Bus Muskit ini bener-bener tidak mengikuti perkembangan di RI.

Sudah lama sekali istilah ABRI diganti menjadi TNI.



salam,


radityo


--- In zamanku@yahoogroups.com, "Hafsah Salim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mengapa Pegawai Negeri & ABRI Tak Boleh Berpoligamy ???
>                                       
> Pemerintah RI sudah lama mengetahui, bahwa berpoligamy membawa beban
> bagi negara dan kerusakan keluarga pegawai negeri dan anggauta ABRI
> akan berakibat kepada gangguan serius pada system kenegaraan.
> 
> Study mengenai Poligamy sudah berlangsung lama di Indonesia dan juga
> dilakukan oleh bagian Psikologi Mabes ABRI.  Dari hasil penelitian
> inilah kemudian ditentukan bahwa Pegawai Negeri dan ABRI dilarang
> melakukan Poligamy.  Siapapun yang ditemukan melakukan poligamy akan
> langsung dipecat dengan tidak hormat.
> 
> Keputusan pemerintah yang melarang Poligamy berkaitan dengan pembinaan
> masa depan generasi, keselamatan dan keamanan negara itu sendiri.
> 
> Jadi, apa yang saya tulis sama sekali tidak berkait dengan
> keberpihakan kepada anti-poligamy.
> 
> Bagi saya sebagai umat Islam, kalo memang poligamy membawa kebaikan
> sesuai ajaran Islam, mengapa pegawai negeri dan ABRI dilarang
berpoligamy.
> 
> Sangatlah rancu bahwa pemberlakuan hukum dinegara ini dilakukan dengan
> diskriminasi karena tidak seharusnya hukum yang berlaku bagi satu
> orang berbeda dari orang lainnya.
> 
> Sudah waktunya umat Islam, Pegawai Negeri, maupun ABRI untuk menuntut
> pemerintah melakukan pemberlakuan yang sama tanpa membedakan apakah
> dia pegawai negeri atau bukan pegawai negeri, apakah dia ABRI ataupun
> bukan ABRI, maka hukum harus berlaku sama dalam kaitan pemberlakuan UU
> Perkawinan.
> 
> Kalo memang setuju dengan Poligamy, maka berlakukanlah keseluruhannya
> secara sama yaitu membolehkan Poligamy untuk segala lapisan masyarakat
> tanpa membedakan professi-nya dimana dia bekerja.
> 
> Ny. Muslim binti Muskitawati.
>


Kirim email ke