Anda lupa, ada perbedaan besar antara Muhammad dan Yesus. Muhammad
hanya manusia biasa dan bisa bersalah. 

Sama halnya dengan Musa, Abraham dll. yg tetap dianggap sebagai nabi,
meski telah melakukan kesalahan. Dalam Re-Interpretasi Islam,
kesalahan Muhammad seperti Perang Badr, doyan kawin, dsb akan
dimaklumi karena "kemanusiaan" Muhammad. 

Islam juga wajib mereinterpretasikan AQ, yg dulunya berasal dari
Awloh, kini berasal dari Muhammad. Dengan demikian Islam akan menjadi
agama yg bersifat universal, tidak lagi exclusive, artinya apapun
agamanya, selama menjalankan nilai2 Islam, akan disebut Islam. 

Mengenai rukun Islam, akan dilihat dari perspektif yang lain. Jika
sebelumnya Muhammad mewajibkan haji, sholat, puasa, dll, dengan tujuan
menjadi manusia yang baik menurut Awloh. Setelah re-interpretasi
tujuan inilah yang menjadi dasar Islam. Muslim tidak lagi
mempersoalkan hajinya, atau puasanya, atau naik hajinya. Selama orang
itu sudah melakukan kebajikan (bukankah ini prinsipnya Emha?)

Memang ini akan menghilangan kelompok2 Islam KTP, kelompok yg
sesungguhnya paling besar. Tapi bukankah demikian juga yg terjadi
dengan agama2 lain seperti Budha dan KResten?

ORang awam, cukup datang ke pendeta/ulama/biksu untuk konsultasi
spirituil. BIarlah para pendeta ini yg belajar agama.






