Gagal?

Ohhh...Maksudnya Pengikut ajaran Buddja di India tidak banyak begitu?

Pemikiran Buddha merupakan satu dari sekian banyak bunga rampai
theosophy  Tradisi India seperti Waisnawa, Saiva, Jain, Advaita dll.

Perbedaan pendapat theosophy dalam tradisi india tidaklah diselesaikan
dengan jalan golok dengan memaksakan kehendak dan memperbudak mereka
Sebagai contoh adalah Adi shankara (788 - 820)..Ia berhasil mengalahkan
pendeta Buddha dalam satu debat mengenai masalah ketuhanan...namun itu
bukanlah penyebab utama lenyapnya ajara Buddha dari India, pemikiran Adi
Shankara justru memperkaya jumlah bunga rampai Theosphy tradisi India!
dan dua ajaran tersebut sama-sama berkembang pesat hingga abad ke 11-12
M

Ajaran Buddha jelas-jelas mengatakan bahwa Tuhan/Brahman/Brahma adalah
sekedar mahluk yang sedang menjalani Proses pembayaran Karma...dan
Tuhan/Brahma bukanlah tujuan tertinggi dari ajaran Buddha.

Dengan pendapat tersebut APAKAH LANTAS lantas para penganut tradisi
india lainnya mencak2 marah2 bawa2 golok memburu kemanapun para pemeluk
Buddha?

Tidak ...

Pembalasan yang dilakukan oleh Umat tradisi India lainnya adalah juga
cerdas!

mau tahu caranya...?

Mereka malah menyatakan bahwa Buddha adalah Avatara Wisnu!

Nah, itulah tradisi bagaimana Perdebatan berjalan di India..namun tidak
pernah perbedaan tersebut MEMBUNUH perkembangan BUDDHA dari tanah INDIA
pada saat itu....

Masalahnya adalah justru datang dari ajaran luar tradisi India!

Sejak kedatangan mereka ke India..maka TIDAK ADA penyelesaian perbedaan
pendangan mengenai SESEMBAHAN diselesaikan dengan cara tersebut diatas!
Perbedaan sesembahan di selesaikan HANYA dengan pilihan terbatas,yaitu 
GOLOK,  PEDANG, TOMBAK, DIBAKAR HIDUP-HIDUP ATAU Masuk Islam!

Itulah alasan mengapa Buddhisme lenyap dari bumi India:

In his History of the Civilisation of Ancient India RC Dutt said
<http://www.dailynews.lk/2006/05/04/fea03.asp>  : "It          was in
the Buddhist age that the most brilliant results were achieved in
astronomy. For six centuries after 1200 AD the history of the Hindus is
blank." Dharmapala attributed the decline of Buddhism and Buddhist rule
to Muslim invasions from the North West.


"The darkest days of India were during the Mohomedan period, and the
religion of enlightenment (Buddhism) was nowhere to be found," he said.
And describing the decline, he said that with the loss of Buddhism, "a
reign of inanition (emptiness) set in." "Bigotry, intolerance,         
persecution, worked heavily during this period," he said.

Saat itu, di setiap pendudukan Muslim di kota-kota India, semua Buku2
Agama tradisi India di bakar, Para Biksu dan Brahmana di bunuhi dan di
bakar hidup2 secara BIADAB...kejadian2 terakhir adalah pada tahun 1202
di odentapuri ribuah para biksu Buddha di bantai oleh Bhaktiyar
Khilji...setelah peristiwa itu perlahan tapi pasti Buddhisme menghilang
dari India..

Sejak saat itu pulalah Pancama Weda (bhagavad Gita) dan Advaidata
Vedanta mulai bersinar dan makin terang dari abad ke abad...

Mengapa?

Karena hanya Bhagavad gita-lah yang sangat cocok menghadapi model DEBAT
ala MUSLIM!

Implematasi dari Nasihat Krisna kepada Arjuna memberikan cara yang
simple dan gamblang bagaimana pentingnya menghancurkan A-DHARMA ketika
merajalela di MUKA BUMI dengan menjalankan Catur Marga (Yoga, jalan)!

Mereka melakukan Catur Marga di setiap sendi/nadi kehidupan di tradisi
India dan menyerahkan hasilnya kepada Brahman.

Selama 800-an tahun kemudian kekuatan epos Ramayana dan Mahabharata
memegang pengaruh penting bagi kelangsungan hidup SEMUA tradisi INDIA.

