Syarat Diterimanya Ibadah

Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang 
disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Apa yang tidak 
disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak) sebagaimana sabda 
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka 
amalan tersebut tertolak.” [6]

Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa 
dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:
[a]. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
[b]. Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallaah, 
karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari syirik 
kepada-Nya. Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad 
Rasulullah, karena ia menuntut wajib-nya taat kepada Rasul, mengikuti 
syari’atnya dan meninggal-kan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya 
kepada Allah, dan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya 
dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” 
[Al-Baqarah: 112]
Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah. Wahua 
muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam
Syaikhul Islam mengatakan, “Inti agama ada dua pilar yaitu kita tidak beribadah 
kecuali hanya kepada Allah, dan kita tidak beribadah kecuali dengan apa yang 
Dia syari’at-kan, tidak dengan bid’ah.”
Sebagaimana Allah berfirman.
“Artinya : Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaknya 
ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam 
ber-ibadah kepada Rabb-nya.” [Al-Kahfi: 110]

Hal yang demikian itu merupakan manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat 
syahadat Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah.
Pada yang pertama, kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Pada yang kedua, 
bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya yang 
menyampaikan ajaran-Nya. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya 
serta mentaati perintahnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah 
menjelaskan bagai-mana cara kita beribadah kepada Allah, dan beliau Shallallahu 
‘alaihi wa sallam melarang kita dari hal-hal baru atau bid’ah. Beliau 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa semua bid’ah itu sesat. [7]

Bila ada orang yang bertanya: “Apa hikmah di balik kedua syarat bagi sahnya 
ibadah tersebut?”
Jawabnya adalah sebagai berikut:
[1]. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya 
semata. Maka, beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada-Nya 
adalah kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” 
[Az-Zumar: 2]
[2]. Sesungguhnya Allah mempunyai hak dan wewenang Tasyri’ (memerintah dan 
melarang). Hak Tasyri’ adalah hak Allah semata. Maka, barangsiapa beribadah 
kepada-Nya bukan dengan cara yang diperintahkan-Nya, maka ia telah melibatkan 
dirinya di dalam Tasyri’.
[3]. Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama bagi kita[8] Maka, orang 
yang membuat tata cara ibadah sendiri dari dirinya, berarti ia telah menambah 
ajaran agama dan menuduh bahwa agama ini tidak sempurna (mempunyai kekurangan).
[4]. Dan sekiranya boleh bagi setiap orang untuk beribadah dengan tata cara dan 
kehendaknya sendiri, maka setiap orang menjadi memiliki caranya tersendiri 
dalam ibadah. Jika demikian halnya, maka yang terjadi di dalam ke-hidupan 
manusia adalah kekacauan yang tiada taranya karena perpecahan dan pertikaian 
akan meliputi ke-hidupan mereka disebabkan perbedaan kehendak dan perasaan, 
padahal agama Islam mengajarkan kebersamaan dan kesatuan menurut syari’at yang 
diajarkan Allah dan Rasul-Nya.



      

Kirim email ke