Bangka Pos

Memotret Masa Depan Hutan Kita 

edisi: Sabtu, 15 November 2008 WIB 

Penulis: Oleh: Mohammad Takdir Ilahi Peneliti Utama The Annuqayah Institute 
Yogyakarta, Sedang Studi Perbandingan Agama di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
sikap yang paling bijak dalam memotret masa depan hutan adalah dengan 
mengedepankan rasa kepedulian dan kesadaran terhadap kondisi lingkungan yang 
carut marut. Berangkat dari kepedulian dan kesadaran bersama, maka akan tumbuh 
suatu keyakinan untuk membangun kembali citra lingkungan di masa depan, 
sehingga memberikan angin segar bagi masa depan alam dan manusia itu sendiri

Andaikan ada planet yang sebagus dan semakmur planet bumi, barangkali banyak 
diantara manusia yang berkeinginan untuk pindah menuju planet 'baru' itu. 
Betapa tidak, kondisi planet bumi saat sekarang sedang mengalami masalah besar, 
karena tempat dimana kita tinggal dan berpijak diwarnai dengan beragam macam 
bencana yang bisa mengancam keselamatan dan kelangsungan hidup umat manusia. 
Sebut saja, konsistennya bencana alam, banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, 
kebakaran hutan, pencemaran lingkungan, kabut asap yang mengganggu saraf 
pernapasan manusia, dan bencana lain yang tak kalah ganasnya.

Kondisi yang amat memperihatinkan ini, boleh dibilang sebagai bagian dari 
kemarahan alam yang tidak suka dengan tindakan eksploitatif manusia, karena 
pada satu pihak, manusia hanya ingin mengambil manfaat dari potensi hutan, 
sedang upaya pelestariannya tidak diperhatikan. Barangkali inilah salah satu 
penyebabnya, kenapa alam ini jarang bersahabat dengan tindakan manusia yang 
terkesan hegemonik, karena memiliki kekuatan untuk memonopoli, sedang alam 
adalah mahluk Tuhan yang tidak bisa bergerak secara leluasa seperti halnya apa 
yang dilakukan manusia.

Pada satu sisi, manusia tidak bisa lepas dari adanya alam, karena alam ini 
adalah tempat dimana manusia tinggal dan menjalani kehidupan dengan segala 
hiruk pikuknya. Namun, pada sisi lain, manusia terlepas dari alam, karena 
manusia mengganggu ketenangan dan ketentraman alam. Artinya, alam tidak 
berhasrat bersahabat dengan manusia dengan berbagai alasan yang konkrit, bahwa 
manusia telah menyalahgunakan anugerah Tuhan untuk memanfaatkan seoptimal dan 
sebaik mungkin potensi yang dimiliki alam. Pada saat itulah, alam mulai 
menampakkan kebisingan dan ketidakramahan terhadap manusia sebagai mahluk yang 
diberi beban menjadi pengatur alam ini.

Tulisan ini, berupaya memotret masa depan hutan yang semakin parah terjadi di 
bumi nusantara ini. Berbagai persoalan menyangkut penebangan hutan liar, 
kebakaran hutan, dan erosi lingkungan turut memperparah kondisi hutan kita. 
Padahal, hutan berfungsi menjaga sistem keseimbangan hidup dan lingkungan. Jika 
hutan terus-menerus ditebang, maka malapetaka bencana akan menimpa kita semua. 
Sadarlah, bahwa hutan bukan saja merupakan kekayaan alam Indonesia, lebih dari 
pada itu, ia menjadi penegak terjaganya ekosistem kita.

Dalam ranah potensi, hutan kita memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar 
biasa, bahkan kita juga memiliki keanekaragaman hayati yang bervariatif dengan 
segala keindahannya. Tak salah, jika Indonesia yang berada ditengah-tengah 
zamrud khasulistiwa disebut sebagai paruh-paruh dunia, yang merupakan tempat 
strategis dan potensial dari hal kekayaan alamnya.

Tahukah kita? Bahwa 70 persen permukaan bumi adalah air, tetapi 97,3 persen 
dari air tersebut adalah air laut, dan selebihnya sekitar 2,7 persen yang 
merupakan air di daratan. Dari jumlah yang kecil tersebut, yang bisa 
dimanfaatkan langsung hanya kurang dari 0,01 persen. Dalam artian, jika hutan 
kita semakin berkurang dari segi kualitas maupun kuantitasnya, maka bisa 
dipastikan potensi air di daratan juga akan semakin berkurang, sehingga daratan 
yang kita tempati akan terjadi badai besar.

Tiap tahun di berbagai daerah mengalami banjir dan 1,1 juta hektar hutan di 
Indonesia rusak total. Pada implikasi yang lain, laju pertumbuhan konsumsi air 
Indonesia bertambah menjadi 6,7 persen per tahun. Dengan kata lain,di Indonesia 
telah terjadi degradasi air akibat pertambangan, perambahan hutan, eksploitasi 
air, pencemaran lingkungan, dan populasi udara yang makin parah.

