http://www.sinarharapan.co.id/berita/0811/27/sh04.html

Sejarah
Saat Jawa-China Memiliki Musuh Bersama

Oleh
Tutut Herlina/
Sulung Prasetyo 



JAKARTA - Tamtana terlihat agak emosi. Dengan ucapan cadel, laki-laki asal 
Lasem, Cirebon itu mengkritik seorang perempuan berpendidikan tinggi yang baru 
saja mengemukakan pendapatnya, tentang sikap warga Tionghoa yang selalu 
mementingkan diri sendiri (opurtunis). Tudingan ini juga sering dilontarkan 
warga pribumi lainnya.  "Saya tidak setuju orang China dikatakan selalu dekat 
penguasa. Berapa banyak, sih orang China yang dekat Belanda? Seperti juga zaman 
Orde Baru (Orba), yang dekat kekuasaan hanya segelintir, tapi semuanya jadi 
korban tragedi 1998. Memangnya, Anda tidak mementingkan diri sendiri?" ujar 
Tamtana di tengah-tengah diskusi bedah buku berjudul Perang Sepanjang 
1740-1743, Tionghoa-Jawa Lawan VOC, di salah satu gedung di Universitas 
Indonesia (UI), Selasa (25/11) lalu.  Cap opurtunis itu memang sering membuat 
warga Tionghoa gerah. Cap itu pada akhirnya membuat jurang pemisah yang lebar 
antara China dan pribumi. 

Padahal jika ditelusuri, riwayat kehidupan orang-orang Tionghoa tak melulu 
seperti itu. Misalnya, cerita pemberontakan kaum Tionghoa di Jepara, tahun 1693 
lalu. Mereka justru ditumpas dengan kejam melalui cara pembunuhan 
besar-besaran. Padahal, perang tersebut dianggap tak menghasilkan satu pun 
pihak yang menang (Rickleft, 1981). Dalam masa tertentu, China dan Jawa bahkan 
sempat bersatu. Persatuan itu dilatarbelakangi persamaan nasib, sama-sama 
menderita dan tertindas akibat penjajahan Belanda. Kejadian perang yang 
melibatkan kaum Tionghoa di Nusantara juga terjadi antara tahun 1740-1743, 
ketika Kapitan Sepanjang yang dikenal sebagai Khe Panjang melakukan 
pemberontakan terhadap kekuasaan VOC. 


Menurut penuturan Darajadi, pengarang buku tersebut, perang Sepanjang diawali 
saat hubungan antara kaum Eropa dan non-Eropa makin memanas di Batavia, tahun 
1740. Beberapa perwira kemudian ditangkap, termasuk antek-antek di pihak 
pribumi. Semenjak kejadian tersebut, kaum non-Eropa di Batavia senantiasa 
diperlakukan dengan rasa curiga. Pada Oktober 1740, terjadi serangan terhadap 
VOC dan sekelompok orang Tionghoa. Beberapa orang Eropa terbunuh kala itu. Oleh 
karena kejadian tersebut, langkah represif segera dilakukan VOC dengan melucuti 
seluruh warga Tionghoa di dalam Kota Batavia. Pada tanggal 9 Oktober, keadaan 
makin memanas, dan pembantaian besar-besaran dilakukan terhadap etnis Tionghoa 
di Batavia. "Sekitar 10.000 orang Tionghoa tewas pada kejadian tersebut," ujar 
Darajadi. 


Akibat kejadian itu, seseorang pimpinan informal Tionghoa di Batavia, Kapitan 
Sepanjang kemudian mengorganisasi perlawanan terhadap VOC. Perlawanan ini 
kemudian terus merembet ke sepanjang pantai utara Jawa. Di awal tahun 1741, 
daerah Juwana, Demak, dan Rembang, jatuh ke tangan para Tionghoa yang 
memberontak. Banyak penduduk Jawa kemudian menaruh simpati atas upaya tersebut. 
Beberapa pangeran Jawa seperti Pangeran Mangkubumi (yang sekarang dikenal 
sebagai Hamengku Buwono I) dan R Mas Said (yang sekarang dikenal sebagai 
Adipati Mangkunegara I), turut membantu perjuangan kaum Tionghoa tersebut. 

Lawan Penindasan 
Bulan Agustus 1741, pasukan Tionghoa di bawah Kapiten Sepanjang bersama pasukan 
Mataram menyerang benteng VOC di Kertasura. Dilanjutkan dengan tanggal 24 
Agustus 1742, R Mas Said bersama Singseh, tokoh perlawanan Tionghoa juga, 
mengadang pasukan VOC di bawah Kapten Gerrit Mom di Desa Tanjung, Jepara. 
Pemberontakan tersebut kemudian mereda pada tahun 1743, karena para pemimpin 
Jawa telah diberi kekuasaan atas lahan-lahan baru. Kapitan Sepanjang terus 
melakukan misi perjuangannya. Terakhir, ia terlihat pada tahun 1758 di Istana 
Gusti Agung Bali. Dengan tetap mempertahankan perlawanan terhadap penindasan 
yang pernah terjadi pada etnis mereka. 


Riwayat sejarah tersebut jelas kalau etnis Tionghoa sebenarnya juga berisi 
bermacam-macam pribadi pula. "Koalisi Jawa dan Tionghoa bisa terjadi kalau 
belajar dari kasus sejarah ini," kata Didi Kwartanada, pengamat sejarah pada 
kesempatan serupa. Sama juga dengan kebhinekaan yang ada di Indonesia, etnis 
Tionghoa ternyata memiliki posisi sejarah yang tak jauh berbeda dengan rakyat 
pribumi umumnya. Hanya sayangnya, posisi tersebut masih terasa samar hingga 
kini. 
Dari riwayat seperti itulah, Tamtana berkata, Tionghoa-Jawa seharusnya tak lagi 
dipecah-pecah. Mereka harus mulai bersatu. Sebab, meski masa penjajahan telah 
berlalu, bukan berarti penderitaan dan ketertindasan sudah berakhir. 


"Jika dulu, Jawa-China bersatu menghadapi musuh Belanda, sekarang ini kita juga 
masih punya musuh bersama, yakni kebodohan dan kemiskinan. Ayo, kita 
bersama-sama memerangi itu, jangan hanya melihat-lihat. Setiap pribadi juga 
punya tanggung jawab sosial," katanya bersemangat.  Sayangnya, dia tidak 
menunjuk siapa pihak yang telah menciptakan kebodohan dan kemiskinan itu. 
Karena bagaimanapun juga, kebodohan dan kemiskinan tidak datang dengan 
sendirinya. Ia eksis karena adanya sebuah sistem yang mendukung segelintir 
elite kaya dan yang mengabaikan puluhan juta rakyat yang miskin.

Kirim email ke