HASILNYA?

Setelah selama 1000 tahun penjajahan Muslim di India....jumlah penduduk
Muslim di India (Termasuk Pakistan dan Bangladesh, Kasmir dan
Afganistan) tidak lebih dari 20 % jumlah Penduduk INDA.

Begitu penjelasannya om...

--- In zamanku@yahoogroups.com, "tawangalun" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya nilai Budha kok gagal di negaranya sendiri,Gandhi tetep
> Hindhu,dan belum ada PM India yang Budha.Wirajhana harus menjelaskan
> kenapa kok Budha gak laku dikandang sendiri?
> Hal tsb podo dg Yesus belum ada PM Israel yang Kristen,jadi Yesus
> juga podo gagal dinegaranya sendiri.
> La sekarang lihat sejak dulu Rojo Rojo Arab atau PM di Timur Tengah
> pasti moslem,nah itulah yang saya nilai Nabi terakhir ini kok hebat.
>
> Shalom,
> Tawangalun.
>
> - In zamanku@yahoogroups.com, wirajhana eka wirajhana@ wrote:
> >
> > Cape dan Bingung?..Mana Komentar yang Benar?
> > ---------------------------------
> >
> >   Akhir-akhir ini, mungkin beberapa dari anda sudah merasa muak,
> capek dan bingung terhadap komentar-komentar mengenai keimanan dan
> keagamaan.
> >
> >   Kalo itu karena beda keyakinan sih masih bisa dimaklumi, bahkan
> sering kali kita merasa kasihan, terheran-heran sambil berkata dalam
> hati dengan kening berkerut, "kesambet kali niee orang...Kesian
> amat..deh luu!! ".
> >
> >   Padahal saat yang sama mereka juga berpikir, "Ah...niee orang
> sesat!!"
> >
> >   Tapi, jika pandangan-pandangan tersebut berasal dari satu
> Iman/agama yang sama namun ternyata bertolak belakang, maka ini benar-
> benar membuat bingung!
> >
> >   Komentar-komentar itu terkadang membuat kening berkerut, bikin
> ngga sreg, sangat membingungkan..padahal pendapat itu datang dari
> mereka yang mempunyai reputasi terkenal, terhormat dan dianggap
> sangat mumpuni mengenai keagamaan.
> >   Sebelumnya, hal-hal semacam itu sering ku alami hingga suatu
> ketika aku membaca sebuah kisah kebingungan yang sama namun kali ini
> bukan masalah kebingungan satu orang saja namum kebingungan
> sekelompok besar orang!
> >
> >   Kelompok orang tersebut menetap di suatu daerah yang menjadi
> tempat pesinggahan mereka yang sedang dalam perjalanan. Kedatangan
> mereka juga membawa berbagai macam doktrin/pandangan yang bukan hanya
> bertolak belakang namun juga saling memburukan doktrin-doktrin
> lainnya. Keadaan ini malah makin menyebabkan keraguan dan makin
> membingungkan untuk menilai.
> >
> >   Nah, artikel ini adalah mengenai keadaan tersebut dan bagaimana
> menyikapinya. Semoga bermanfaat.
> >
> > ---------------------------------
> >
> >   Pada suatu hari dalam suatu pengelanaannya, Sang Buddha bersama
> rombongan para bhikkhu tiba di Kesaputta [Bihar, Uttar Pradesh,
> India, lihat: peta]. Kesaputta adalah sebuah kota tempat kediaman
> suku Kalama. Dijaman Buddha, kota ini terletak di pinggir hutan dan
> menjadi tempat perhentian berbagai kelompok petapa dan pengelana.
> Kunjungan para pendatang menyebabkan penduduk kota itu terbuka bagi
> berbagai rangkaian teori filsafat.
> >
> >   Walaupun sering didatangi oleh para Petapa, namun ketika
> mengetahui bahwa kota mereka di singgahi oleh Buddha Gotama, mereka
> kemudian menemui Sang Buddha. Seringnya mereka di kunjungi dan
> mengunjungi 'orang suci' tercermin dari berbagai sikap mereka ketika
> bertemu sang Buddha, yaitu:
> >
> >    Beberapa dari mereka memberi hormat dan duduk di satu sisi.
> >    Beberapa bertukar salam dengan Beliau dan setelah bertegur sapa,
> duduk di satu sisi;
> >    Beberapa memberikan penghormatan yang tinggi kepada Beliau dan
> duduk di satu sisi;
> >    beberapa tetap diam dan duduk di satu sisi.
> >   Kemudian terjadilah tanya jawab. Suku Kalama berkata kepada Sang
> Buddha:
> >   "Tuan, ada beberapa petapa dan brahmana yang datang ke Kesaputta.
> Mereka menjelaskan dan menguraikan doktrin-doktrin mereka sendiri,
