Refleksi: Kalau para penguasa NKRI  adalah  aktor Tragedi Semangi  seperti juga 
tragedi berdarah lainnya, maka penjernihan dan penyelesaian  tuntas 
tragedi-tragedi tsb  akan selalu dipersulit.
  
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=612

 
Tragedi: Kekerasan Mimetis


Mikhael Dua

Pada pertengahan minggu ini, di depan Universitas Katolik Atma Jaya, mahasiswa 
Atma Jaya dan masyarakat sekitarnya melakukan peringatan atas Tragedi Semanggi. 
sepuluh tahun sudah tragedi itu terjadi. Namun, tanda-tanda penyelesaian kasus 
kejahatan kemanusiaan tak pernah menjadi terang. Selain spanduk yang mendesak 
pengadilan bagi para tokoh yang diperkirakan terlibat dalam tragedi Semanggi, 
doa bersama untuk mengenang para korban Tragedi Semanggi merupakan sebuah 
bentuk lain 'demonstrasi' mahasiswa. Hadir di tengah para mahasiswa rekan-rekan 
seperjuangan mereka dan orangtua para korban. 

Seminggu sebelumnya, pendekatan yang sama dilakukan persis pada hari 
dilaksanakannya eksekusi mati Amrozi dan kawan-kawan. Sejumlah anggota keluarga 
korban Bom Bali I datang ke zero-ground untuk menyampaikan doa agar arwah para 
korban, Amrozi dan kawan-kawannya mendapatkan kedamaian abadi di surga. Dalam 
doa-doa yang dipanjatkan, mereka mengharapkan agar tragedi yang telah menimpa 
keluarga korban beberapa tahun yang lalu tidak terulang kembali.

Jika ditilik secara lebih mendalam, peringatan dalam bentuk kontemplasi 
tersebut memiliki dasarnya. Tragedi bukanlah hal yang diinginkan. Tidak 
terutama karena tragedi selalu menyisakan cerita nahas yang mengharukan, 
melainkan karena tragedi selalu datang sebagai musibah yang tak terelakkan 
sekaligus menimbulkan ketakutan luar biasa. Tragedi merupakan sebuah simbol 
bagi krisis kemanusiaan kita yang memiliki logika tersendiri yang harus 
dipahami dan ditangani dengan cermat.


Tragedi Kemanusiaan

Daya magis tragedi sebenarnya sudah lama disadari. Sastrawan-sastrawan Yunani 
kuno pada abad ke-5 sebelum masehi memiliki cara tersendiri untuk memahami 
logikanya. Pengarang-pengarang tragedi mulai dari Aeschylus hingga Euripides 
memandang tragedi sebagai sebuah drama untuk mengungkapkan krisis eksistensi 
manusia. Bentuk drama ini sering digunakan untuk menjelaskan asal-usul 
kekerasan manusia. 

Inti tragedi adalah peranan sang tokoh yang bersedia untuk menjadikan dirinya 
sebagai kambing hitam, korban dan sekaligus pahlawan. Oedipus dalam tulisan 
Sophocles misalnya menjadikan dirinya sebagai korban yang menerima tanggung 
jawab penuh atas seluruh katastrofe atas dirinya. Ia juga melakukan kekejaman 
yang tak teramalkan dengan tangannya sendiri. Karena itu, dengan tanpa ragu- 
ragu ia mengidentifikasikan dirinya sendiri sebagai kambing hitam atas semua 
kejahatan dan kerusakan dalam masyarakat. Dalam peranannya tersebut ia dilihat 
sebagai simbol agama dan kekuasaan yang mempersatukan masyarakat yang terpecah 
belah.

Maka, pelaku tragedi adalah manusia yang memiliki kemampuan luar biasa. Ia 
adalah sang penakluk yang memiliki daya magis besar sehingga menaklukkan yang 
lain. Ia bahkan dapat menghancurkan nilai-nilai konvensional yang mendapat 
dukungan luas masyarakat. 

Para penonton pun terpesona mengikuti seluruh drama tragedi tersebut. Dalam 
motif moral gigi ganti gigi dan darah ganti darah, masyarakat merasa puas atas 
apa yang terjadi dalam tragedi. Para penulis drama tragedi menunjukkan bahwa 
pembalasan dendam yang menerjemahkan secara konkret prinsip darah ganti darah 
tersebut merupakan sebuah panacea, sebuah obat mujarab. 

Diyakini bahwa tragedi yang menceritakan kekerasan kolektif dapat menciptakan 
ketenangan sementara dan kejahteraan bersama.

