--- In [EMAIL PROTECTED], "Lia Octavia" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

*Hidup Yang Takkan Padamkan Mataku*

*(Sebuah Apresiasi)*



Oleh Lia Octavia







Pengembaraan kehidupan yang bergulir di atas muka bumi ini
selalu mengusung warna-warninya sendiri. Segala musim datang silih
berganti,
kehidupan dan kematian. Kesederhanaan dalam memandang hidup inilah yang
diterjemahkan oleh Rilke melalui matanya sehingga melahirkan karya-karya
besar yang tak terlupakan dalam dunia kesusasteraan.



Rainer Maria Rilke dilahirkan di Praha pada tanggal 4 Desember
1875. Sebagai seorang anak tunggal dari pasangan Josef Rilke dan Sophie
adalah sosok yang berperasaan halus dan tidak menyukai kekerasan.
Menjalani
masa kecil dan remaja yang tidak begitu menggembirakan  karena orang
tuanya
menghendaki Rilke menempuh pendidikan militer agar dapat mencapai
kedudukan
yang terhormat sebagai perwira, sebuah status sosial yang sebenarnya
didambakan orang tuanya. Tahun 1890 Rilke meninggalkan sekolah militer
dan
mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menjadi penyair. Kumpulan sajak
pertamanya "Leben Und Lieder"  (Kehidupan dan Nyanyian) diterbitkan pada
tahun 1894. Ia sempat kuliah di Fakultas Filsafat, Seni, Sejarah
Kesusasteraan dan Hukum di Universitas Karl-Ferdinand Di Praha. Namun
kemudian ia menuntut ilmu di Fakultas Filsafat di Munchen, Jerman, pada
tahun 1896. Di situlah Rilke memulai pengembaraannya menjelajah Eropa.



Rilke yang mahir berbahasa Ceko, Rusia, Perancis, Italia, dan
Denmark ini memungkinkannya untuk menerjemahkan karya-karya Tschechov,
Dostojevskij, Michelangelo, Buonarroti, Jens Peter Jacobsen, Elisabeth
Barret-Browning, Andre Gide dll ke dalam bahasa Jerman. Kumpulan
sajaknya
antara lain Neue Gedichte (1907), Der neuen Gedichte anderer Teil (1908)
dan
karyanya Duineser Elegien (Elegi Duino) pada tahun 1912 yang terdiri
dari
sepuluh elegi. Rilke meninggal dunia pada 29 Desember 1926 karena kanker
darah dan dimakamkan di lembah Rhoe di Rarogne, Swiss.



Penyair dan penulis besar yang dipandang sebagai salah satu
pujangga terbesar dalam kesusasteraan berbahasa Jerman modern ini
mengungkapkan segala bentuk pengembaraan hidup yang tidak terlepas dari
kesendirian, kegelisahan, tentang masa kecil, cinta, perempuan, termasuk
hubungannya dengan Tuhan dengan bahasa yang indah dan penuh perasaan.
Seperti bentuk ketakutannya dalam interaksi dengan sesama manusia yang
ditulisnya dalam *Alangkah Takutnya Aku*:



*Alangkah takutnya aku akan bahasa manusia.*

*Semua yang mereka ucapkan jelas nian:*

*Ini anjing dan itu rumah,*

*dan yang kini adalah awal yang situ akhir.*

* *

Bahwa segala bentuk permainan yang dimainkan manusia dalam berbagai
lakon
dengan berbagai maksud di dalamnya seringkali menakutkan dan
mengkhawatirkan
Rilke. Takut salah membaca. Takut salah menilai. Takut salah menduga.
Perilaku manusia yang hiruk pikuk membuat sabda alam yang memesona tak
terdengar. Sehingga akhirnya kebisuan dalam kesendirianlah yang
memenangi
segalanya.



*Aku selalu hendak menegur dan melawan: jagalah jarak!*

*Alangkah sukanya aku mendengar nyanyian alam.*

*Bila kalian sentuh: berubahlah mereka jadi kaku dan bisu.*

*Kalian membunuh segala yang ada.*



Kehidupan yang bergulir mengarungi jaman demi jaman sehingga
lingkaran tahun, bulan, dan hari meleleh pada setiap lembar kisah sebuah
perjalanan panjang yang dulu, masih, dan akan terus berlangsung hingga
ujung
lingkarannya yang mungkin takkan tercapai digambarkan Rilke dengan penuh
harapan dan optimisme untuk mencari jati diri dalam *Kujalani
Kehidupanku:
*



*Kujalani kehidupanku dalam renggat, lingkaran tahun*

*yang tumbuh membesar, menelusuri segalanya.*

*Lingkaran terakhir mungkin tak akan kucapai,*

*namun aku hendak mencobanya.*

* *

*Aku mengisari Tuhan, mengelilingi sang menara purba,*

*dan aku berkisar beribu tahun lamanya;*

*dan masih aku tak: seekor elangkah aku,*

*badai atau nyanyian unggul.*



*(20.9.1899, Berlin-Schmargendorf)*



Membaca musim gugur yang menggantikan musim panas adalah
hari-hari di mana segalanya yang terjadi takkan pernah sama lagi,
perubahan
yang senantiasa indah di mata mereka yang senantiasa dekat dengan
Tuhannya
dalam *Suatu Hari Di Musim Gugur:*



*Tuhan, saatnya tiba sudah. Sungguh indah*

*musim panas yang berlalu.*

*Gelarkan bayangmu di atas jam mentari,*

*Kirimkan angin bertiup di segala ladang.*



Serta mengubah setiap mata yang memandang cita yang abu-abu di balik
gugurnya daun-daun:



