetap butahuruf.  Mungkin itu pengaruhnya untuk tidak maju-maju.

Di India tidak penting soal agama, makanya itu pada pemerintahan lbisa 
presidennya beragama  Islam, perdana menteri Sikh, ketua parlem komunis.  Lihat 
mereka luncurkan satelit ke bulan, Indonesia sibuk dengan melihat bulan sabit, 
tau-tau sabitnya karena bayang bumi.

Di Israel itu tergantung partai politik, apakah banyak pengikutnya atau tidak 
untuk dapat sura mayoritas sebagai pemimpin parlemen dan perdana menteri. Malah 
 sekarang ada menterinya beragama Islam untuk urusan penduduk.



  ----- Original Message ----- 
  From: tawangalun 
  To: zamanku@yahoogroups.com 
  Sent: Saturday, November 15, 2008 11:01 AM
  Subject: [zamanku] Re: Cape dan Bingung?..Mana Komentar yang Benar?


  Saya nilai Budha kok gagal di negaranya sendiri,Gandhi tetep 
  Hindhu,dan belum ada PM India yang Budha.Wirajhana harus menjelaskan 
  kenapa kok Budha gak laku dikandang sendiri?
  Hal tsb podo dg Yesus belum ada PM Israel yang Kristen,jadi Yesus 
  juga podo gagal dinegaranya sendiri.
  La sekarang lihat sejak dulu Rojo Rojo Arab atau PM di Timur Tengah 
  pasti moslem,nah itulah yang saya nilai Nabi terakhir ini kok hebat.

  Shalom,
  Tawangalun.

  - In zamanku@yahoogroups.com, wirajhana eka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > Cape dan Bingung?..Mana Komentar yang Benar? 
  > ---------------------------------
  > 
  > Akhir-akhir ini, mungkin beberapa dari anda sudah merasa muak, 
  capek dan bingung terhadap komentar-komentar mengenai keimanan dan 
  keagamaan.
  > 
  > Kalo itu karena beda keyakinan sih masih bisa dimaklumi, bahkan 
  sering kali kita merasa kasihan, terheran-heran sambil berkata dalam 
  hati dengan kening berkerut, "kesambet kali niee orang...Kesian 
  amat..deh luu!! ".
  > 
  > Padahal saat yang sama mereka juga berpikir, "Ah...niee orang 
  sesat!!"
  > 
  > Tapi, jika pandangan-pandangan tersebut berasal dari satu 
  Iman/agama yang sama namun ternyata bertolak belakang, maka ini benar-
  benar membuat bingung!
  > 
  > Komentar-komentar itu terkadang membuat kening berkerut, bikin 
  ngga sreg, sangat membingungkan..padahal pendapat itu datang dari 
  mereka yang mempunyai reputasi terkenal, terhormat dan dianggap 
  sangat mumpuni mengenai keagamaan.
  > Sebelumnya, hal-hal semacam itu sering ku alami hingga suatu 
  ketika aku membaca sebuah kisah kebingungan yang sama namun kali ini 
  bukan masalah kebingungan satu orang saja namum kebingungan 
  sekelompok besar orang!
  > 
  > Kelompok orang tersebut menetap di suatu daerah yang menjadi 
  tempat pesinggahan mereka yang sedang dalam perjalanan. Kedatangan 
  mereka juga membawa berbagai macam doktrin/pandangan yang bukan hanya 
  bertolak belakang namun juga saling memburukan doktrin-doktrin 
  lainnya. Keadaan ini malah makin menyebabkan keraguan dan makin 
  membingungkan untuk menilai.
  > 
  > Nah, artikel ini adalah mengenai keadaan tersebut dan bagaimana 
  menyikapinya. Semoga bermanfaat.
  > 
  > ---------------------------------
  > 
  > Pada suatu hari dalam suatu pengelanaannya, Sang Buddha bersama 
  rombongan para bhikkhu tiba di Kesaputta [Bihar, Uttar Pradesh, 
  India, lihat: peta]. Kesaputta adalah sebuah kota tempat kediaman 
  suku Kalama. Dijaman Buddha, kota ini terletak di pinggir hutan dan 
  menjadi tempat perhentian berbagai kelompok petapa dan pengelana. 
  Kunjungan para pendatang menyebabkan penduduk kota itu terbuka bagi 
  berbagai rangkaian teori filsafat.
  > 
  > Walaupun sering didatangi oleh para Petapa, namun ketika 
  mengetahui bahwa kota mereka di singgahi oleh Buddha Gotama, mereka 
  kemudian menemui Sang Buddha. Seringnya mereka di kunjungi dan 
  mengunjungi 'orang suci' tercermin dari berbagai sikap mereka ketika 
  bertemu sang Buddha, yaitu:
  > 
  > Beberapa dari mereka memberi hormat dan duduk di satu sisi. 
  > Beberapa bertukar salam dengan Beliau dan setelah bertegur sapa, 
  duduk di satu sisi; 
  > Beberapa memberikan penghormatan yang tinggi kepada Beliau dan 
  duduk di satu sisi; 
  > beberapa tetap diam dan duduk di satu sisi.
  > Kemudian terjadilah tanya jawab. Suku Kalama berkata kepada Sang 
  Buddha:
  > "Tuan, ada beberapa petapa dan brahmana yang datang ke Kesaputta. 
  Mereka menjelaskan dan menguraikan doktrin-doktrin mereka sendiri, 
  dan menjelekkan, merendahkan, mencaci, serta mencemarkan doktrin yang 
  lain...
  > Kemudian beberapa petapa dan brahmana lain datang ke Kesaputta, 
  dan mereka juga menjelaskan dan menguraikan doktrin mereka sendiri, 
  dan menjelekkan, merendahkan, mencaci, serta mencemarkan doktrin yang 
  lain...
  > Tuan, kami merasa bingung dan ragu. Dari antara petapa-petapa 
  yang baik ini, yang manakah yang berbicara benar dan yang manakah 
  yang berbicara salah?"
  > Sang Buddha: "Memang pantas bagi kalian untuk bingung, O suku 
  Kalama, memang pantas bagi kalian untuk ragu. Keraguan telah muncul 
  di dalam diri kalian tentang masalah yang membingungkan. Wahai, suku 
  Kalama..Jangan begitu saja mengikuti(1):
  > 1. tradisi lisan,
  > 2. ajaran turun-temurun,
  > 3. kata orang,
  > 4. koleksi kitab suci,
  > 5. penalaran logis,
  > 6. penalaran lewat kesimpulan,
  > 7. perenungan tentang alasan,
  > 8. penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya,
  > 9. pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau
  > 10. karena kalian berpikir, 'Petapa itu adalah guru kami.'
  > Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, bahwa hal-hal ini:
  > 
  > tidak bermanfaat, 
  > dapat dicela (tercela); 
  > dihindari oleh para bijaksana; 
  > jika dilaksanakan/dipraktekkan, menuju kerugian dan penderitaan',
  > maka kalian harus meninggalkannya
  > "Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Bila keserakahan, kebencian 
  dan kebodohan batin muncul di dalam diri seseorang, apakah hal itu 
  menyebabkan kesejahteraannya atau kerugiannya?"
  > 
  > Suku Kalama: "Kerugiannya, Tuan."
  > 
  > Sang Buddha: "Suku Kalama, orang yang dikuasai oleh keserakahan, 