Faktanya, pemerintah sekarang terkesan kurang peduli terhadap kondisi hutan dan 
lingkungan hidup rakyatnya. Padahal, kunci utamanya dalam pelestarian hutan 
adalah terletak pada komitmen pemerintah dalam mencanangkan pencegahan terhadap 
berbagai persoalan lingkungan yang menghambat laju pertumbuhan ekonomi dan 
pembangunan bangsa di segala sektor, termasuk pelestarian lingkungan. 

Semakin gencarnya persoalan rusaknya hutan dan lingkungan dalam konteks global, 
pada akhirnya mendorong para aktifis lingkungan dan elemen terkait yang 
memiliki perhatian penuh terhadap kondisi hutan untuk mengangkatnya sebagai 
topik aktual dalam rangka mencari solusi pemecahan yang progresif demi 
pembangunan bangsa secara berkelanjutan. Maka tak heran, bila  kerusakan hutan 
mulai ramai dibicarakan sejak diselenggarakannya Konferensi PBB tentang 
Lingkungan Hidup di Stockholm, Swedia, pada tanggal 15 Juli 1972. Sedang di 
Indonesia, tonggak sejarah masalah kerusakan hutan dan lingkungan hidup dimulai 
dengan dilaksanakannya Seminar Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan 
Nasional oleh Universitas Pajajaran Bandung pada tanggal 15-18 Mei 1972.

Mencuatnya persoalan lingkungan semacam kerusakan hutan, sebenarnya bukan 
merupakan yang baru dalam konteks wacana global, akan tetapi sudah muncul sejak 
diciptakannya bumi dengan hiasan-hiasannya yang mampu memberikan ketertarikan 
(interesting) pada manusia. Bahkan, ada asumsi yang mengatakan bahwa, 
universalnya persoalan lingkungan, termasuk kerusakan hutan sejatinya banyak 
dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang tak terbatas. Akibat dari kemajuan 
ini, keselamatan bumi dan lingkungan sekitar mulai diperbincangkan dan dianalis 
sejauhmana dampak yang akan terjadi ketika pembangunan industri dan pembangunan 
yang lain terus menerus dilanjutkan tanpa mempertimbangkan apa yang akan 
terjadi setelah terealisasinya pembangunan tersebut.

Menurut Philip Kristanto, sebenarnya ada beberapa alasan yang mendasari 
mencuatnya persoalan hutan dan lingkungan hidup, sehingga PPB mengadakan 
Konferensi tentang Lingkungan Hidup di Stockholm. Pertama, dapat kita lihat 
pada tahun 1953, di Jepang, terjadi malapetaka yang mengerikan yang menimpa 
sebagian nelayan dan keluarganya di sekitar Teluk Minamata yang makanan 
utamanya adalah ikan. Di daerah tersebut telah terjadi wabah neurologis yang 
disebut dengan penyakit Minamata. Pada penderita secara progresif mengalami 
lemah otot, hilangnya penghilatan hingga menyebabkan kematian. Ternyata setelah 
diadakan penelitian, pada tahun 1959, penyakit tersebut disebabkan oleh 
metilmerkuri, yaitu limbah yang mengandung air raksa dari berbagai industri 
kimia milik Chisso CO.

Kedua, Pada tahun 1963 Amerika Serikat Mengeluarkan Undang-Undang Tentang 
Lingkungan Hidup (National Environmental Policy Act, NEPA) sebagai reaksi atas 
kerusakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang meningkat, antara lain dengan 
tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri dan transportasi.

Ketiga, terjadinya penipisan lapisan ozon (03) sebagai dampak dari rumah kaca 
dan meningkatnya suhu permukaan bumi akibat penebalan lapisan C02, yang akan 
mengancam terhadap kesehatan dan keselamatan ummat manusia, karena ozon menjadi 
tameng dari pancaran sinar matahari yang sangat menyengat.

Persoalan lingkungan di atas, menurut saya, adalah isu lingkungan global yang 
mengemuka dan populer di kalangan aktifis lingkungan. Ini karena, dampak yang 
akan terjadi dari isu global tersebut merambah pada seluruh penduduk alam 
semesta ini, dan jika persoalan tersebut dibiarkan begitu saja di tengah 
tuntutan pembangunan industri dan limbah, maka implikasinya akan benar-benar 
menjadi sindrom kehidupan yang tak terbantahkan.

Menyikapi demikian, sikap yang paling bijak dalam memotret masa depan hutan 
adalah dengan mengedepankan rasa kepedulian dan kesadaran terhadap kondisi 
lingkungan yang carut marut. Berangkat dari kepedulian dan kesadaran bersama, 
maka akan tumbuh suatu keyakinan untuk membangun kembali citra lingkungan di 
masa depan, sehingga memberikan angin segar bagi masa depan alam dan manusia 
itu sendiri

Kirim email ke