http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2008111523192016

      Minggu, 16 November 2008 
     
      BURAS 
     
     
     
Dokter Terpikat Bunga Desa! 

       
      H. Bambang Eka Wijaya

      DOKTER muda tampan, tugas di puskesmas pembantu (pustu) pedalaman, 
terpikat pada bunga desa. Sudah tiga surat cinta dikirimnya lewat perawat 
perempuan sejawat kerjanya, tak satu pun dibalas.

      Saat Bu Kepsek datang, pada orang yang sering membawa muridnya jika ada 
yang sakit berobat ke pustu itu, dokter menyampaikan masalah tersebut. "Nanti 
kutanyakan!" sambut Bu Kepsek.

      Selepas jam sekolah Bu Kepsek mampir ke pustu. "Kata cewek itu, dia sudah 
menerima ketiga surat dokter, apa yang tersirat pun ia terima dengan senang 
hati!" ujar Bu Kepsek. "Ia memberikan ini, nomor hapenya! Ia berpesan, 
sampaikan isi hati dokter lewat SMS saja! Soalnya, dia tak bisa membaca tulisan 
tangan dokter!"

      "Niat baik, meski disampaikan dalam tulisan yang tak terbaca pun tetap 
tersirat, ya Bu!" sambut dokter.

      "Bahasa tulis seharusnya bisa mengurai hal-hal yang tak tersampaikan 
lewat lisan!" timpal Bu Kepsek. "Itu kalau isinya niat baik! Lain hal kalau 
berisi sebaliknya, bahasa tulis yang ruwet, kacau, sukar dibaca, justru 
dimaksud untuk menutupi isinya yang buruk itu!"

      "Maksud Bu Kepsek?" kejar dokter.

      "Niat buruk di balik 99% amburadulnya pengelolaan keuangan daerah di 
seluruh Tanah Air, ditutupi dengan laporan tertulis hingga DPRD yang bertugas 
mengontrol anggaran tak tahu persis ke mana saja sebenarnya dana mengalir!" 
jawab Bu Kepsek. "Tapi agar selalu dikira pintar, para anggota Dewan memberikan 
pengesahan asal ada kompensasinya--antara lain anggaran studi banding 
diloloskan!"

      "Saya kurang paham soal-soal begitu, Bu!" sambut dokter. "Meski, satu hal 
mengganggu benakku! Kalau 99% pengelolaan keuangan daerah buruk, jelas bisa 
merupakan penyebab kemiskinan, kebodohan, dan penderitaan mayoritas rakyat di 
wilayah pedalaman bukan saja tak kunjung menurun, malah secara kualitatif 
cenderung justru memburuk!"

      "Namun demikian jangan putus asa, Dokter!" tegas Bu Kepsek. "Usaha dokter 
membuat warga desa-desa sekitar pustu ini semakin sehat, terutama generasi 
mudanya, didukung kerja keras teman-teman guru meningkatkan daya dan kualitas 
nalar mereka, kita bisa berharap suatu hari kelak warga kawasan pedalaman ini 
bangkit berkat usaha, kemauan, dan kemampuan mereka sendiri! Bahkan sekalipun 
pemerintah tidur terus, atau tak henti menghabiskan anggaran negara hanya untuk 
kepentingan para pejabat daerah itu sendiri!"

      "Hal seperti itu saya pernah baca dalam sistem laissez faire, tanpa 
tersentuh bantuan pemerintah pun perekonomian rakyat selalu ikut menyumbang 
angka pertumbuhan ekonomi secara signifikan!" timpal dokter. "Justru ketika ada 
regulasi pemerintah, angka pertumbuhan ekonomi mereka turun! Soalnya, rakyat 
malah bingung dengan ketentuan regulasi, membuat mereka begini salah begitu 
salah! Produktivitas jadi menurun, diikuti penurunan kesejahteraan mereka!"

      "Bagaimana rakyat tak bingung jika harus terkait pengelolaan keuangan 
daerah yang amburadul!" tukas Bu Kepsek. "Apalagi kalau sengaja dibuat agar tak 
terbaca oleh rakyat, ada udang di balik regulasi bantuan itu!" 
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke