http://pejalanjauh.com/2006/02/07/raksasa-berkaki-lempung/

Aidit lahir di kampung Pagaralang, Tanjungpandan, pulau Belitung, dengan
nama lengkap Ahmad Aidit. Informasi yang didapat dari biografi Aidit di
majalah bulanan PKI berbahasa Inggris, Review of Indonesia vol 7, dan dari
memoir Sobron, adik kandung Aidit, diketahui Aidit lahir pada 30 Juli 1923.
Tetapi informasi ini sukar dikonfirmasi akurasinya. Itulah sebabnya Jacques
Leclerc, dalam esai panjangnya di majalah Prisma edisi Juli 1982, lebih
memilih jalan aman dengan menulis: Aidit lahir di awal tahun duapuluhan.

Nama Aidit diambil dari nama belakang ayahnya, Abdullah Aidit. Abdullah
adalah seorang bekas kuli pelabuhan yang kemudian diangkat menjadi mantri
kehutanan, pegawai menengah pada Jawatan Kehutanan pemerintah Hindia
Belanda. Ia dikenal sebagai seorang muslim yang taat. Ketaatannya itu
tercermin pada dua hal: (1) ia menamai semua anaknya dengan nama yang
ke-Arab-arab-an dan (2) keterlibatannya secara aktif sebagai pendiri
Perguruan Nurul Islam, sebuah organisasi kemasyarakatan Islam yang
kecenderungannya dekat dengan Muhammadiyah.

Jabatan Abdullah plus ketaatannya sebagai seorang muslim berikut aktivitas
sosialnya yang kencang membikin Abdullah punya posisi sosial yang terpandang
di Tanjungpandan, ibu kota Belitung. Itu pulalah yang membawa Abdullah
"mampir" di parlemen (baik pada masa DPR-RIS atau DPRS-RI) sebagai utusan
daerah Belitung sekaligus mewakili angkatan '45. karirnya di parlemen
berhenti ketika Abdullah memutuskan untuk mengundurkan diri pada 16 Juni
1954.

Aidit adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Adiknya yang pertama
bernama Rosiah. Dialah perempuan satu-satunya dari tujuh bersaudara. Rosiah
sudah lama meninggal. Ia meninggal di Mekkah ketika sedang menunaikan ibadah
haji. Dua anak lelaki lainnya sudah meninggal sewaktu mereka masih kecil.
Jadi, hanya lima lelaki anak Abdullah yang sempat merasakan umur panjang.
Berturut-berturut setelah Aidit mereka adalah Ahmad, Basri, Murad, Sobron
dan, terakhir, Asahan Sulaiman.

Aidit dididik langsung kedua orangtuanya. Seperti teman-teman sebayanya yang
lain, Aidit juga belajar mengaji. Seturut pengakuan Sobron, Aidit khatam
mengaji sebanyak tiga kali. Ini bukan angka sepele. Dibutuhkan ketekunan
yang tak main-main. Pertama kali Aidit khatam, sebuah pesta syukuran pun
diadakan. Semua tetangga tak lupa dikirimi makanan dan penganan. Ia diarak
keliling kampung. Meriah.

Aidit punya banyak kelebihan. Secara fisik ia tak terlampau kekar. Di
banding adik-adiknya, Aidit yang terkecil dan tependek badannya. Tapi itu
semua ditutupi dengan kebiasaannya berlatih tinju. Seorang anak yang
terbiasa mengejeknya pernah merasakan bogem mentah Aidit. Hingga kini,
Murad, salah seorang adiknya, masih menyimpan sejumlah potret Aidit yang
sedang berlatih tinju. Lengkap dengan atributnya.

Sebagai anak, Aidit tahu betul apa artinya menjadi anak sulung. Ayahnya
memang bukan orang miskin. Tapi untuk disebut kaya jelas jauh panggang dari
api. Itulah pasal yang membikin Aidit kerap memutar otak bagaimana caranya
agar bisa membantu keuangan orang tuanya, minimal tidak merepotkan mereka.
Pilihannya adalah berjualan, berjualan apa saja. Dari mulai kerupuk hingga
buah nanas yang telah dikerat-kerat. Setiap ada pertandingan sepakbola di
kampungnya Aidit dipastikan ada di lapangan. Bukan untuk menonton. Tapi
untuk berjualan.

Aidit dikenal juga sebagai anak yang pintar. Semua tahu ia adalah kutu buku.
Jika menemani ayahnya berjaga di tepi hutan, Aidit memilih berdiam di sebuah
rumah jaga. Di sanalah ia bersemayam. Tenggelam dengan bacaan-bacaan kelas
berat. Literatur-literatur Marxis seringkali dibacanya di sana.