> dan menjelekkan, merendahkan, mencaci, serta mencemarkan doktrin yang
> lain...
> >   Kemudian beberapa petapa dan brahmana lain datang ke Kesaputta,
> dan mereka juga menjelaskan dan menguraikan doktrin mereka sendiri,
> dan menjelekkan, merendahkan, mencaci, serta mencemarkan doktrin yang
> lain...
> >   Tuan, kami merasa bingung dan ragu. Dari antara petapa-petapa
> yang baik ini, yang manakah yang berbicara benar dan yang manakah
> yang berbicara salah?"
> >   Sang Buddha: "Memang pantas bagi kalian untuk bingung, O suku
> Kalama, memang pantas bagi kalian untuk ragu. Keraguan telah muncul
> di dalam diri kalian tentang masalah yang membingungkan. Wahai, suku
> Kalama..Jangan begitu saja mengikuti(1):
> >   1.          tradisi lisan,
> >   2.          ajaran turun-temurun,
> >   3.          kata orang,
> >   4.          koleksi kitab suci,
> >   5.          penalaran logis,
> >   6.          penalaran lewat kesimpulan,
> >   7.          perenungan tentang alasan,
> >   8.          penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya,
> >   9.          pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau
> >   10.     karena kalian berpikir, 'Petapa itu adalah guru kami.'
> >   Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, bahwa hal-hal ini:
> >
> >    tidak bermanfaat,
> >    dapat dicela (tercela);
> >    dihindari oleh para bijaksana;
> >    jika dilaksanakan/dipraktekkan, menuju kerugian dan penderitaan',
> >   maka kalian harus meninggalkannya
> >   "Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Bila keserakahan, kebencian
> dan kebodohan batin muncul di dalam diri seseorang, apakah hal itu
> menyebabkan kesejahteraannya atau kerugiannya?"
> >
> > Suku Kalama: "Kerugiannya, Tuan."
> >
> > Sang Buddha: "Suku Kalama, orang yang dikuasai oleh keserakahan,
> kebencian dan kebodohan batin(2), yang buah-pikirnya dikendalikan
> oleh hal-hal itu, akan menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang
> tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang salah dan
> pembicaraan yang salah; dia juga akan mendorong orang lain untuk
> melakukan demikian pula. Apakah hal itu akan menyebabkan kerugian dan
> penderitaannya untuk masa yang lama?"
> >
> > Suku Kalama: "Ya, Tuan."
> >
> > Sang Buddha: "Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Apakah hal-hal itu
> bermanfaat atau tidak bermanfaat?"
> >
> > Suku Kalama: "Tidak bermanfaat, Tuan"
> >
> > Sang Buddha: "Tercela atau tidak tercela?"
> >
> > Suku Kalama: "Tercela, Tuan."
> >
> > Sang Buddha: "Dikecam atau dipuji oleh para bijaksana?"
> >
> > Suku Kalama: "Dikecam, Tuan."
> >
> > Sang Buddha: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, apakah hal-hal
> ini menyebabkan kerugian dan penderitaan atau tidak, atau bagaimana?"
> >
> > Suku Kalama: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, hal-hal ini
> menuju ke kerugian dan penderitaan. Demikian tampaknya hal ini bagi
> kami."
> >
> > Sang Buddha: "Untuk alasan inilah, suku Kalama, maka kami
> mengatakan: Janganlah begitu saja mengikuti:
> >   1.          tradisi lisan,
> >   2.          ajaran turun-temurun,
> >   3.          kata orang,
> >   4.          koleksi kitab suci,
> >   5.          penalaran logis,
> >   6.          penalaran lewat kesimpulan,
> >   7.          perenungan tentang alasan,
> >   8.          penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya,
> >   9.          pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau
> >   10.     karena kalian berpikir, 'Petapa itu adalah guru kami.'
> >
> >   Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, bahwa hal-hal ini:
> >
> >    bermanfaat,
> >    tidak tercela;
> >    dipujikan oleh para bijaksana;
> >    jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan
> kebahagiaan',
