Saya kira komentar yang bagus agar kita dapat melihat duduk 
persoalannya dengan benar.

Anda benar Kresten abad pertengahan mirip-mirip Islam jaman sekarang 
bahkan di sekitar Islam lahir Kresten sudah seperti itu.

Tapi kalau Anda pelajari ajaran Yesus dan Kresten awal sampai 
sekitar tahun 300-an Masehi, tidak ada ajaran kekerasan malah 
Kresten waktu itu mengindari terlibat dalam kekuasaan. Yesus 
mengajarkan menegakkan kebenaran tanpa menggunakan kekerasan malah 
rela disalib untuk memperlihatkan ada kebenaran dan ada kekerasan. 
Ajaran itu dipraktekan oleh murid-muridnya pada awal berdirinya 
Gereja Katolik, mereka ditangkapi oleh Kaisar Romawi tetapi meraka 
tidak mau melawan sedikit pun, malah rela mati disiksa dan pada 
jaman itu banyak sekali yang jadi martir, mati ditindas orang Romawi 
tanpa melawan sedikitpun. Tapi ahirnya pemerintah Romawi bingung 
semakin banyak yang dibunuh tetapi pengikut Gereja Katolik malah 
menjadi semakin banyak. Ahirnya Kaisar Constantinus melakukan 
pendekatan, menerima kehadiran Gereja Katolik dan bahkan kemudian 
menjadikan Agama Katolik sebagai agama resmi negara. Mulai saat 
itulah Gereja masuk ke dalam pelukan kekuasaan dan diperalat oleh 
kekuasaan dan perkembangan berikut ketika Kekaisaran Romawi runtuh 
kekuasaan jatuh ke tangan Paus dan Paus yang  sudah terbiasa dengan 
kekuasaan memanfaatkan dengan baik kekuasaan itu untuk 
mengembangakan Gereja sehingga timbul ekses kekerasan dan yang 
terjadi sebenarnya adalah penyimpangan dari ajaran Yesus. 
Islam lahir pada waktu Gereja sudah dalam genggaman kekuasaan Kaisar 
Bizantium dan sistem itu yang ditiru Muhammad. Tapi berbeda dengan 
Gereja Katolik yang diawali dengan mengambil jarak pada kekuasaan 
dan menghindari kekerasan, Islam lahir diawali dengan kekerasan dan 
perang. Kemenangan perang Badar menjadi awal berdirinya Islam 
sebagai kekuasaan atas wilayah Madinah yang kemudian diperluas 
dengan mengalahkan penguasa Quraisy yang berkuasa atas Mekah dan 
setelah Muhammad meninggal perang untuk memperluas pengaruh Islam 
merangsek mengambil alih wilayah Katolik.
Merasa wilayahnya direbut Islam, Paus ahirnya membalas dengan 
melancarkan Perang Salib.

>"Jika Re-interpretasi Kresten tidak menghilangkan ajaran Yesus, 
lalu kenapa Re-interpretasi Islam bisa menghilangkan Islam?"

Re-interpretasi Kresten bukan menghilangkan ajaran Yesus tetapi 
mengembalikan Gereja yang pernah menyimpang dari ajaranYesus untuk 
kembali pada dasar ajaran Yesus yang benar. Proses itu berjalan 
lambat tapi secara bertahap Gereja ahirnya memisahkan diri dari 
kekuasaan dan bahasa Latin yang pernah digunakan sebagai bahasa 
resmi Gereja dilonggarkan penggunaannya sehingga Misa boleh 
diselenggarakan dalam bahasa setempat karena Yesus tidak pernah 
mengajarkan bahwa bahasa Ibrani apalagi bahasa Latin sebagai bahasa 
Tuhan.