Asahan, adik Aidit yang terkecil, punya kesaksian ihwal minat belajar
abangnya yang luar biasa. Ketika pada 1952 pakansi ke rumahnya di Belitung,
Asahan menemukan segumpal tumpukan kertas tebal yang diikat. Ikatan karton
seberat dua kilogram itu dibukanya. Isinya beragam diploma, macam-macam
piagam yang diperoleh Aidit dari kursus-kursus yang ditempuhnya hingga tamat
dari berbagai ragam ilmu pengetahuan. Dalam ingatan Asahan, dalam ikatan
kertas itu terdapat piagam kursus bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman,
Ilmu Hitung Dagang, Mengetik Cepat hingga Stenografi.

Di Tanjungpandan Aidit menyelesaikan sekolah di HIS dan Sekolah Dagang
Menengah Pertama. Karena di Belitung sama sekali belum ada sekolah lanjutan,
Aidit memohon kepada ayahnya untuk diijinkan bersekolah ke Batavia.
Permohonan dikabulkan. Pada 1936, Aidit berangkat ke Batavia dengan ditemani
salah seorang pamannya, A. Rachman.

Di Batavia, Aidit langsung tertarik dengan dunia pergerakan. 1939 Aidit
bergabung dengan Gerindo, sebuah organisasai kepemudaan berhaluan kiri
pimpinan Amir Syarifuddin. Selama pendudukan Jepang, Aidit terlibat dalam
sejumlah aktivitas berbahaya dengan bekerja pada organisasi perlawanan bawah
tanah. Pada periode itulah ia berkenalan dengan pemuda-pemuda radikal
lainnya macam Chairul Saleh, Wikana, A.M. Hanafi. Markas mereka ada di
sebuah gedung yang beralamat di Menteng 31. Dengan segera, tempat itu
menjadi salah satu pusat perlawanan para pemuda radikal yang paling massif
di Batavia. Sejumlah kursus-kursus politik diadakan. Mentornya adalah
pentolan-pentolan pergerakan. Dari mulai Soekarno, Hatta hingga Syahrir.

Di awal-awal kemerdekaan, Aidit tertangkap oleh tentara Jepang. Bersama
sejumlah tahanan politik lainnya, Aidit dibuang ke pulau Onrust yang
merupakan salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Seribu. Lewat negosiasi
yang alot, Aidit bersama tananan lainnnya akhirnya dibebaskan.

Aidit menghabiskan sebagian besar waktunya pada periode 1946-1948 dengan
berkutat dalam berbagai aktivitas Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada
kongres PKI ke-IV, Aidit terpilih menjadi anggota Central Comitee (CC) PKI.
Dalam sidang-sidang KNIP, Aidit dipilih sebagai ketua Fraksi Komunis.
Menjelang Madiun Affair 1948, Aidit diserahi tugas untuk membidangi bidang
Agitasi dan Propaganda (Agitprop). Di bawah bimbingan Alimin, Aidit bahu
membahu bersama Lukman menerbitkan Bintang Merah, berkala terbitan PKI yang
punya arti strategis.

Aidit sempat pula singgah beberapa lama di Yogyakarta. Di sana ia bisa
leluasa menjumpai kedua orangtuanya yang beberapa tahun sebelumnya memang
telah menetap di Yogyakarta. Selama di Yogya, Abdullah, ayah Aidit, terlibat
dalam sejumlah front pertempuran dengan tentara pendudukan Belanda. Aidit
sendiri sibuk dengan kegiatannya di masrkas kelompok sayap kiri di bilangan
Gondolayu, Yogyakarta. Di sanalah para pemuda radikal memusatkann
aktivitasnya.

Salah satu sumber informasi ihwal kegiatan Aidit di Gondolayu bisa dilihat
dalam salah satu paragraf dalam memoir penyair Sitor Situmorang berjudul
Sitor Situmorang, Seorang Sastrawan 45, Penyair Danau Toba. Di sana, Sitor
mengisahkan betapa nama Aidit demikian menonjol dalam kegiatan-kegiatan
pemuda radikal di Gondolayu.

Pada waktu terjadi pembersihan yang dilakukan Kabinet Hatta pada semua
tokoh-tokoh penting PKI akibat persitiwa Madiun Affair 1948, 9 orang dari
total 21 orang anggota CC PKI 9 terbunuh. Aidit bersama Lukman, Nyoto dan
Sudisman berhasil lolos dari pembunuhan. Aidit melarikan diri ke Vietnam
Utara. Kabar yang dihembuskan PKI menyebutkan, Aidit sempat terlibat dalam
peperangan gerilya di Vietnam dan membantu perjuangan Ho Chi Minh di sana.

Pada pertengahan 1950 Aidit kembali ke Indonesia. Pada saat itu PKI sedang
menata kembali roda organisasi yang nyaris mati akibat pembersihan pasca
Madiun Affair. Tak berselang lama ia terpilih menjadi Sekretariat Jenderal
CC PKI. Bersama kawan-kawan seangkataannya, Aidit berhasil menyingkirkan
generasi tua PKI yang dianggap terlalu lembek, elitis dan pragmatis.
Angkatan tua macam
Tan Ling Djie dan Alimin disingkirkan. Ketika PKI mengadakan kongresnya pada
1954, PKI betul-betul jatuh ke tangan kader dari generasi muda. Pada kongres
itulah, Aidit terpilih menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKI. Ia terus
menduduki jabatan tertinggi partai itu hingga saat kehancuran PKI pada 1965
terjadi. Aidit adalah Sekjen PKI yang termuda. Sekaligus juga yang terakhir.