*Mereka yang tak berumah,*

*tak akan membangun lagi.*

*Mereka yang sendiri, akan lama menyendiri,*

*akan jaga, membaca, menulis **surat** panjang*

*dan akan melangkah hilir mudik di jalanan*

*gelisah, bila dedaunan beterbangan.*



Yang kemudian menggubah segenap perasaan dalam *Firasat* yang
menerjemahkan pepatah "there was calm before the storm":



*Aku laksana bendera dikelilingi **padang** terbuka.*

*Aku tahu badai akan datang dan mesti mengarunginya,*

*sementara di bawah sana, segalanya belum beranjak:*

*pintu-pintu menutup lembut dan di perapian sunyi cuma;*

*jendela-jendela belum bergeletaran dan debu masih berat sangat.*

* *

*Namun badai itu kurasai sudah dan aku gelisah bagai laut.*

*Kurentangkan tubuhku kutarik diriku,*

*aku tercampak sendirian*

*Dalam dahsyatnya badai.*

* *

*Musim gugur 1904 [?], Swedia [?] *



Masa kecil, sebuah masa dimana lingkaran hidup dimulai, sebuah
masa dimana gamang mengartikan peristiwa, yang seakan kecil dalam besar
dan
besar dalam kecil dalam padang kehidupan yang nyaris tak terbatas,
dimana
saat semua yang bingung kini begitu asing dalam setiap pertemuan,
perjumpaan
kembali dan perpisahan. Inilah *Masa Kecil* yang dilihat Rilke:



*Maka kita merasa sepi bagai penggembala*

*dan dibebani dengan kejauhan yang maha besar*

*dan bagaikan terpanggil dari jauh dan tersentuh,*

*dan perlahan-lahan bagaikan benang panjang baru*

*dibimbing menuju rangkaian peristiwa*

*yang kini begitu membingungkan kita. *



*(1.07.1906, **Paris**)*



Yang kemudian sebuah jawaban meyakinkan dari sebuah pencarian
jati diri dan merekatkan sebutan yang hingga kini disandang Rilke
sebagai *Sang
Pujangga*:



*Engkau menjauhkan diri dariku, wahai sang waktu.*

*Pukulan sayapmu merajam luka pada diriku.*

*Namun, apa gerangan gunanya suaraku?*

*bagaimana dengan malamku? dengan siangku?*

* *

*Aku tak punya kekasih, tiada rumah,*

*Dan kampung halaman pun tidak.*

*Segala hal ke haribaannya aku mengabdi*

*menjadi kaya dan membuatku sendiri sengsara.*

* *

*(Musin dingin 1905/06, Meudon)*



Seorang pujangga yang memimpikan segala, tempat hidup rekaan
bertumbuh, mekar dan berkembang dalam angan, sehingga hidup rekaan yang
bertumbuh itu nyaris memaksa Tuhan keluar dari persembunyiannya dalam
*Riwayat
Hidup Khayalan*:



*Mula-mula masa kecil, tiada batas, ingin segalanya*

*dan tanpa tujuan. Duhai hasrat bawah sadar.*

*Tiba-tiba hadir yang mengejutkan, larangan, sekolah, paksaan*

*dan jatuh terjerumus dalam godaan dan kekalahan.*

* *

*Pembangkangan. Yang dilenturkan jadi si pelantur sendiri,*

*dan membalas dendam terhadap orang lain karena ia*

*ditindas.*

*Dicintai, disegani, penyelamat, pegulat, pemenang*

*dan si penakluk, hantaman demi hantaman.*

* *

*Lalu sebatang kara dalam keluasan, ringan dan dingin.*

*Namun, jauh dalam sosok jelmaan itu*

*hembusan nafas melayang ke awal, masa yang silamÂ…*

* *

*Maka Tuhan bergeas keluar dari persembunyiannya.*

* *

*(Schoneck, 13 September 1923)*

* *

Hingga segala mimpi dan nyata kian membara dalam genggaman mata
Rilke, bersatu dalam segenap cita yang bersayap dan melambungkan tekad
ke
angkasa, dan *Padamkan Mataku*:



*Meski kau padamkan bara di mataku: aku masih melihatmu,*

*sumbatlah rapat telingaku: aku masih mendengarmu,*

*tanpa kaki aku masih sanggup mendatangimu,*

*mulut tiada aku masih dapat memanggilmu.*

*Potonglah lenganku, aku masih sanggup memegangmu*

*dengan jantungku yang tangan,*

*hentikan jantungku, maka otakku akan berdetak,*

*dan jika kau sulut otak itu,*

*kau bakal kupanggul dalam darahku.*

* *

*(Musim panas/musim gugur 1899)*



Sehingga walau hidup yang kini berlanjut tanpa Rilke, kini turut
berdetak di
dalam jantung dan denyut nafas Rilke yang abadi pada masanya sehingga
hidup
pun tidak pernah mampu untuk memadamkan syair-syairnya. Mata hati yang
selalu melihat hidup. *Hidup yang takkan pernah padamkan mataku.*





Jakarta, 17 November 2008 at 9.45 p.m.

Bibliography:

Rilke: Padamkan Mataku, Seri Puisi Jerman (Jilid I) (Penerbit Horison,
Jakarta, 2003)





*******
*   *   http://mutiaracinta.multiply.com


[Non-text portions of this message have been removed]

--- End forwarded message ---


Kirim email ke