> >   maka kalian harus menjalankannya."
> >
> > "Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Jika tanpa-keserakahan, tanpa-
> kebencian dan tanpa-kebodohan-batin muncul di dalam diri seseorang,
> apakah itu membawa kesejahteraan atau kerugiannya?"
> >
> > Suku Kalama: "Kesejahteraannya, Tuan."
> >
> > Sang Buddha: "Suku Kalama, orang yang tanpa keserakahan, tanpa
> kebencian, tanpa kebodohan batin, yang tidak dikuasai oleh
> keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, yang buah-pikirnya tidak
> dikendalikan oleh semua itu, dia tidak akan menghancurkan kehidupan,
> mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang
> salah dan pembicaraan yang salah; dia juga akan mendorong orang lain
> untuk melakukan demikian pula. Apakah hal itu menopang kesejahteraan
> dan kebahagiaannya untuk masa yang lama?"
> >
> > Suku Kalama: "Ya, Tuan."
> >
> > Sang Buddha: "Bagaimana pendapatmu, Kalama? Apakah hal-hal itu
> bermanfaat atau tidak bermanfaat?"
> >
> > Suku Kalama: "Bermanfaat, Tuan."
> >
> > Sang Buddha: "Tercela atau tidak tercela?"
> >
> > Suku Kalama: "Tidak tercela, Tuan."
> >
> > Sang Buddha: "Dikecam atau dipuji oleh para bijaksana?"
> >
> > Suku Kalama: "Dipuji, Tuan."
> >
> >   Sang Buddha: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, apakah hal-hal
> ini menuju kesejahteraan dan kebahagiaan atau tidak, atau bagaimana?"
> >
> > Suku Kalama: "Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, hal-hal ini
> menuju kesejahteraan dan kebahagiaan. Demikian tampaknya hal ini bagi
> kami."
> >
> > Sang Buddha: "Untuk alasan inilah, suku Kalama, maka kami
> mengatakan: Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan...dst"
> >
> > "Maka, suku Kalama, siswa agung itu yang tidak memiliki
> keserakahan, tidak memiliki niat jahat, tidak bingung, memahami
> dengan jernih, selalu waspada berdiam dengan menyelimuti satu arah
> dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih, demikian pula ke arah
> kedua, ketiga dan keempat(3). Demikian pula ke atas, ke bawah, ke
> seberang dan ke manapun, dan ke segala sesuatu seperti ke dirinya
> sendiri, dia berdiam menyelimuti seluruh dunia dengan pikiran yang
> dipenuhi cinta kasih, luas, tinggi, tanpa batas, tanpa rasa
> permusuhan dan tanpa niat jahat."
> >
> > "Dia berdiam menyelimuti satu arah dengan pikiran yang dipenuhi
> kasih sayang... dipenuhi sukacita yang tidak mengutamakan diri
> sendiri... dipenuhi ketenang-seimbangan, demikian pula ke arah kedua,
> ketiga dan keempat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke seberang, dan
> ke manapun, dan ke segala sesuatu seperti ke dirinya sendiri, dia
> berdiam menyelimuti seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi
> ketenang-seimbangan, luas, tinggi, tanpa batas, tanpa rasa permusuhan
> dan tanpa niat jahat.
> >
> > "Suku Kalama, bila siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas
> dari rasa permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor,
> dia telah memenangkan empat jaminan dalam kehidupan ini juga.
> >
> >    Inilah jaminan pertama yang telah dimenangkannya: 'Seandainya
> ada alam lain, dan seandainya perilaku yang baik dan buruk memang
> memberikan buah dan menghasilkan akibat, maka ada kemungkinan ketika
> tubuh hancur, setelah kematian, aku akan muncul di tempat yang baik,
> di suatu alam surgawi.'
> >    Inilah jaminan kedua yang telah dimenangkannya: 'Seandainya
> tidak ada alam lain, dan seandainya tindakan baik dan buruk memang
> tidak memberikan buah dan menghasilkan akibat, tetap saja di sini, di
> dalam kehidupan ini juga, aku hidup dengan bahagia, bebas dari rasa
> permusuhan dan niat jahat.'
> >    Inilah jaminan ketiga yang telah dimenangkannya: 'Seandainya
> kejahatan menimpa si pelaku kejahatan, maka karena aku tidak berniat
> jahat kepada siapapun, bagaimana mungkin penderitaan menyerangku,