Pengaruh dan jasa Aidit terpampang selebar-lebarnya. Di tangan Aidit, PKI
menjelma menjadi sebuah partai yang disegani. PKI menjadi partai komunis
terbesar ketiga di dunia setelah Russia dan Cina. Itu artinya, di tangan
Aidit, PKI menjadi partai komunis terbesar di negara non-komunis.

Melebihi tokoh-tokoh partai lainnya, Aidit muncul sebagai seseorang yang
paling bertanggungjawab dalam mengarahkan penerapan ideologi
Marxisme-Leninisme dalam konteks kehidupan di Indonesia. Ia juga
bertanggungjawab sepenuhnya atas pelbagai tindakan yang ditempuh PKI dalam
rangka mengarahkan partai untuk mengambil cara-cara yang dipandang relevan
untuk diambil, tentu saja dengan memerhitungkan ragam rintangan yang
melintang.

Ia memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang tak dimiliki oleh tokoh-tokoh
penting lain, misalnya Tan Malaka yang terpaksa harus menghabiskan banyak
waktu dalam pelarian di luar negeri atau juga Musso yang lama tinggal di
Sovyet. Kenyataan betapa Aidit di masa-masa akhir penjajahan Belanda,
penjajahan Jepang dan awal-awal revolusi tetap berada di Indonesia,
persisnya di Jawa, membikin ia punya pembacaan dan pengetahuan yang cukup
memadai terhadap situasi dan kondisi tanah air. Aidit juga berhasil
membangun sebuah jaringan kerja yang solid dan sistematis dengan sejumlah
kolega, sesuatu yang tentu saja kurang dimiliki oleh Musso dan Tan Malaka.

Tetapi tak sedikit orang yang menilai Aidit punya sejumlah "cacat" dalam
menakhodai PKI. Sebuah kritik bersifat antropologis datang dari Peter Edman,
penulis buku Communism A La Aidit: The Indonesian Communist Party Under D.N.
Aidit 1950-1965. Kritik Edman berporos pada kegagalan Aidit untuk memahami
kebudayaan Jawa. Statusnya sebagai orang yang dilahirkan di Sumatera bukan
hanya menghalang-halangi Aidit untuk menerima cara-cara Soekarno yang
merupakan seorang Jawa, melainkan juga menyebabkan dirinya gagal memahami
persoalan-persoalan politik, sosial dan budaya yang dihadapi PKI di tanah
Jawa, tempat di mana partai yang dipimpinnya memiliki massa terbesar
sekaligus juga tempat di mana gagasan-gagasan dirinya diujicobakan.

Kegagalannya untuk mempraksiskan secara sempurna ide landreform dimulai
ketika Aidit gagal memahami kenapa muncul respon yang beragam atas kampanye
landreform yang diusungnya. Reaksi berlebihan dan tidak cerdas dari
kader-kader PKI terhadap aksi perlawanan orang-orang Jawa (yang dikomandoi
oleh para tuan tanah dan para kyai pemilik kpesantren di Jawa Tengah dan
Jawa Timur), sebut Peter Edman, "…memberikan gambaran betapa atau naifnya
para pemimpin partai dalam memeluk keyakinan bahwa kesadaran kelas sudah
cukup memadai untuk menyatukan para petani agar bersama-sama melakukan
perlawanan terhadap para tuan tanah."

Aidit juga dituding bertanggungjawab atas terjerumusnya PKI ke dalam
avonturisme politik yang berbahaya. Dukungan Aidit terhadap kudeta yang
dilakukan Kolonel Untung pada pengujung September 1965 jelas-jelas menjadi
blunder yang membikin PKI mengalami kehancuran untuk selama-lamanya. Padahal
jelas, partai belum siap melakukan sebuah pertarungan bersenjata. Lain hal
jika, misalnya, ide Angkatan ke-V yang berisi tuntutan agar para buruh-tani
dipersenjatai telah terealisir.

Di kalangan internal PKI sendiri ada suara yang menyalahkan Aidit sebagai
orang yang "lemah hati". Inti dakwaan ini terletak pada ketidakberanian
Aidit untuk menyerukan kepada segenap kader dan simpatisan partai untuk
melakukan perlawanan total terhadap siapapun yang hendak menghancurkan
partai. Aidit dituding sebagai pemimpin salon. Kenyataan bahwa Aidit adalah
seorang kutu buku dan pecinta musik-musik klasik yang lembut dijadikan salah
satu dasar untuk membenarkan dakwaan ini.

Semua kekurangan-kekurangan itulah yang menjadi sebab kenapa Jacques Leclerc
pernah menyindir betapa PKI di bawah kepemimpinan Aidit memang berhasil
menjadi raksasa, tetapi "raksasa yang berkaki lempung"! (Bersambung)

Kirim email ke