  kebencian dan kebodohan batin(2), yang buah-pikirnya dikendalikan 
  oleh hal-hal itu, akan menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang 
  tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang salah dan 
  pembicaraan yang salah; dia juga akan mendorong orang lain untuk 
  melakukan demikian pula. Apakah hal itu akan menyebabkan kerugian dan 
  penderitaannya untuk masa yang lama?"
  > 
  > Suku Kalama: "Ya, Tuan."
  > 
  > Sang Buddha: "Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Apakah hal-hal itu 
  bermanfaat atau tidak bermanfaat?"
  > 
  > Suku Kalama: "Tidak bermanfaat, Tuan"
  > 
  > Sang Buddha: "Tercela atau tidak tercela?"
  > 
  > Suku Kalama: "Tercela, Tuan."
  > 
  > Sang Buddha: "Dikecam atau dipuji oleh para bijaksana?"
  > 
  > Suku Kalama: "Dikecam, Tuan."
  > 
  > Sang Buddha: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, apakah hal-hal 
  ini menyebabkan kerugian dan penderitaan atau tidak, atau bagaimana?"
  > 
  > Suku Kalama: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, hal-hal ini 
  menuju ke kerugian dan penderitaan. Demikian tampaknya hal ini bagi 
  kami."
  > 
  > Sang Buddha: "Untuk alasan inilah, suku Kalama, maka kami 
  mengatakan: Janganlah begitu saja mengikuti:
  > 1. tradisi lisan,
  > 2. ajaran turun-temurun,
  > 3. kata orang,
  > 4. koleksi kitab suci,
  > 5. penalaran logis,
  > 6. penalaran lewat kesimpulan,
  > 7. perenungan tentang alasan,
  > 8. penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya,
  > 9. pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau
  > 10. karena kalian berpikir, 'Petapa itu adalah guru kami.'
  > 
  > Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, bahwa hal-hal ini:
  > 
  > bermanfaat, 
  > tidak tercela; 
  > dipujikan oleh para bijaksana; 
  > jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan 
  kebahagiaan',
  > maka kalian harus menjalankannya."
  > 
  > "Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Jika tanpa-keserakahan, tanpa-
  kebencian dan tanpa-kebodohan-batin muncul di dalam diri seseorang, 
  apakah itu membawa kesejahteraan atau kerugiannya?"
  > 
  > Suku Kalama: "Kesejahteraannya, Tuan."
  > 
  > Sang Buddha: "Suku Kalama, orang yang tanpa keserakahan, tanpa 
  kebencian, tanpa kebodohan batin, yang tidak dikuasai oleh 
  keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, yang buah-pikirnya tidak 
  dikendalikan oleh semua itu, dia tidak akan menghancurkan kehidupan, 
  mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang 
  salah dan pembicaraan yang salah; dia juga akan mendorong orang lain 
  untuk melakukan demikian pula. Apakah hal itu menopang kesejahteraan 
  dan kebahagiaannya untuk masa yang lama?"
  > 
  > Suku Kalama: "Ya, Tuan."
  > 
  > Sang Buddha: "Bagaimana pendapatmu, Kalama? Apakah hal-hal itu 
  bermanfaat atau tidak bermanfaat?"
  > 
  > Suku Kalama: "Bermanfaat, Tuan."
  > 
  > Sang Buddha: "Tercela atau tidak tercela?"
  > 
  > Suku Kalama: "Tidak tercela, Tuan."
  > 
  > Sang Buddha: "Dikecam atau dipuji oleh para bijaksana?"
  > 
  > Suku Kalama: "Dipuji, Tuan."
  > 
  > Sang Buddha: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, apakah hal-hal 
  ini menuju kesejahteraan dan kebahagiaan atau tidak, atau bagaimana?"
  > 
  > Suku Kalama: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, hal-hal ini 
  menuju kesejahteraan dan kebahagiaan. Demikian tampaknya hal ini bagi 
  kami."
  > 
  > Sang Buddha: "Untuk alasan inilah, suku Kalama, maka kami 
  mengatakan: Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan...dst"
  > 
  > "Maka, suku Kalama, siswa agung itu yang tidak memiliki 
  keserakahan, tidak memiliki niat jahat, tidak bingung, memahami 
  dengan jernih, selalu waspada berdiam dengan menyelimuti satu arah 
  dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih, demikian pula ke arah 
  kedua, ketiga dan keempat(3). Demikian pula ke atas, ke bawah, ke 
  seberang dan ke manapun, dan ke segala sesuatu seperti ke dirinya 
  sendiri, dia berdiam menyelimuti seluruh dunia dengan pikiran yang 
  dipenuhi cinta kasih, luas, tinggi, tanpa batas, tanpa rasa 
  permusuhan dan tanpa niat jahat."
  > 
  > "Dia berdiam menyelimuti satu arah dengan pikiran yang dipenuhi 
  kasih sayang... dipenuhi sukacita yang tidak mengutamakan diri 
  sendiri... dipenuhi ketenang-seimbangan, demikian pula ke arah kedua, 
  ketiga dan keempat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke seberang, dan 
  ke manapun, dan ke segala sesuatu seperti ke dirinya sendiri, dia 
  berdiam menyelimuti seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi 
  ketenang-seimbangan, luas, tinggi, tanpa batas, tanpa rasa permusuhan 
  dan tanpa niat jahat.
  > 
  > "Suku Kalama, bila siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas 