Jika dilakukan re-Interpretasi Islam seperti yang dilakukan Emha 
Ainun Najib, jelas akan menghilangkan Islam karena inti dari Islam 
adalah menjalankan rukun Islam di mana menyembah Awloh adalah syarat 
mutlak. Kalau orang berani mengajarkan bahwa dalam Islam menyembah 
Awloh adalah pilihan bukan kewajiban kosekuensinya tidak akan ada 
lagi Islam, karena jika orang ingin membina pribadinya dengan 
berbuat kebaikan tanpa menyembah Awloh, menjadi orang yang bermoral, 
maka ajaran Yesus, Hindu, atau Buddha, lebih cocok karena di ketiga 
ajaran itu tidak ada perintah untuk menyembah Tuhan dan tidak ada 
perintah untuk memusuhi orang lain (kafir) sehingga orang dapat 
hidup dalam damai tanpa harus punya musuh.
Salam

--- In zamanku@yahoogroups.com, "ttbnice" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Anda salah. Kresten pada abad pertengahan mirip2 Islam jaman 
sekarang.
> Bahkan Paus memperkenankan perang salib, yang artinya 
memperkenankan
> orang KResten melakukan pembunuhan. 
> 
> Ketika terjadi revolusi dalam ajaran Kresten oleh Martin Luther,
> secara perlahan Kresten menjadi agama yang lebih humanis seperti 
yang
> dikenal sekarang. 
> 
> Jika Re-interpretasi Kresten tidak menghilangkan ajaran Yesus, lalu
> kenapa Re-interpretasi Islam bisa menghilangkan Islam?
> 
> Emha adalah salah satu pembaharu ajaran Islam yang lebih menitik
> beratkan pada keinginan Awloh daripada segala macam dalil atau 
aturan
> yang justru sering saling bertentangan.
> 
> Islam model begini lah yang nantinya justru memfilter mana yang 
Islam
> dan mana yang bukan. Tidak seperti sekarang dimana koruptorpun 
dapat
> memproklamirkan dirinya seorang yg beragama Islam.
> 
> 
> 
> --- In zamanku@yahoogroups.com, Hikayat Dunia <hikdun@> wrote:
> >
> > Di bawah ini beragama menurut Emha Ainun Nadjib, kalau semua 
orang
> Islam di Indonesia dapat menerima apa yang diajarkan Emha dan
> melaksanakannya, pasti Indonesia akan maju. Tetapi sadarlah, 
artinya
> ajaran Islam harus ditinggalkan karena tidak sesuai lagi.
> > Salam
> >  
> > Gusti Allah Tidak "nDeso"
> > Oleh: Emha Ainun Nadjib
> > 
> > Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun.
> > "Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan
> tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih 
salah
> satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang,
> atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak 
lari,
> mana yang sampeyan pilih?"
> > 
> > Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan."
> > "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si 
penanya.
> > 
> > "Ah, mosok Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih
> shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, "
> katanya lagi.
> > "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang
> memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.
> > 
> > Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong,
> Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang
> kecelakaan itu.
> > 
> > Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata 
Tuhan:
> kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau 
engkau
> menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.Kalau engkau
> memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
> > 
> > Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang 
mana
> dari tiga orang ini.
> > 
> > Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, 
membangun
> masjid, tapi korupsi uang negara.
> > 
> > Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran,
> menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, 
dan
> mengobarkan semangat permusuhan.
> > 
> > Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi 
suka
> beramal,tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"
> > 
> > Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau 
korupsi
> uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid.
> Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi
> menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak
> sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal,
> tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang 
sesungguhnya
> sembahyang dan membaca Al-Quran.
> > 
> > Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya.
> Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia
> hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya 
adalah
> output sosialnya :
> > kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan 
dengan
> orang lain, memberi, membantu sesama.
> > 
> > Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut
> misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki
> perilaku yang santun dan berkasih sayang.
> > 
> > Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap.
> Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta 
kasih
> sesama.
> > Bila kita
> > cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke kebaktian, ikut misa,
> datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang
> beragama.
> > Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara,
> meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup
> bersih, maka itulah orang beragama.
> > 
> > Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan
> personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan
> kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah 
orang
> yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang 
yang
> menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya 
solidaritas
> dan keprihatinan social pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). 
Juga
> tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.  Karena itu,
> orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi.
> Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, 
sementara
> beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan. ~
> >
>


Kirim email ke