> orang yang tidak melakukan kejahatan?'
> >    Inilah jaminan keempat yang telah dimenangkannya: 'Seandainya
> kejahatan tidak menimpa pelaku kejahatan, maka di sini juga aku
> melihat diriku sendiri termurnikan di dalam dua hal [dia tidak
> melakukan kejahatan dan tidak ada kejahatan yang akan menimpanya]'
> >   "Suku Kalama, bila siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas
> dari permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, maka
> dia telah memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga."
> >
> > Mendengar uraian tersebut, Suku Kalama menjawab dengan
> kegembiraan, "Benar demikian, Yang Terberkati! Benar demikian, Yang
> Agung! Jika siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas dari
> permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, dia telah
> memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga."
> >
> >   Kemudian Suku Kalama melanjutkan, "Luar biasa, Tuan! ... Biarlah
> Yang Terberkati menerima kami sebagai pengikut awam yang telah pergi
> untuk berlindung sejak hari ini sampai akhir hayat."
> >
> >   [Sumber: Kalama Sutta, Anguttara Nikaya, Tika Nipata, Mahavagga,
> Sutta No. 65]
> >
> > ---------------------------------
> >
> >   Catatan:
> >   (1) Sepuluh kriteria mengenai keterangan ini dapat dikelompokkan
> menjadi tiga kategori:
> >
> >    Yang pertama adalah dalil yang didasarkan pada tradisi, yang
> mencakup empat kriteria pertama. Dari kriteria ini, "tradisi lisan"
> (anussava) biasanya dianggap mengacu pada tradisi Veda, yang menurut
> para brahmana, berasal dari Dewa Pertama (Brahman/Allah/Tuhan) dan
> diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. "Turun-temurun"
> (parampara) menunjukkan tradisi pada umumnya dan kesinambungan yang
> tidak terputus dari ajaran-ajaran atau guru-gurunya. "Kata orang"
> (atau "laporan"; itikira) bisa berarti pendapat populer atau
> persetujuan umum. Dan "koleksi kitab suci" (pitaka-sampada) mengacu
> pada koleksi kitab-kitab agama apapun yang dianggap sebagai tidak
> bisa salah.
> >    Rangkaian kedua yang terdiri empat kriteria berikutnya, mengacu
> pada empat jenis penalaran yang dikenali oleh para pemikir di zaman
> Sang Buddha; perbedaan-perbedaan mereka tidak perlu menghalangi kita
> di sini.
> >    Rangkaian ketiga, yang merupakan dua butir terakhir, terdiri
> dari dua jenis otoritas pribadi: yang pertama adalah kharisma pribadi
> pembicara (mungkin mencakup juga kualifikasi eksternalnya, misalnya
> dia memiliki pendidikan yang tinggi, memiliki banyak pengikut,
> dihormati raja dll.); yang kedua adalah otoritas yang bermula dari
> hubungan pembicara dengan dirinya, yaitu bahwa dia adalah guru
> pribadinya sendiri (kata Pali garu yang digunakan di sini identik
> dengan kata Sanskerta guru).
> >   (2) Di dalam ajaran buddha, ini disebut tiga akar kejahatan yang
> mendasari semua perilaku tidak bermoral dan semua keadaan pikiran
> yang kotor. Suku Kalama diminta merenungkan pengalaman mereka sendiri.
> >
> >   (3) Di ajaran Buddha ini disebut empat "tempat tinggal yang
> agung" (brahmavihara), mengembangan cinta kasih universal, kasih
> sayang, suka cita altruistik (yang tidak mementingkan diri sendiri),
> dan ketenang-seimbangan:
> >
> >    Cinta kasih (metta) secara formal didefinisikan sebagai
> keinginan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk;
> >    kasih sayang (karuna) sebagai rasa empati kepada mereka yang
> tertimpa penderitaan;
> >    suka cita altruistik (mudita), sebagai suka cita dalam
> keberhasilan dan nasib baik orang lain; dan
> >    ketenang seimbangan (upekkha), sebagai sikap netral atau tidak
> pilih kasih terhadap makhluk.
> >
> > ---------------------------------
> >
> > http://wirajhana-eka.blogspot.com/2008/11/cape-dan-bingung-komentar-
> mana-yang.html
> >
>

Kirim email ke