  dari rasa permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, 
  dia telah memenangkan empat jaminan dalam kehidupan ini juga.
  > 
  > Inilah jaminan pertama yang telah dimenangkannya: 'Seandainya 
  ada alam lain, dan seandainya perilaku yang baik dan buruk memang 
  memberikan buah dan menghasilkan akibat, maka ada kemungkinan ketika 
  tubuh hancur, setelah kematian, aku akan muncul di tempat yang baik, 
  di suatu alam surgawi.' 
  > Inilah jaminan kedua yang telah dimenangkannya: 'Seandainya 
  tidak ada alam lain, dan seandainya tindakan baik dan buruk memang 
  tidak memberikan buah dan menghasilkan akibat, tetap saja di sini, di 
  dalam kehidupan ini juga, aku hidup dengan bahagia, bebas dari rasa 
  permusuhan dan niat jahat.' 
  > Inilah jaminan ketiga yang telah dimenangkannya: 'Seandainya 
  kejahatan menimpa si pelaku kejahatan, maka karena aku tidak berniat 
  jahat kepada siapapun, bagaimana mungkin penderitaan menyerangku, 
  orang yang tidak melakukan kejahatan?' 
  > Inilah jaminan keempat yang telah dimenangkannya: 'Seandainya 
  kejahatan tidak menimpa pelaku kejahatan, maka di sini juga aku 
  melihat diriku sendiri termurnikan di dalam dua hal [dia tidak 
  melakukan kejahatan dan tidak ada kejahatan yang akan menimpanya]'
  > "Suku Kalama, bila siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas 
  dari permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, maka 
  dia telah memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga."
  > 
  > Mendengar uraian tersebut, Suku Kalama menjawab dengan 
  kegembiraan, "Benar demikian, Yang Terberkati! Benar demikian, Yang 
  Agung! Jika siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas dari 
  permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, dia telah 
  memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga."
  > 
  > Kemudian Suku Kalama melanjutkan, "Luar biasa, Tuan! ... Biarlah 
  Yang Terberkati menerima kami sebagai pengikut awam yang telah pergi 
  untuk berlindung sejak hari ini sampai akhir hayat."
  > 
  > [Sumber: Kalama Sutta, Anguttara Nikaya, Tika Nipata, Mahavagga, 
  Sutta No. 65] 
  > 
  > ---------------------------------
  > 
  > Catatan:
  > (1) Sepuluh kriteria mengenai keterangan ini dapat dikelompokkan 
  menjadi tiga kategori:
  > 
  > Yang pertama adalah dalil yang didasarkan pada tradisi, yang 
  mencakup empat kriteria pertama. Dari kriteria ini, "tradisi lisan" 
  (anussava) biasanya dianggap mengacu pada tradisi Veda, yang menurut 
  para brahmana, berasal dari Dewa Pertama (Brahman/Allah/Tuhan) dan 
  diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. "Turun-temurun" 
  (parampara) menunjukkan tradisi pada umumnya dan kesinambungan yang 
  tidak terputus dari ajaran-ajaran atau guru-gurunya. "Kata orang" 
  (atau "laporan"; itikira) bisa berarti pendapat populer atau 
  persetujuan umum. Dan "koleksi kitab suci" (pitaka-sampada) mengacu 
  pada koleksi kitab-kitab agama apapun yang dianggap sebagai tidak 
  bisa salah. 
  > Rangkaian kedua yang terdiri empat kriteria berikutnya, mengacu 
  pada empat jenis penalaran yang dikenali oleh para pemikir di zaman 
  Sang Buddha; perbedaan-perbedaan mereka tidak perlu menghalangi kita 
  di sini. 
  > Rangkaian ketiga, yang merupakan dua butir terakhir, terdiri 
  dari dua jenis otoritas pribadi: yang pertama adalah kharisma pribadi 
  pembicara (mungkin mencakup juga kualifikasi eksternalnya, misalnya 
  dia memiliki pendidikan yang tinggi, memiliki banyak pengikut, 
  dihormati raja dll.); yang kedua adalah otoritas yang bermula dari 
  hubungan pembicara dengan dirinya, yaitu bahwa dia adalah guru 
  pribadinya sendiri (kata Pali garu yang digunakan di sini identik 
  dengan kata Sanskerta guru).
  > (2) Di dalam ajaran buddha, ini disebut tiga akar kejahatan yang 
  mendasari semua perilaku tidak bermoral dan semua keadaan pikiran 
  yang kotor. Suku Kalama diminta merenungkan pengalaman mereka sendiri.
  > 
  > (3) Di ajaran Buddha ini disebut empat "tempat tinggal yang 
  agung" (brahmavihara), mengembangan cinta kasih universal, kasih 
  sayang, suka cita altruistik (yang tidak mementingkan diri sendiri), 
  dan ketenang-seimbangan:
  > 
  > Cinta kasih (metta) secara formal didefinisikan sebagai 
  keinginan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk; 
  > kasih sayang (karuna) sebagai rasa empati kepada mereka yang 
  tertimpa penderitaan; 
  > suka cita altruistik (mudita), sebagai suka cita dalam 
  keberhasilan dan nasib baik orang lain; dan 
  > ketenang seimbangan (upekkha), sebagai sikap netral atau tidak 
  pilih kasih terhadap makhluk.
  > 
  > ---------------------------------
  > 
  > http://wirajhana-eka.blogspot.com/2008/11/cape-dan-bingung-komentar-
  mana-yang.html
  >



   

Kirim email ke