Drama tragedi Sophocles, memang, tidak bisa dikatakan sama dengan drama Tragedi 
Semanggi dan Bom Bali I, namun drama tersebut seolah-olah menjelaskan satu hal 
yang sama. Rasa takut yang dialami para korban dan keberanian para pelaku telah 
tercampur aduk demi nafsu pembalasan dendam. Masyarakat pun turut menikmati 
itu, seakan-akan hal itu pantas terjadi demi ketenangan dan stabilitas. 

Namun, sebagaimana dikemukakan oleh para penulis tragedi Yunani, tragedi 
tetaplah tragedi. Tragedi selalu berarti tragedi bagi kemanusiaan. Tragedi 
tersebut selalu akan terulang kembali. Dalam hal tragedi tidak ada perbedaan 
antara barbarisme dan masyarakat terbudaya. 


Etika Kebudayaan

Melihat antusiasme masyarakat yang senantiasa menikmati tragedi, maka tragedi 
bukanlah masalah yang mudah diselesaikan. Sumber tragedi adalah keinginan 
mimetis untuk meniru dan menguasai yang lain. Hasrat mimetis itu tidak pernah 
netral. Rene Girard mengatakan, sang peniru ingin menjadikan dirinya sebagai 
model untuk yang lain dan sekaligus menguasai yang lain. Motif tragedi adalah 
nafsu pembalasan dendam. Lalu bagaimana kita dapat melepaskan diri dari 
keinginan mimetis tersebut dan berpikir bahwa tragedi bukanlah model hidup 
sosial masyarakat kita dewasa ini?

Indonesia sebenarnya cukup berhasil memecahkan masalah kekerasan dengan 
pendekatan kebudayaan. Kasus-kasus kekerasan Poso, Aceh, dan Maluku ditangani 
dengan pendekatan ini. Keberhasilan pendekatan kultural tersebut sebenarnya 
berangkat dari prinsip aturan emas yang disadari banyak kebudayaan, yaitu: 
hidup yang baik dapat terjadi ketika kita melakukan hal yang tidak kita suka 
diperlakukan orang lain. Kita memiliki rasa hormat pada manusia, karena kita 
tahu bahwa kita juga tidak mau diperlakukan secara kasar. Prinsip inilah yang 
membuat para mahasiswa Atma Jaya dan para korban Bom Bali datang berdoa 
bersama. Hidup harus dihormati. Karena itu dalam demonstrasi kontemplasi mereka 
meneriakkan satu hal: setop tragedi! 

Prinsip inilah yang yang mendorong para pejuang perdamaian dunia melakukan 
dialog kultural dan agama. Dalam bahasa yang lebih terperinci, Hans Kung, dalam 
refleksinya tentang konflik kultural internasional menegaskan empat kewajiban 
etis berikut ini. 

Pertama, setiap negara dan kelompok agama perlu menghidupkan budaya tanpa 
kekerasan dengan menghormati budaya masyarakat lain. Penyamarataan cara hidup 
adalah awal dari kekerasan yang dapat muncul sebagai sebuah tragedi. 

Kedua, solidaritas perlu menjadi sebuah prinsip penting dalam pengembangan 
ekonomi yang adil. 'Janganlah mencuri" dapat diterjemahkan secara lebih bebas 
dengan memikirkan sebuah sistem ekonomi yang lebih adil di tengah krisis 
ekonomi kapiltalis yang sedang terjadi. 

Ketiga, yang tidak kalah penting adalah budaya toleran. Kekerasan mimetis harus 
diikuti dengan hidup dalam kebenaran, terutama kebenaran tentang 
perbedaan-perbedaan. Inti kekerasan mimetis adalah usaha untuk mengusai ruang 
sosial agar terjadi kesatuan pandangan. Tetapi, kebenaran tidak dijumpai dengan 
kesatuan tersebut. Menghormati perbedaan berarti kita tidak melakukan 
kebohongan publik.

Dan keempat adalah kesamaan derajat. Prinsip ini penting tidak hanya agar kita 
selalu melihat semua manusia sama. Terlebih secara lebih konkret agar ada 
partnership antara wanita dan laki-laki. Kekerasan terhadap perempuan sering 
terjadi karena budaya partnership diabaikan. Prinsip ini menjelaskan bahwa 
kekerasan terhadap perempuan sama dengan penyalahgunaan seksualitas manusia.


Penulis adalah kepala Pusat Pengembangan Etika Atma Jaya, Jakarta

<<mikhaeld.gif>>

Kirim email ke