--- In zamanku@yahoogroups.com, "Darmawan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya kira komentar yang bagus agar kita dapat melihat duduk 
> persoalannya dengan benar.
> 
> Anda benar Kresten abad pertengahan mirip-mirip Islam jaman sekarang 
> bahkan di sekitar Islam lahir Kresten sudah seperti itu.
> 
> Tapi kalau Anda pelajari ajaran Yesus dan Kresten awal sampai 
> sekitar tahun 300-an Masehi, tidak ada ajaran kekerasan malah 
> Kresten waktu itu mengindari terlibat dalam kekuasaan. Yesus 
> mengajarkan menegakkan kebenaran tanpa menggunakan kekerasan malah 
> rela disalib untuk memperlihatkan ada kebenaran dan ada kekerasan. 
> Ajaran itu dipraktekan oleh murid-muridnya pada awal berdirinya 
> Gereja Katolik, mereka ditangkapi oleh Kaisar Romawi tetapi meraka 
> tidak mau melawan sedikit pun, malah rela mati disiksa dan pada 
> jaman itu banyak sekali yang jadi martir, mati ditindas orang Romawi 
> tanpa melawan sedikitpun. Tapi ahirnya pemerintah Romawi bingung 
> semakin banyak yang dibunuh tetapi pengikut Gereja Katolik malah 
> menjadi semakin banyak. Ahirnya Kaisar Constantinus melakukan 
> pendekatan, menerima kehadiran Gereja Katolik dan bahkan kemudian 
> menjadikan Agama Katolik sebagai agama resmi negara. Mulai saat 
> itulah Gereja masuk ke dalam pelukan kekuasaan dan diperalat oleh 
> kekuasaan dan perkembangan berikut ketika Kekaisaran Romawi runtuh 
> kekuasaan jatuh ke tangan Paus dan Paus yang  sudah terbiasa dengan 
> kekuasaan memanfaatkan dengan baik kekuasaan itu untuk 
> mengembangakan Gereja sehingga timbul ekses kekerasan dan yang 
> terjadi sebenarnya adalah penyimpangan dari ajaran Yesus. 
> Islam lahir pada waktu Gereja sudah dalam genggaman kekuasaan Kaisar 
> Bizantium dan sistem itu yang ditiru Muhammad. Tapi berbeda dengan 
> Gereja Katolik yang diawali dengan mengambil jarak pada kekuasaan 
> dan menghindari kekerasan, Islam lahir diawali dengan kekerasan dan 
> perang. Kemenangan perang Badar menjadi awal berdirinya Islam 
> sebagai kekuasaan atas wilayah Madinah yang kemudian diperluas 
> dengan mengalahkan penguasa Quraisy yang berkuasa atas Mekah dan 
> setelah Muhammad meninggal perang untuk memperluas pengaruh Islam 
> merangsek mengambil alih wilayah Katolik.
> Merasa wilayahnya direbut Islam, Paus ahirnya membalas dengan 
> melancarkan Perang Salib.
> 
> >"Jika Re-interpretasi Kresten tidak menghilangkan ajaran Yesus, 
> lalu kenapa Re-interpretasi Islam bisa menghilangkan Islam?"
> 
> Re-interpretasi Kresten bukan menghilangkan ajaran Yesus tetapi 
> mengembalikan Gereja yang pernah menyimpang dari ajaranYesus untuk 
> kembali pada dasar ajaran Yesus yang benar. Proses itu berjalan 
> lambat tapi secara bertahap Gereja ahirnya memisahkan diri dari 
> kekuasaan dan bahasa Latin yang pernah digunakan sebagai bahasa 
> resmi Gereja dilonggarkan penggunaannya sehingga Misa boleh 
> diselenggarakan dalam bahasa setempat karena Yesus tidak pernah 
> mengajarkan bahwa bahasa Ibrani apalagi bahasa Latin sebagai bahasa 
> Tuhan.
> 
> Jika dilakukan re-Interpretasi Islam seperti yang dilakukan Emha 
> Ainun Najib, jelas akan menghilangkan Islam karena inti dari Islam 
> adalah menjalankan rukun Islam di mana menyembah Awloh adalah syarat 
> mutlak. Kalau orang berani mengajarkan bahwa dalam Islam menyembah 
> Awloh adalah pilihan bukan kewajiban kosekuensinya tidak akan ada 
> lagi Islam, karena jika orang ingin membina pribadinya dengan 
> berbuat kebaikan tanpa menyembah Awloh, menjadi orang yang bermoral, 
> maka ajaran Yesus, Hindu, atau Buddha, lebih cocok karena di ketiga 
> ajaran itu tidak ada perintah untuk menyembah Tuhan dan tidak ada 
> perintah untuk memusuhi orang lain (kafir) sehingga orang dapat 
> hidup dalam damai tanpa harus punya musuh.
> Salam
> 
> --- In zamanku@yahoogroups.com, "ttbnice" <serikat_indonesia@> 
> wrote:
> >
> > Anda salah. Kresten pada abad pertengahan mirip2 Islam jaman 
> sekarang.
> > Bahkan Paus memperkenankan perang salib, yang artinya 
> memperkenankan
> > orang KResten melakukan pembunuhan. 
> > 
> > Ketika terjadi revolusi dalam ajaran Kresten oleh Martin Luther,
> > secara perlahan Kresten menjadi agama yang lebih humanis seperti 
> yang
> > dikenal sekarang. 
> > 
> > Jika Re-interpretasi Kresten tidak menghilangkan ajaran Yesus, lalu
> > kenapa Re-interpretasi Islam bisa menghilangkan Islam?
> > 
> > Emha adalah salah satu pembaharu ajaran Islam yang lebih menitik
> > beratkan pada keinginan Awloh daripada segala macam dalil atau 
> aturan
> > yang justru sering saling bertentangan.
> > 
> > Islam model begini lah yang nantinya justru memfilter mana yang 
> Islam
> > dan mana yang bukan. Tidak seperti sekarang dimana koruptorpun 
> dapat
> > memproklamirkan dirinya seorang yg beragama Islam.
> > 
> > 
> > 
> > --- In zamanku@yahoogroups.com, Hikayat Dunia <hikdun@> wrote:
> > >
> > > Di bawah ini beragama menurut Emha Ainun Nadjib, kalau semua 
> orang
> > Islam di Indonesia dapat menerima apa yang diajarkan Emha dan
> > melaksanakannya, pasti Indonesia akan maju. Tetapi sadarlah, 
> artinya
> > ajaran Islam harus ditinggalkan karena tidak sesuai lagi.
> > > Salam
> > >  
> > > Gusti Allah Tidak "nDeso"
> > > Oleh: Emha Ainun Nadjib
> > > 
> > > Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun.
> > > "Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan
> > tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih 
> salah
> > satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang,
> > atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak 
> lari,
> > mana yang sampeyan pilih?"
> > > 
> > > Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan."
> > > "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si 
> penanya.
> > > 
> > > "Ah, mosok Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih
> > shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, "
> > katanya lagi.
> > > "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang
> > memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.
> > > 
> > > Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong,
> > Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang
> > kecelakaan itu.
> > > 
> > > Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata 
> Tuhan:
> > kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau 
> engkau
> > menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.Kalau engkau
> > memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
> > > 
> > > Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang 
> mana
> > dari tiga orang ini.
> > > 
> > > Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, 
> membangun
> > masjid, tapi korupsi uang negara.
> > > 
> > > Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran,
> > menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, 
> dan
> > mengobarkan semangat permusuhan.
> > > 
> > > Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi 
> suka
> > beramal,tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"
> > > 
> > > Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau 
> korupsi
> > uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid.
> > Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi
> > menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak
> > sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal,
> > tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang 
> sesungguhnya
> > sembahyang dan membaca Al-Quran.
> > > 
> > > Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya.
> > Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia
> > hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya 
> adalah
> > output sosialnya :
> > > kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan 
> dengan
> > orang lain, memberi, membantu sesama.
> > > 
> > > Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut
> > misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki
> > perilaku yang santun dan berkasih sayang.
> > > 
> > > Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap.
> > Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta 
> kasih
> > sesama.
> > > Bila kita
> > > cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke kebaktian, ikut misa,
> > datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang
> > beragama.
> > > Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara,
> > meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup
> > bersih, maka itulah orang beragama.
> > > 
> > > Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan
> > personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan
> > kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah 
> orang
> > yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang 
> yang
> > menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya 
> solidaritas
> > dan keprihatinan social pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). 
> Juga
> > tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.  Karena itu,
> > orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi.
> > Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, 
> sementara
> > beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan. ~
> > >
> >
>


Kirim email ke