Media Indonesia

Rabu, 19 2008 05:52 WIB

BRR Aceh-Nias Teliti Rumah yang tidak Ditempati


LHOK SEUMAWE--MI: Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias Regional 
II Lhokseumawe-Aceh Utara menurunkan tim verifikasi dan penertiban rumah mulai 
Desember mendatang. 

Hal itu terkait dengan adanya rumah korban tsunami yang tidak dihuni oleh 
pemiliknya sebanyak 30 unit di Desa Ulee Rubek, Seunuddon, Aceh Utara, ungkap 
Kepala Bagian Layanan Umum dan Informasi BRR Regional II Lhokseumawe Yulis 
Asbar, Selasa (18/11). 

Ia mengatakan, tim verifikasi bukan hanya bertugas di Desa Ulee Rubek, tetapi 
juga di sejumlah daerah lain untuk mendapatkan data jumlah rumah bantuan yang 
selama ini ditelantarkan pemiliknya. 

Mengenai 30 unit rumah yang tidak ditempati warga di Desa Ulee Rubek, Kecamatan 
Seunuddon, Aceh Utara, ia mengataan tim akan turun untuk mengecek kepastian 
permasalahannya. 

"Tim itu akan turun, memeriksa apa masalahnya sehingga mereka tak mau tempati 
rumah itu. Siapa yang salah dan lain sebagainya. Bila ditemukan kesalahan, 
bukan dari pihak kita, kita akan tindak itu," tegas Yuli. 

Saat ini, sebanyak 30 unit dari 50 unit rumah bantuan korban tsunami di Ulee 
Rubek tersebut tidak ditempati pemiliknya karena kata mereka beberapa fasilitas 
pendukung seperti mandi, cuci, dan kakus (MCK) belum tersedia. 

Menurut Kepala Desa Ulee Rubek Hasanusi, rumah tersebut juga dibangun asal 
jadi. "Akibatnya warga menolak menempati," kata Hasanusi beberapa waktu lalu. 

Menurut Yuli, rumah di Desa Ulee Rubek itu dibangun tahun 2005 lengkap satu 
paket dengan sarana mandi, cuci, dan kakus. Meski begitu, pihaknya terus 
menginventarisasi rumah korban tsunami yang tidak ditempati untuk kemudian 
dilakukan pengecekan ulang. (Ant/OL-03

++++
Media Indonesia

Selasa, 18 2008 12:59 WIB

25 WNI Asal Aceh Menunggu Ekseskusi Mati di Malaysia
Penulis : Amiruddin Abdullah

BANDA ACEH--MI: Sebanyak 25 orang Warga Negara Indonesia (WNI) asal Aceh, 
divonis hukuman mati oleh Mahkamah Tinggi Negara Malaysia, karena terlibat 
kasus peredaran narkotika jenis ganja (kanabis). Sekarang mereka hanya tinggal 
menunggu eksekusi ditiang gantungan. 

Dua orang di antaranya bahkan telah divonis Jumat (14/11), yaitu Zainuddin,40, 
asal Desa Pange, Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, dan Muhammad bin 
Idris,34, asal Desa Alue Parang, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur. 

General Coordinator Peace And Justice For Action (sebuah LSM masyarakat Aceh di 
Malaysia), Ibnu Sakdan bin Abubakar, Selasa (18/11) mengatakan, dari 25 
terpidana mati kasus narkotika itu 15 orang diantaranya kini meringkuk di kamar 
berukuran 2x4 khusus untuk hukuman gantung di penjara Sungai Buloh, dan 10 
lainnya penjara Selangor. 

Sebelumnya ke 25 terpidana tersebut didampingi pengacara setiap sidang di 
pengadilan. Tapi pengacara gagal membela mereka dari jeratan hukum negeri jiran 
itu. "Upaya keringanan hukuman telah dilakukan, namun pengacara Kartar Singh, 
gagal memberikan belaan mereka" kata Ibnu Sakdan. 

Untuk membebaskan mereka hanya ada satu cara yaitu pengampunan dari yang 
dipertuan agong Malaysia, sesuai permintaan pihak terhukum atau pemerintah 
Indonesia. 

Petugas sipir penjara sangat tegas mengawasi terpidana mati kasus barang haram 
itu. Selesai makan, piring nasi langsung diambil petugas penjara, tidak 
diberikan ikan bertulang, bahkan daging ayam pun dibersihkan dari tulang. Bila 
ingin merokok disediakan tempat khusus di bawah pengawasan. 

Pihak penjara memberikan waktu kepada mereka bertobat menurut agama yang 
dianut. "Gerak gerik selalu dipantau melalui layar monitor CCTV. Itu untuk 
mencegah terjadi bunuh diri" jelasnya. 

Dia menambahkan, ada 300 warga Aceh, lainnya sekarang masih menjalani 
pemeriksaan polisi (pedakwa) atau jaksa (pedakwa raya) karena kasus serupa. 
(MR/OL-

Kirim email ke